Tren Ekbis

THR Cair, Mengapa Lebaran Selalu Jadi Musim 'Borong' Emas?

  • Simak data World Gold Council soal alasan 67% investor Indonesia lebih memilih emas dibandingkan dengan aset lain.
Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli.

Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

(Foto : Panji Asmoro/TrenAsia)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, momen Ramadan dan Idulfitri bukan sekadar soal beribadah dan pulang kampung. Ada satu fenomena menarik yang rutin terjadi setiap tahun: serbuan ke toko emas.

Bukan tanpa alasan, kantong masyarakat yang biasanya lebih tebal berkat kucuran Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi motor penggerak utama. Fenomena likuiditas dadakan ini mengubah arus kas rumah tangga secara signifikan dalam waktu singkat.

Efek THR dan "Self-Reward" yang Cerdas

Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific di World Gold Council (WGC), menjelaskan bahwa dinamika ini sangat dipengaruhi oleh tambahan pendapatan musiman. Menurutnya, saat dana segar seperti THR mendarat di rekening, banyak orang yang memilih mengamankannya ke dalam aset yang tahan banting.

"Saat mendapatkan tambahan pendapatan musiman seperti THR, sebagian masyarakat mengalokasikannya ke aset yang dinilai mampu melindungi nilai jangka panjang, termasuk emas," ungkap Shaokai dalam keterangannya, dikutip Kamis, 12 Maret 2026.

Jadi, alih-alih habis untuk konsumsi semata, emas dianggap sebagai cara "mengunci" uang agar tidak sekadar numpang lewat.

Meski belinya pas musim Lebaran, ternyata investor Indonesia bukan tipe flipper atau pencari cuan instan. Data dari WGC mengungkapkan fakta menarik bahwa rata-rata, investor Indonesia menyimpan emas fisik (batangan, koin, atau perhiasan) selama kurang lebih enam tahun.

Kemudian, emas berada di urutan kedua sebagai aset investasi paling diminati di Tanah Air. Sekitar 67% investor di Indonesia tercatat memiliki emas dalam berbagai bentuk. Ini membuktikan bahwa bagi orang Indonesia, emas adalah "pelindung nilai" yang sesungguhnya, bukan sekadar barang buat gaya-gayaan saat kumpul keluarga.

Antara Tradisi dan Strategi Finansial

Menariknya, Indonesia tidak sendirian. Fenomena ini mirip dengan tradisi di belahan dunia lain seperti di China di mana permintaan emas melonjak saat Tahun Baru Imlek sebagai simbol keberuntungan. Di India, emas menjadi primadona saat musim pernikahan sebagai bagian dari perencanaan keuangan keluarga.

Di Indonesia, faktor budaya sangat kental. Emas sering dibeli sebagai hadiah (hampers mewah) atau simbol kemakmuran saat Idul Fitri. Produsen pun jeli melihat peluang ini dengan merilis edisi khusus bertema Ramadan yang estetik, membuat emas semakin sulit ditolak sebagai kado spesial.

Di tengah fluktuasi ekonomi dan tekanan daya beli, emas tetap menjadi "pelabuhan aman" bagi portofolio rumah tangga. Keputusan masyarakat untuk membeli emas saat Ramadan bukan cuma soal ikut-ikutan tren, tapi merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas kekayaan di masa depan.