Review One Piece Season 2, Lebih Baik dan Lebih Berani dari Sebelumnya
- One Piece: Into the Grand Line melanjutkan cerita tepat dari akhir musim pertama, sekaligus memanfaatkan ekspektasi para penggemar sebagai pijakan untuk menghadirkan kejutan-kejutan baru yang melampauinya.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Adaptasi live-action dari anime dan manga selama ini memiliki reputasi yang cukup buruk di kalangan penggemar. Namun, pada dekade 2020-an terlihat banyak perubahan dalam hal ini.
Dilansir dari Comicbook, Netflix dan berbagai platform lainnya mulai serius menggarap adaptasi dari waralaba anime besar ke dalam format baru tersebut, dan tetap mempertahankan daya tarik utama yang membuat penggemar mencintai karya aslinya.
Mengadaptasi seri yang sangat populer seperti One Piece karya Eiichiro Oda tentu membutuhkan keterampilan yang sangat tinggi, dan secara mengejutkan musim pertamanya berhasil melampaui berbagai ekspektasi.
One Piece: Into the Grand Line melanjutkan cerita tepat dari akhir musim pertama, sekaligus memanfaatkan ekspektasi para penggemar sebagai pijakan untuk menghadirkan kejutan-kejutan baru yang melampauinya.
One Piece season 2 mengembangkan semua hal yang sudah berhasil pada musim sebelumnya dengan taruhan yang lebih besar, hubungan antar karakter yang semakin kuat, dan pilihan cerita yang lebih berani sehingga tampil berbeda dari versi manga maupun animenya. Hasilnya adalah petualangan bajak laut yang seru dan sayang untuk dilewatkan.
Review One Piece Season 2

Musim pertama One Piece di Netflix berakhir dengan kisah ketika Monkey D. Luffy (Iñaki Godoy) menjadi bajak laut paling terkenal di East Blue setelah mengalahkan Arlong. Setelah itu, kru Topi Jerami mengungkapkan impian mereka masing-masing sebelum bersiap memasuki Grand Line.
Dalam One Piece: Into the Grand Line, cerita langsung melanjutkan momen tersebut dengan memperkenalkan kembali para anggota kru yang tengah mempersiapkan diri menghadapi wilayah baru yang penuh misteri, sambil berlayar menuju perairan yang belum pernah mereka jelajahi.
Bagi penggemar manga dan anime aslinya, banyak alur cerita yang diangkat pada musim ini kemungkinan akan terasa sangat familiar.
One Piece: Into the Grand Line tetap setia pada manga karya Eiichiro Oda. Jika musim pertama sempat melewati beberapa peristiwa saat mengadaptasi arc East Blue, musim kedua justru mengambil pendekatan berbeda.
Musim ini berusaha mengadaptasi berbagai arc secara lebih lengkap, seperti Loguetown, Drum Island, dan beberapa lokasi penting lainnya, tanpa melewatkan tempat atau peristiwa besar. Mengingat seri aslinya sudah berjalan hampir 30 tahun, mungkin terdengar seolah versi live-action akan terbebani oleh begitu banyak materi cerita. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Rangkaian arc dalam musim ini terasa memiliki tempo yang sangat pas untuk format serial live-action. Waktu memang terasa berjalan berbeda dalam cerita One Piece, tetapi versi live-action mengingatkan bahwa Luffy dan kawan-kawan sebenarnya melewati beberapa pulau pertama mereka dengan cukup cepat.
Karena itu, setiap episode tidak hanya menampilkan satu pulau dengan karakter-karakter uniknya sendiri, tetapi juga tetap menjaga alur cerita utama agar terus bergerak maju.
Perpaduan ini terasa seimbang: tiap episode cukup luas untuk menghadirkan kisah yang berdiri sendiri, namun tetap menjadi bagian dari perjalanan besar yang masih akan terus berlanjut. Pola seperti ini sangat cocok dengan model rilis maraton (binge) milik Netflix, meskipun sebenarnya formatnya juga tetap akan terasa pas jika ditayangkan secara mingguan.
One Piece: Into the Grand Line terus berada dalam posisi menyeimbangkan dua hal penting. Di satu sisi, setiap episode harus mampu memperlihatkan bahwa dunia ceritanya semakin luas dan kompleks. Namun di sisi lain, serial ini juga tidak boleh melupakan alasan utama para penggemar tetap mengikuti kisahnya: para karakter.
Dengan masuknya wilayah Grand Line, banyak tokoh baru diperkenalkan ke dalam cerita. Hal ini membuat beberapa karakter yang sebelumnya cukup menonjol di musim pertama harus sedikit bergeser ke latar belakang.
Dalam bagian cerita karya Eiichiro Oda ini, memang mulai terlihat bahwa beberapa karakter perlahan ditinggalkan sepenuhnya. Karena itu, versi serial televisinya berusaha secara bertahap membantu para penggemar menerima perubahan tersebut.
Salah satu perubahan besar yang diperkenalkan pada musim pertama One Piece adalah penambahan materi cerita yang menyoroti sisi para Angkatan Laut, khususnya Garp (Vincent Regan), Koby (Morgan Davies), dan Helmeppo (Aidan Scott).
Namun, bagi penonton serial ini, mungkin cukup mengejutkan karena setelah porsi cerita tambahan tersebut, ketiga karakter ini tidak lagi mendapat banyak sorotan dalam episode-episode baru.
Sebagai gantinya, karakter baru seperti Smoker (Callum Kerr) dan Tashigi (Julia Rehwald) mulai mengambil sebagian waktu layar. Mereka bahkan mendapatkan beberapa adegan yang tidak muncul dalam versi aslinya.
Meski begitu, porsinya tidak sebesar yang diberikan pada musim pertama, di mana mereka sempat memiliki alur cerita tersendiri. Sederhananya, dengan begitu banyak peristiwa yang harus diadaptasi, serial ini tidak memiliki cukup waktu untuk menambahkan satu arc orisinal tambahan di luar cerita utama.
One Piece: Into the Grand Line menghadirkan banyak karakter baru ke dalam versi live-action, yang diambil dari lima arc berbeda dalam manga.
Sebagian besar aktor baru tampak siap terjun ke dunia One Piece yang unik dan penuh keanehan ini. Beberapa di antaranya bahkan tampil menonjol, seperti Lera Abova sebagai Miss All Sunday, David Dastmalchian sebagai Mr. 3, dan Katey Sagal sebagai Dr. Kureha.
Meski begitu, ada juga beberapa penampilan yang terasa kurang menyatu dengan keseluruhan nuansa serial, salah satunya Callum Kerr sebagai Smoker, terutama saat ia mendapatkan momen sorotannya sendiri.
Namun secara keseluruhan, musim ini tetap terasa berhasil karena menghadirkan beragam karakter dengan kepribadian yang liar dan unik. Banyak dari para aktor tersebut berani mengambil pendekatan yang cukup berbeda dalam memerankan tokohnya, sehingga menghasilkan variasi karakter yang menarik untuk ditonton di layar.
Karakter-karakter baru yang mendapatkan lebih banyak sorotan akhirnya terlihat semakin menonjol berkat kuatnya penampilan para aktornya di beberapa episode. Charithra Chandran tampil sangat mencuri perhatian sebagai Miss Wednesday.
Ia mendapat porsi waktu layar yang lebih banyak dibandingkan sebagian karakter baru lainnya, sehingga penonton dapat melihat berbagai sisi dari penampilannya.
Hal serupa juga berlaku untuk Mikaela Hoover sebagai Tony Tony Chopper. Karakter tersebut tidak hanya tampil mengesankan secara visual, tetapi juga memiliki suara yang sangat cocok dengan nuansa serial ini.
Meskipun season 2 menghadirkan banyak wilayah baru untuk dijelajahi, pulau-pulau baru untuk diperkenalkan, serta misi yang lebih besar ke depannya, One Piece: Into the Grand Line tetap tidak melupakan kru Topi Jerami sebagai pusat cerita. Para anggota kru utama sudah menjadi daya tarik terbesar pada musim pertama, dan pada musim kedua mereka tampil bahkan lebih baik.
Terlihat jelas bahwa Iñaki Godoy (Luffy), Mackenyu (Zoro), Emily Rudd (Nami), Jacob Romero Gibson (Usopp), dan Taz Skylar (Sanji) kini jauh lebih nyaman dengan karakter masing-masing. Hal itu membuat interaksi mereka terasa lebih hidup, karena para aktor mampu saling menanggapi dengan lebih natural dan menciptakan energi yang jauh lebih dinamis di layar dibandingkan sebelumnya.
Kru Topi Jerami digambarkan dan berinteraksi satu sama lain seperti kru bajak laut yang sesungguhnya, dan hal itu selalu berhasil menghadirkan senyum bagi penonton. Musim ini juga memberikan lebih banyak ruang untuk mengembangkan kepribadian masing-masing karakter.
Misalnya, Zoro tidak lagi selalu tampil keren seperti di musim pertama dan justru diperlihatkan sisi konyolnya, sebagaimana yang ada dalam cerita aslinya. Sanji tetap menunjukkan kebiasaannya menggoda wanita, namun tanpa terasa berlebihan atau mengganggu.
Sementara itu, Usopp mendapat momen untuk merenungkan keputusannya meninggalkan Kaya, sesuatu yang memang diharapkan oleh para penggemar. Luffy sendiri masih tetap menjadi Luffy seperti yang dikenal, meskipun ada satu episode yang benar-benar menguji karakter tersebut.
One Piece: Into the Grand Line menghadirkan musim yang jauh lebih besar dan luas dibandingkan sebelumnya, dan terasa jelas bahwa seluruh tim kini lebih percaya diri dalam menghidupkan dunia cerita ini.
Kesuksesan besar musim pertama tampaknya memberi kebebasan bagi para pembuatnya untuk mengembangkan musim baru dengan lebih berani. Hasilnya adalah salah satu adaptasi live-action dari anime dan manga yang paling berhasil sejauh ini. Melihat bagaimana musim ini ditutup dengan sangat baik benar-benar terasa mengesankan, kini tinggal menantikan kelanjutan ceritanya di musim ketiga.

Distika Safara Setianda
Editor
