Dorong RUU EBT, Simak Komitmen Dirut Pertamina Nicke Widyawati
Rancangan Undang-Undang (RUU) mengenai Energi Baru Terbarukan (EBT) kini tengah digodok oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Aprilia Ciptaning
Author


Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2020. Rapat tersebut membahas tugas dan fungsi ISC sebagai pengganti Petral untuk impor minyak mentah dan BBM, rencana PT Pertamina (Persero) dalam penggunaan BBM ramah lingkungan serta progres dan proyeksi keterjaminan penyediaan LPG 3kg kepada rakyat pada 2020-2024 sesudah restrukturisasi PT Pertamina (Persero) Subholding Pemasaran. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA – Rancangan Undang-Undang (RUU) mengenai Energi Baru Terbarukan (EBT) kini tengah digodok oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Seperti diketahui, RUU ini tercantum dalam program legislasi nasional (Prolegnas) 2021 yang ditargetkan tuntas tahun ini.
Terkait hal ini, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mendorong agar proses regulasi ini dipercepat.
Menurutnya, beberapa tren di sektor oil, gas, dan energi mengalami akselerasi, terutama untuk low carbon focus seiring dengan tuntutan green financing.
“Sembari menunggu RUU dirampungkan, Pertamina akan melanjutkan langkah-langkah dalam pengembangan EBT,” mengutip Nicke dalam keterangan tertulis, Jumat, 30 April 2021.
Pertama, pihaknya memanfaatkan potensi kelapa sawit untuk berinvestasi dalam proyek Green Refinery di Plaju, Dumai dan Cilacap.
Garapan proyek ini akan menghasilkan Biodiesel 30 dan Green Diesel D-100 dengan bahan baku minyak sawit, minyak terbarukan lainnya, dan minyak jelantah.
Kedua, Pertamina juga mengembangkan proyek biomassa menjadi biogas dan bioethanol di Sei Mangkei.
- Keamanan Vaksin Sinopharm dalam Kadar yang Bisa Ditoleransi, Efikasi 78 Persen
- Laba Bersih Maybank Susut Jadi Rp380,05 Miliar pada Kuartal I-2021
Dengan potensi besar mikroalga di perairan Indonesia, kata Nicke, hal ini mampu memberikan Algae terbesar ke-3 di kawasan ekonomi Asia Pasifik.
Dalam hal ini, Pertamina akan menjadikan mikroalga sebagai bahan untuk memproduksi Biofuel.
Saat ini, Nicke mengaku telah mengembangkan fasilitas 5000 liter microalga photobioreactor dan berupaya mencapai skala komersial budidaya dan produksi empat tahun mendatang.
Selanjutnya, dalam mengembangkan EBT, Pertamina telah memanfaatkan energi panas bumi di Indonesia dengan kapasitas total 1,8 Giga Watt (GW).
Keempat, perusahaan pelat merah ini memanfaatkan green hydrogen dengan listrik di area geothermal dengan total potensi 8.600 kg per hari.
Green Hydrogen sendiri akan dimulai di Pembangkit Geothermal Ulubelu untuk digunakan di pabrik Polypropylene Kilang Plaju.
Kelima, Pertamina akan berkolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya, yaitu Mining and Industry Indonesia atau MIND ID, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, dan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk untuk melakukan pengembangan ekosistem dari electric vehicle (EV) baterai.
Keenam, Nicke berkomitmen bakal mengoptimalkan pemanfaatan gas untuk kebutuhan transportasi, rumah tangga, dan industri.
Saat ini, ungkapnya, Pertamina telah mengembangkan infrastruktur gas yang terintegrasi dengan Floating Storage Refinery Unit (FSRU) dan lebih dari 10.000 km pipa gas di Indonesia.
Selain itu, Pertamina juga memperkuat gasifikasi di kilang dan pembangkit, termasuk regasifikasi di Cilacap, Terminal Teluk Lamong, LNG Badak, dan 52 pembangkit lainnya.
“Untuk mendukung pembangkit listrik PLN, Pertamina akan mengonversi pembangkit listrik yang masih menggunakan diesel beralih menjadi gas,” tambahnya.
Selain itu, perusahaan holding energi ini juga berkomitmen meningkatkan pemanfaatan EBT melalui solar power plant di berbagai area operasi.
Terakhir, untuk pendekatan inklusif Circular Carbon Economy, Pertamina akan mengaplikasikan Carbon, Capture, Use and Storage atau CCUS pada beberapa lapangan migas untuk meningkatkan produksi. (RCS)
