Saham BBCA Cs Pesta Pora di Tengah Sentimen Hijau IHSG
- IHSG hari ini dan indeks saham Asia melanjutkan tren penguatannya seiring harapan pemulihan ekonomi China

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan perusahaan sejenisnya mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa, 18 Februari 2025. Kenaikan harga saham ini dipicu oleh sentimen positif baik dari domestik maupun mancanegara.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, seiring dengan kenaikan IHSG pada perdagangan sesi pertama sebesar 0,65% ke level 6.875,6, saham BBCA juga terpantau melesat 0,80% ke level Rp9.400 per saham.
Selain BBCA, kenaikan harga saham juga dialami oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang naik 3,50% ke level Rp4.730 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga menguat 2,98% ke level Rp4.150 per saham.
- Saham Blue Chip LQ45 dengan PER Terendah, ADRO dan ADMR Menarik
- Buyback Saham BNI: Menjaga Nilai Investasi di Tengah Fluktuasi Pasar Global
- Imbas Harga Minyak Dunia Naik, ICP Januari 2025 Dipatok US$76,81 per barel
Demikian juga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga melesat 0,46% ke level Rp5.450 per saham. Penguatan saham perbankan pada perdagangan siang ini dapat dibilang tersengat oleh sentimen net buy asing jumbo kemarin.
Diketahui, saham BBRI, BBCA, dan BMRI menjadi incaran investor asing dengan nilai transaksi yang signifikan. Masing-masing saham tercatat diborong asing dengan nilai transaksi sebesar Rp371,65 miliar, Rp271,41 miliar, dan Rp162,84 miliar.
Setali tiga uang, penguatan saham ini juga terjadi di sektor telekomunikasi, di mana saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga melesat 1,13% ke level Rp2.680 per saham. Sebelumnya, saham ini juga diborong asing sebanyak Rp162,20 miliar.
Sentimen IHSG
Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa IHSG hari ini dan indeks saham Asia melanjutkan tren penguatannya seiring harapan pemulihan ekonomi China. “Pasar juga tengah menanti risalah pertemuan The Fed. Perusahaan sekuritas ini merekomendasikan saham PTRO untuk perdagangan di sesi kedua,” jelasnya dalam riset pada Selasa, 18 Februari 2025.
Pilarmas menamabhakan harapan pemulihan ekonomi China meningkat seiring janji Presiden Xi Jinping untuk mendukung sektor swasta dalam pertemuan tertutup dengan para pemimpin bisnis terkemuka. Xi mendesak komunitas bisnis untuk menunjukkan bakat dan kepercayaan mereka pada model serta pasar China, terutama di tengah ketatnya persaingan global.
Selain itu, pasar juga menantikan rilis risalah The Fed Amerika Serikat (AS), yang pertemuannya dijadwalkan pada Rabu, waktu setempat. Risalah ini akan memberikan panduan lebih lanjut tentang prospek suku bunga.
Sebelumnya, Gubernur Fed Christopher Waller mendukung penghentian sementara pemangkasan suku bunga hingga tekanan inflasi mereda, sementara Gubernur Fed Michelle Bowman menegaskan sikap hati-hatinya terhadap pemangkasan suku bunga lebih lanjut di tengah inflasi yang terus-menerus.
“Pasar juga memantau perkembangan geopolitik, termasuk kemungkinan perjanjian gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina,” tambahnya,
Di dalam negeri, Pilarmas menyebutkan pasar menantikan keputusan Bank Indonesia (BI) terkait arah kebijakan moneter. Bank Indonesia dijadwalkan mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2025.
“Secara konsensus, BI diperkirakan masih mempertahankan suku bunga di level 5,7%. Namun, mengingat inflasi Januari 2025 yang tercatat turun menjadi 0,76% (yoy) dari 1,57% (yoy) pada bulan sebelumnya, ada kemungkinan BI akan memangkas suku bunga acuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik dan menjaga stabilitas rupiah,” jelasnya.
Meskipun BI memiliki ruang untuk pemangkasan, Pilarmas menilai faktor eksternal seperti kebijakan perang tarif yang dilakukan oleh pemerintah AS dan arah kebijakan moneter The Fed akan menjadi pertimbangan dalam kebijakan moneter BI selanjutnya.

Amirudin Zuhri
Editor
