Steroid Bisa Bantu Selamatkan Pasien, WHO Perbarui Pedoman Perawatan COVID-19
- SEOUL – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbarui pedomannya dalam merawat penderita COVID-19. Hal itu dilakukan menyusul hasil uji klinis yang...

AZ
Author
SEOUL – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbarui pedomannya dalam merawat penderita COVID-19. Hal itu dilakukan menyusul hasil uji klinis yang menunjukkan steroid murah dan mudah didapat membantu menyelamatkan pasien sakit kritis.
Hasil uji coba yang diumumkan pada Selasa 16 Juni 2020 itu menunjukkan deksametason, yang sudah digunakan sejak tahun 1960-an. Dalam mengurangi peradangan pada penyakit seperti radang sendi, memangkas tingkat kematian. Y
ang jumlahnya sekitar sepertiga di antara pasien COVID-19 yang sakit parah yang dirawat di rumah sakit.
Pedoman klinis WHO untuk merawat pasien yang terinfeksi virus corona baru ditujukan untuk dokter dan profesional medis lainnya.
Mereka berupaya menggunakan data terbaru untuk memberi tahu dokter tentang cara terbaik untuk mengatasi semua fase penyakit. Muldai dari pemeriksaan hingga pasien dinyatakan pulih.
Meskipun hasil penelitian deksametason masih dini, para peneliti menyarankan agar obat harus segera dipergunakan sebagai standar perawatan pada pasien.
- Bangun 38 Jembatan Gantung, PUPR Anggarkan Rp179,4 Miliar
- Pariwisata Bali Dibuka Bertahap Mulai Agustus 2020
- Perhatikan, Ini Cara Benar Menyiram Kloset Untuk Cegah COVID-19
- Pertamina Tegaskan Tetap Sediakan Premium dan Pertalite
- Gojek Latih 11 Startup Kembangkan Strategi Bisnis
Untuk pasien yang menggunakan ventilator, pengobatan tersebut terbukti mengurangi kematian sekitar sepertiga. Sementara itu, untuk pasien yang hanya membutuhkan oksigen, mortalitas turun sekitar seperlima, menurut temuan awal yang dibagikan kepada WHO.
Maanfaat Obat
Manfaat obat itu hanya ditemukan pada pasien yang menderita sakit COVID-19 parah dan tidak terjadi pada pasien dengan penyakit ringan.
Berita positif itu muncul ketika infeksi virus corona meningkat di beberapa tempat termasuk Amerika Serikat. Hal itu terjadi ketika Beijing membatalkan sejumlah penerbangan untuk membantu mengatasi wabah baru di ibukota China itu.
“Ini adalah pengobatan pertama untuk mengurangi angka kematian pada pasien COVID-19 yang membutuhkan dukungan oksigen atau ventilator,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan yang dikutip Reuters. Badan itu mengatakan mereka menantikan analisis data lengkap dari penelitian dalam beberapa hari mendatang.
“WHO akan mengoordinasikan meta-analisis untuk meningkatkan pemahaman kita secara keseluruhan tentang intervensi ini. Pedoman klinis WHO akan diperbarui untuk mencerminkan bagaimana dan kapan obat harus digunakan dalam kasus COVID-19,” tambah badan tersebut.
Tetapi pejabat tinggi kesehatan Korea Selatan memperingatkan tentang penggunaan obat itu untuk pasien COVID-19.
“(Itu) sudah lama digunakan di rumah sakit Korea Selatan untuk mengobati pasien dengan peradangan yang berbeda,” kata Jeong Eun-kyeong. Dia adalah Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC).
“Tetapi beberapa ahli telah memperingatkan obat ini tidak hanya mengurangi respon inflamasi pada pasien, tetapi juga sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu efek samping. KCDC sedang mendiskusikan penggunaannya untuk pasien COVID-19.”
