UMKM Pulih, Kredit Restru BRI Turun 54 Persen Jadi Rp116,45 Triliun di Kuartal III-2022
- Sejalan dengan nilai kredit restru yang melandai, jumlah nasabah kredit restru pun turun dari posisi tertinggi di September 2020 sebesar 3,9 juta nasabah menjadi 1,4 juta nasabah per September 2022, atau turun sekitar 2,5 juta nasabah.

Yosi Winosa
Author


JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat kredit restrukturisasi melandai seiring dengan pulihnya segmen UMKM. Tercatat, nilai kredit restru sebesar Rp116,45 triliun per kuartal III-2022, turun 54,5% dari posisi awal pandemi tahun 2020 sebesar Rp256,1 triliun.
Direktur Manajemen Risiko BRI Agus Sudiarto mengatakan sejalan dengan nilai kredit restru yang melandai, jumlah nasabah kredit restru pun turun dari posisi tertinggi di September 2020 sebesar 3,9 juta nasabah menjadi 1,4 juta nasabah per September 2022, atau turun sekitar 2,5 juta nasabah.
Ditambahkan, perseroan pun telah menyiapkan langkah antisipasi dengan menyiapkan pencadangan yang cukup kalupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit berakhir pada Maret 2023.
- Waspada! Lagi Ramai Penipuan Berkedok Chat dari Kurir Paket
- Fantastis! Perputaran Uang Judi Piala Dunia 2022 Capai Rp546 Triliun Berkat COVID-19
- Warga Bekasi Dapat Rp1 Miliar Lebih dari Penjualan 7 Juta Saham WIR Asia (WIRG)
Hal ini diikuti oleh kemampuan BRI dalam menjaga kualitas aset sebagaimana ditinjau dari penurunan Loan At Risk (LAR) dan Non Performing Loan (NPL). Angka LAR BRI pada kuartal III-2022 tercatat sebesar 19,3% atau jauh menyusut dibandingkan periode September 2021 yang mencapai 25,62%.
Kemampuan BRI dalam menjalankan fungsi manajemen risiko yang baik juga terlihat dari NPL perseroan yang manageable di level 3,09% pada kuartal III-2022. Kendati demikian, BRI tetap melakukan langkah-langkah antisipatif dengan menyiapkan NPL Coverage sebesar 278,79% dimana angka ini meningkat dibandingkan dengan NPL Coverage di akhir kuartal III-2021 yang sebesar 252,86%.
“Kesiapan pencadangan serta fungsi manajemen risiko yang berjalan baik membuat BRI tidak khawatir apabila OJK menghentikan kebijakan restrukturisasi kredit terdampak COVID-19 yang berakhir pada Maret 2023. Oleh karena itu, BRI menempuh strategi soft landing strategy untuk menjaga kualitas aset agar tetap sehat dan prudent," kata Agus dalam website resmi, dikutip Rabu, 7 Desember 2022.
Ditambahkan, semula BRI menyiapkan pencadangan yang memadai, kemudian melakukan restrukturisasi dengan terukur yang mengikuti ketentuan. Dengan demikian, jika kebijakan relaksasi OJK tidak diteruskan perseroan sudah siap. Karena pencadangan yang sudah dilakukan sudah sangat memadai. Sebagai contoh, pencadangan khusus COVID-19 saat ini hampir Rp30 triliun yaitu Rp29,95 triliun, atau hampir 26% dari outstanding restrukturisasi COVID-19 di BRI.
Selain itu aspek likuiditas dan permodalan perseroan yang memadai membuat BRI masih dapat memacu kinerja intermediasi untuk menumbuhkembangkan UMKM. Likuiditas BRI secara konsolidasi masih terjaga, dengan rasio LDR mencapai 88,51% pada kuartal III-2022 Sedangkan LDR yang optimal ada di level 92%.
“Sehingga untuk memacu pertumbuhan, likuiditas BRI masih sangat cukup," tambah Agus.
Sejalan dengan misi pemulihan ekonomi, BRI tercatat memiliki permodalan yang kuat untuk memacu ekspansi kredit. Hal ini tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) secara konsolidasi yang mencapai 26%.
Sementara itu, total aset BRI hingga kuartal III-2022 mampu tumbuh 4% Year on Year (YoY) menjadi Rp.1.684,60 triliun. Pertumbuhan aset itu terjadi sejalan dengan meningkatnya penyaluran kredit, hingga akhir September 2022, total kredit dan pembiayaan BRI Group tercatat mencapai Rp.1.111,48 triliun atau tumbuh 7,92% yoy.
Secara khusus, portofolio kredit UMKM BRI tercatat meningkat sebesar 9,83% yoy dari Rp852,12 triliun di akhir September 2021 menjadi Rp935,86 triliun di akhir September 2022. Hal ini menjadikan proporsi kredit UMKM dibandingkan total kredit BRI terus meningkat menjadi sebesar 84,20%.

Yosi Winosa
Editor
