Berkah Pandemi, Peredaran Uang Palsu Turun 5 Persen
JAKARTA – Salah satu berkah selama pandemi COVID-19 adalah menurunnya tingkat peredaran uang palsu. Bank Indonesia (BI) mencatat peredaran uang palsu turun 5% dengan rasio 5 lembar dari 1 juta lembar uang rupiah asli. “Ada penurunan uang palsu yang ditemukan BI, jika dibandingkan periode 2019,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim dalam webinar di […]

Ananda Astri Dianka
Author


Karyawan menghitung mata uang Rupiah di salah satu tempat penukaran uang atau Money Changer di kawasan Melawai, Jakarta, Senin, 9 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA – Salah satu berkah selama pandemi COVID-19 adalah menurunnya tingkat peredaran uang palsu. Bank Indonesia (BI) mencatat peredaran uang palsu turun 5% dengan rasio 5 lembar dari 1 juta lembar uang rupiah asli.
“Ada penurunan uang palsu yang ditemukan BI, jika dibandingkan periode 2019,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim dalam webinar di Jakarta, Rabu, 14 April 2021.
Dalam catatan BI, pada periode 2019 lalu rasio uang palsu masih 9 lembar dari 1 juta lembar uang rupiah asli yang beredar. Sementara pada kuartal I-2021, peredaran uang palsu telah berkurang menjadi 2 lembar dari 1 juta uang yang beredar.
“COVID-19 berdampak terhadap penurunan uang palsu yang beredar di masyarakat,” terangnya.
Hal ini juga berkaitan dengan tingginya peningkatan transaksi digital selama pandemi. Alhasil, penggunaan uang kertas tak lagi sebanyak dulu.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Terbukti nilai transaksi Uang Elektronik (UE) pada Desember 2020 mencapai Rp22,1 triliun atau tumbuh 30,44%. Lebih lanjut, volume transaksi digital banking pada Desember 2020 menyentuh angka 513,7 juta transaksi, atau tumbuh 41,53%.
Sementara nilai transaksi digital banking tercatat mencapai Rp2.774,5 triliun, tumbuh 13,91%.
Melihat tren ini, Gubernur BI, Perry Warjiyo memperkirakan transaksi digital banking sepanjang 2021 akan mencapai Rp32.206 triliun atau Rp32 kuadriliun.
Dibanding tahun lalu, perkiraan tersebut lebih tinggi 19,1% dibandingkan dengan pada 2020 yang sebesar Rp27.036 triliun.
“Rupanya tahun lalu mencapai Rp27.036 triliun dan tahun ini diperkirakan Rp32.206 triliun. Ini jauh lebih tinggi dari nominal PDB kita,” katanya dalam acara bertajuk Membangun Optimisme Pasca Pandemi COVID-19 di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2021. (RCS)
