Tren Leisure

Viral Buku Broken Strings Karya Aurelie Moeremans, Mari Kenali Child Grooming

  • Baru-baru artis Aurelie Moeremans yang blak-blakan menjadi korban child grooming. Kisah tersebut diceritakan oleh Aurelie melalui sebuah buku digital berjudul Broken Strings.
Child grooming.
Child grooming. (emscimprovement.center)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh artis Aurelie Moeremans yang blak-blakan menjadi korban child grooming. Kisah tersebut diceritakan oleh Aurelie melalui sebuah buku digital berjudul Broken Strings.

Aurelie menceritakan pengalaman masa lalunya sebagai korban child grooming saat berusia 15 tahun. Ia mengungkapkan dirinya mengalami manipulasi dan kontrol psikologis, sampai menceritakan sudut pandangnya sebagai seorang korban.

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulis Aurelie Moeremans pada 3 Januari 2026 dalam unggahannya.

Perlindungan anak merupakan bagian penting dalam menjaga keselamatan anak-anak di lingkungan kita. Memahami praktik grooming sangat krusial untuk mengenali dan mencegah terjadinya kekerasan sebelum terjadi.

Child Grooming

Ilustrasi anak-anak. (freepik.com/jcomp)

Grooming adalah tindakan ketika seseorang membangun hubungan, kepercayaan, serta kedekatan emosional dengan seorang anak atau remaja untuk memengaruhi mereka agar menuruti keinginannya dan kemudian melakukan kekerasan. Praktik ini dapat berujung pada pelecehan seksual, eksploitasi, hingga perdagangan anak.

Dilansir dari BPC Council, child grooming terhadap anak dapat terjadi secara online maupun tatap muka. Pelakunya bisa orang asing, tetapi bisa juga seseorang yang sudah dikenal oleh anak.

Pelaku grooming kerap menyamar sebagai pasangan romantis, bertindak sebagai mentor, atau memosisikan diri sebagai figur berotoritas. Seiring waktu, mereka juga dapat menjalin kedekatan dengan keluarga dan teman-teman anak agar mendapatkan kepercayaan dari lingkungan sekitar.

Grooming secara online dapat terjadi melalui:

- Ruang obrolan

- Game online

- Media sosial

- Pesan teks dan aplikasi seperti WhatsApp

Seorang pelaku grooming dapat melakukan berbagai cara, seperti:

- Berpura-pura berusia lebih muda

- Memberikan perhatian dan nasihat berlebihan

- Memberikan hadiah

- Mengajak anak bepergian atau berlibur

Dalam konteks perlindungan anak, grooming merujuk pada tindakan yang dilakukan secara terencana dan disengaja untuk membangun hubungan, kepercayaan, serta ikatan emosional dengan seorang anak dan sering kali juga dengan orang dewasa di sekitarnya dengan tujuan memanipulasi, mengeksploitasi, dan melakukan kekerasan terhadap anak tersebut.

Sementara, dilansir dari Accredited Short Courses, berbeda dengan tindakan kekerasan yang terjadi secara spontan, grooming merupakan proses bertahap yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Para pelaku biasanya menampilkan diri sebagai sosok yang ramah, membantu, dan dapat dipercaya, sehingga perlahan mendapatkan akses ke kehidupan anak sambil menyembunyikan niat sebenarnya.

Mengapa Child Grooming Berbahaya?

Child grooming sangat berbahaya karena secara perlahan melemahkan mekanisme perlindungan alami pada anak, sehingga mereka kesulitan mengenali bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan. Dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang dan bersifat merusak, di antaranya:

- Trauma mendalam dan gangguan stres pascatrauma (PTSD)

- Depresi serta gangguan kecemasan

- Rendahnya rasa percaya diri

- Hilangnya kepercayaan terhadap orang dewasa dan figur otoritas

- Kesulitan membangun hubungan yang sehat

Anak-anak Berisiko Menjadi Korban Child Grooming

Pelecehan seksual dapat memengaruhi setiap anak, tetapi pelaku akan menargetkan anak-anak yang rentan sehingga mereka dapat mengeksploitasinya. Misalnya, anak-anak dalam pengasuhan, anak-anak tunarungu atau penyandang disabilitas, anak-anak dengan harga diri rendah atau yang mengalami kesulitan dengan teman sebaya atau keluarga mereka.

Anak-anak ini mungkin lebih mudah dimanipulasi dan diisolasi dari orang dewasa atau teman-teman yang mungkin melindungi mereka. Kerentanan ini mungkin hanya bersifat jangka pendek, misalnya pindah rumah dan bergabung dengan klub baru tanpa teman yang sudah dikenal, atau kematian anggota keluarga.

Mengapa Penting Memahami Perilaku Grooming?

Setiap orang baik orang tua atau pengasuh, anggota keluarga, guru, staf sekolah, penyedia layanan disabilitas, hingga tenaga medis dan profesional hukum perlu memahami informasi mengenai perilaku pelecehan seksual.

Pengetahuan ini penting untuk melindungi diri sendiri sekaligus menjaga keselamatan anak-anak dan remaja yang paling rentan terhadap berbagai strategi grooming.

Dilansir dari safeaustin.org, pelecehan seksual adalah pintu masuk menuju kekerasan. Anak dan remaja yang mengalami child grooming umumnya sedang mencari hubungan yang penuh kepercayaan dengan orang dewasa, yang memberi mereka rasa diterima dan dianggap penting.

Kepercayaan inilah yang kemudian disalahgunakan oleh pelaku untuk melakukan pelecehan seksual, eksploitasi, atau perdagangan anak. Dalam banyak kasus, pelaku juga membungkam korban dengan cara menormalkan tindakan kekerasan, melontarkan ancaman, atau memutarbalikkan fakta sehingga korban merasa bersalah (gaslighting).

Selain itu, kekerasan terhadap anak tidak selalu terjadi secara berulang atau dilakukan oleh orang yang sudah lama dikenal. Anak juga dapat menjadi korban dari seseorang yang hanya melakukan satu tindakan, maupun oleh orang asing yang perlahan membangun hubungan dengan mereka.

Terdapat sejumlah faktor yang membuat anak tertentu lebih berisiko menjadi sasaran child grooming, seperti anak dengan disabilitas yang bergantung pada pengasuh atau orang dewasa tepercaya, serta anak-anak yang sering berada jauh dari pengawasan orang tua atau wali.

Pelaku grooming akan memanfaatkan setiap bentuk kerentanan untuk membuat anak menjadi bergantung pada mereka, sehingga peluang anak untuk berbicara dan melapor kepada orang dewasa tepercaya menjadi semakin kecil.

Cara Pencegahan Child Grooming

Dilansir dari dp3ap2kb.surakarta.go.id, untuk mencegah child grooming, berikut langkah yang dapat diambil antara lain:

- Pendidikan Seks Sejak Dini: Membekali anak dengan pemahaman mengenai batasan tubuh serta perilaku yang tidak pantas.

- Komunikasi Terbuka: Mengajak anak untuk berani bercerita tentang pengalaman maupun perasaannya tanpa rasa takut.

- Pengawasan Aktivitas Online: Mengawasi penggunaan internet dan media sosial anak, sekaligus memberikan pemahaman tentang risiko dan bahaya di dunia digital.

- Pengenalan Tanda Bahaya: Mengajarkan anak untuk waspada dan mengenali perilaku orang dewasa yang mencurigakan.

- Pelaporan: Segera melaporkan setiap kecurigaan atau kejadian kepada pihak berwenang atau lembaga yang berkompeten.

Dengan mengenali apa child grooming, dampak yang ditimbulkan, hingga cara pencegahannya, kita menjadi lebih siap untuk melindungi anak-anak dari risiko dan ancaman tersebut.

Peran Hukum dan Masyarakat

Dilansir dari pendidikan-sains.fmipa.unesa.ac.id, di Indonesia, meski belum ada undang-undang yang secara eksplisit menggunakan istilah child grooming, sejumlah peraturan yang berlaku seperti Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik bisa diterapkan untuk menindak pelaku yang mengeksploitasi anak baik secara daring maupun luring.

Penegakan hukum yang tegas terhadap kasus eksploitasi dan pelecehan seksual anak menjadi kunci dalam mencegah berkembangnya modus-modus grooming yang lebih modern.

Selain itu, kesadaran masyarakat mengenai bahaya grooming perlu terus ditingkatkan. Media dan komunitas digital dapat berperan dengan menyediakan konten edukatif yang mudah dipahami, sehingga fenomena ini tidak lagi menjadi ancaman yang tersembunyi.