Warisan Ledakan Purba, Bisakah Emas Dibuat di Laboratorium?
- Material Emas terbentuk melalui peristiwa kosmik ekstrem di alam semesta jauh sebelum planet kita ada

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Emas selama ribuan tahun dikenal sebagai simbol kekayaan, kekuasaan, dan keabadian. Namun di balik kilau dan nilainya yang tinggi, sains modern mengungkap fakta mencengangkan bahwa emas yang digunakan manusia saat ini sejatinya bukan berasal dari Bumi.
Logam mulia ini terbentuk melalui peristiwa kosmik ekstrem di alam semesta jauh sebelum planet kita ada, menjadikannya salah satu warisan paling purba dari ledakan bintang dan tabrakan objek langit berenergi tinggi.
Dikutip laman ensiklopedia Britannica, Kamis, 15 Januari 2026, sebagian besar unsur ringan di alam semesta terbentuk melalui proses fusi nuklir di inti bintang, seperti karbon, oksigen, dan besi.
Namun emas berada dalam kategori berbeda karena tidak dapat dihasilkan dari reaksi fusi biasa. Energi yang tersedia di inti bintang normal tidak cukup besar untuk membentuk unsur seberat emas.
Bahkan, setelah bintang menghasilkan besi, proses fusi justru berhenti karena tidak lagi menghasilkan energi, sehingga pembentukan emas memerlukan kondisi yang jauh lebih ekstrem.
Baca juga : Analis Soroti AMMN, CTRA, CUAN, dan WIRG Saat Rekor IHSG
Dua Peristiwa Kosmik Pembentuk Emas
Penelitian astrofisika menunjukkan, emas terbentuk melalui proses penangkapan neutron cepat atau r-process, yaitu kondisi ketika inti atom menyerap neutron dalam jumlah besar dalam waktu yang sangat singkat.
Proses ini hanya dapat terjadi dalam dua peristiwa kosmik utama, yakni ledakan supernova tipe II dan tabrakan dua bintang neutron atau kilonova.
Dalam supernova, bintang masif yang runtuh melepaskan energi luar biasa yang memungkinkan terbentuknya unsur-unsur berat.
Sementara itu, tabrakan bintang neutron dianggap sebagai sumber utama emas di alam semesta karena menghasilkan lingkungan dengan kepadatan neutron ekstrem, cukup untuk membentuk emas dan logam berat lainnya dalam jumlah sangat besar.
Setelah terbentuk, emas dan unsur berat lain tersebar ke seluruh ruang angkasa bersama debu dan gas kosmik. Material ini kemudian menjadi bagian dari awan raksasa yang membentuk Tata Surya miliaran tahun lalu.
Ketika Bumi masih dalam tahap awal pembentukannya dan sering dihantam meteorit, unsur emas ikut terbawa dan terakumulasi di dalam kerak dan mantel planet. Proses panjang inilah yang membuat emas di Bumi tergolong langka dan bernilai tinggi.
Baca juga : Harga Sembako DKI: Ikan Kembung Naik, Tepung Terigu Turun
Emas Laboratorium
Gagasan mengubah air raksa menjadi emas telah muncul sejak era alkimia pada abad pertengahan. Para alkemis meyakini bahwa merkuri adalah unsur dasar semua logam dan dapat dimurnikan menjadi emas melalui proses kimia tertentu.
Namun upaya ini tidak pernah berhasil karena reaksi kimia hanya mengubah susunan elektron, bukan inti atom. Tanpa mengubah inti atom, sifat dasar suatu unsur tidak akan pernah berubah.
Fisika nuklir modern menjelaskan bahwa perbedaan utama antara emas dan merkuri terletak pada jumlah proton di dalam inti atomnya. Emas memiliki 79 proton, sedangkan merkuri memiliki 80 proton.
Untuk mengubah merkuri menjadi emas, satu proton harus dihilangkan dari inti atom, suatu proses yang hanya mungkin dilakukan melalui reaksi nuklir berenergi sangat tinggi.
Secara teori, transmutasi ini dapat dilakukan dengan membombardir isotop merkuri-196 menggunakan neutron, tetapi biaya prosesnya sangat mahal, hasil emasnya sangat sedikit, dan isotop tersebut sangat langka di alam.
Berdasarkan pemahaman ilmiah saat ini, emas yang ada di Bumi berasal dari peristiwa kosmik dahsyat seperti ledakan supernova dan tabrakan bintang neutron, bukan dari proses geologis biasa atau buatan manusia.
Upaya alkimia untuk menciptakan emas dari logam lain terbukti mustahil secara kimiawi, sementara transmutasi nuklir meskipun mungkin secara teori, tidak pernah layak secara ekonomi.
Dengan demikian, emas yang terdapat pada perhiasan dan batangan saat ini sejatinya adalah sisa-sisa ledakan kosmik purba, menjadikannya bukan sekadar logam mulia, melainkan peninggalan langsung dari sejarah paling ekstrem alam semesta.

Muhammad Imam Hatami
Editor
