Usia 40-an Waktu Tepat Siapkan Pensiun, Ini Pesan Rhenald Kasali
- Memasuki usia 40-an menjadi waktu ideal menyiapkan pensiun. Simak strategi investasi, diversifikasi bisnis, dan tips Rhenald Kasali agar tetap produktif di hari tua.

Chrisna Chanis Cara
Author


KLATEN, TRENASIA.ID – Memasuki usia 40-an sering kali menjadi titik balik dalam perjalanan karier. Di usia ini, sebagian orang berada pada puncak produktivitas sekaligus mulai memikirkan kehidupan setelah tidak lagi bekerja penuh waktu.
Praktisi bisnis senior, Rhenald Kasali, menilai masa pensiun seharusnya tidak dipandang sebagai akhir dari produktivitas. Justru, menurutnya, persiapan pensiun idealnya dimulai jauh sebelum seseorang berhenti bekerja.
"Ketika masih sehat, masih berusia 40-an, kita bisa mulai membangun dari yang kecil," kata Rhenald dalam acara Ngobras bertajuk Retired, Not Expired: Kehidupan Setelah 9 to 5 di Joglo Batik 82, Klaten, Rabu 5 Agustus 2026 sore.
Menurutnya, kesalahan yang kerap terjadi adalah banyak orang baru memikirkan pensiun ketika usia sudah mendekati 60 tahun. Padahal, membangun sumber penghasilan baru membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Rhenald mencontohkan dirinya yang membangun Rumah Perubahan secara bertahap. Berawal dari lahan sekitar 1.000 meter persegi, kini berkembang menjadi sekitar 7,5 hektare dengan berbagai aktivitas usaha.
Selain itu, ia bersama keluarganya juga mengembangkan berbagai sumber pendapatan lain, mulai dari podcast hingga bisnis olahraga seperti padel yang dikombinasikan dengan fasilitas wall climbing. "Pendapatannya mungkin kecil-kecil, tetapi kalau dikumpulkan menjadi berarti," ujarnya.
Jangan Bertaruh pada Satu Investasi
Bagi Rhenald, prinsip terpenting dalam mempersiapkan pensiun adalah diversifikasi. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis investasi ataupun satu model bisnis. "Jangan menaruh semuanya dalam satu tempat. Pendapatan harus disebar," katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi. “Kalau ada janji keuntungan yang terlalu besar, biasanya kita lupa bahwa selalu ada risiko. Karena itu, selalu ingat bahwa investasi pasti mengandung risiko,” tutur Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu.
Diversifikasi tersebut, menurutnya, dapat dilakukan melalui kombinasi aset keuangan maupun usaha produktif. Contohnya mulai dari properti, bisnis ritel, usaha peternakan, hingga keagenan berbagai produk.
Namun, ia mengingatkan bahwa setiap jenis usaha memiliki karakter risiko yang berbeda. "Kalau bisnisnya berkaitan dengan makhluk hidup, pasti ada risiko yang harus kita hadapi," ujarnya. Dia mencontohkan usaha peternakan yang membutuhkan perhatian terhadap kesehatan hewan, sanitasi kandang, hingga pengawasan dokter hewan.
Lebih lanjut persiapan pensiun menurut Rhenald bukan hanya soal uang. Ia menilai banyak orang kehilangan semangat hidup setelah berhenti bekerja karena merasa sudah tidak lagi berguna.
"Harus ada sesuatu yang menyenangkan, membanggakan. Kita harus terus memelihara cahaya di mata kita, di mata pasangan kita, dan di mata anak-anak kita," katanya.
Menurutnya, tetap memiliki aktivitas produktif akan membantu seseorang menjaga kesehatan mental sekaligus memberikan makna dalam kehidupan setelah pensiun.
Mengapa Harus Dimulai Sejak Usia 40-an?
Pandangan Rhenald sejalan dengan berbagai hasil riset mengenai perencanaan keuangan jangka panjang.
Laporan OECD menunjukkan bahwa semakin dini seseorang mulai membangun aset dan investasi, semakin besar manfaat yang diperoleh dari efek compounding atau pengembangan hasil investasi dalam jangka panjang.
Penundaan lima hingga sepuluh tahun dapat mengurangi nilai dana pensiun secara signifikan karena waktu pertumbuhan aset menjadi lebih pendek.
Sementara itu, survei global HSBC mengenai kesiapan pensiun menunjukkan banyak pekerja menyesali keterlambatan mereka mulai menabung untuk masa pensiun. Sebagian besar responden berharap mereka memulai investasi lebih awal ketika masih berada pada usia produktif.
Di Indonesia sendiri, tantangan tersebut semakin besar karena harapan hidup terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia kini berada di kisaran 74 tahun.
Artinya, seseorang yang pensiun pada usia sekitar 58–60 tahun berpotensi menjalani masa pensiun lebih dari 15 tahun, bahkan lebih lama. Tanpa sumber pendapatan tambahan, kebutuhan hidup selama periode tersebut berisiko menggerus tabungan yang telah dikumpulkan selama bekerja.
Tak Banyak Orang Indonesia Siap Pensiun
Kesadaran masyarakat Indonesia untuk mempersiapkan masa pensiun sendiri masih tergolong rendah. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan literasi masyarakat terhadap dana pensiun masih jauh tertinggal dibandingkan sektor jasa keuangan lainnya.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi dana pensiun baru mencapai 27,79%, sementara tingkat inklusinya hanya 5,37%. Artinya, masih sedikit masyarakat yang benar-benar memanfaatkan produk dana pensiun sebagai bagian dari perencanaan keuangan mereka.
Kondisi tersebut juga tercermin dari kepesertaan program jaminan hari tua. OJK mencatat, pada 2024 hanya sekitar 22,9 juta pekerja atau sekitar 16,11% dari total pekerja nasional yang memiliki Jaminan Hari Tua.
Padahal, jumlah angkatan kerja Indonesia telah mencapai lebih dari 153 juta orang, sementara hampir 60% di antaranya bekerja di sektor informal yang umumnya belum memiliki perlindungan pensiun yang memadai.
Di sisi lain, aset industri dana pensiun nasional sebenarnya terus bertumbuh. OJK mencatat total aset dana pensiun mencapai lebih dari Rp1.600 triliun, menandakan minat terhadap instrumen pensiun mulai meningkat, meski partisipasi masyarakat masih relatif rendah.
Perencana keuangan umumnya menyarankan kombinasi beberapa strategi pensiun, seperti membangun portofolio investasi sesuai profil risiko, memiliki aset yang menghasilkan arus kas pasif, menyiapkan perlindungan kesehatan, serta mengembangkan keterampilan atau bisnis yang dapat dijalankan setelah tidak lagi bekerja penuh waktu.
Rhenald menambahkan, menyiapkan pensiun bukan hanya tentang mengumpulkan uang, tetapi juga membangun ekosistem penghasilan yang tetap berjalan ketika seseorang sudah tidak lagi bekerja.
Aktivitas produktif, usaha sampingan, hingga proyek-proyek yang dibangun sejak usia 40-an dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus menjaga seseorang tetap relevan, sehat secara mental, dan bahagia di hari tua. “Masa pensiun ideal bukan diisi dengan berhenti berkarya, ini hanya fase baru kehidupan yang lebih fleksibel,” ucapnya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
