Pohon Bisnis Hashim Djojohadikusumo: Dari Energi hingga Kripto
- Gurita bisnis Hashim Djojohadikusumo merambah energi, pertambangan, perkebunan, fiber optik, aset digital, hingga emiten BEI seperti WIFI dan COIN.

Muhammad Imam Hatami
Author


Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan adiknya, Hashim Djojohadikusumo / Dok. Partai Gerindra
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID - Nama Hashim Djojohadikusumo selama ini dikenal sebagai salah satu pengusaha papan atas Indonesia dengan portofolio bisnis yang membentang dari sektor energi, pertambangan, perkebunan, hingga infrastruktur digital.
Dalam beberapa tahun terakhir, adik Presiden Prabowo Subianto tersebut juga semakin agresif masuk ke bisnis serat optik, pusat data, dan aset kripto. Di balik berbagai ekspansi itu, kerajaan bisnis Hashim bertumpu pada dua kelompok usaha utama, yakni Arsari Group dan Tirtamas Group.
Melalui kedua grup tersebut, ia mengendalikan puluhan perusahaan yang bergerak di berbagai sektor strategis. Dillansir TrenAsia dari berbagai sumber Rabu, 29 Juli 2026, berikut gurita bisnis Hashim Djojohadikusumo.
Pohon Bisnis Hashim Djojohadikusumo
Arsari Group
Arsari Group merupakan platform investasi utama Hashim yang didirikan pada 2006. Nama "Arsari" sendiri merupakan akronim dari nama ketiga anaknya, yaitu Aryo, Sara, dan Indra.
Grup ini kini memiliki portofolio yang cukup luas, mulai dari agroforestri, perkebunan, pertambangan, energi terbarukan, infrastruktur digital, perdagangan, hingga akuakultur.
Dalam beberapa tahun terakhir, Arsari Group menjadi ujung tombak ekspansi Hashim ke sektor ekonomi digital melalui investasi pada perusahaan telekomunikasi, pusat data, jaringan fiber optik, hingga aset digital.
Tirtamas Group
Sebelum membangun Arsari Group, Hashim lebih dahulu mengembangkan Tirtamas Group sebagai kendaraan bisnis utamanya. Kelompok usaha ini menaungi berbagai perusahaan, di antaranya PT Era Persada Trade, PT Tirtamas Majutama, PT Indo Consult, PT Prima Comexindo, serta sekitar 38 anak usaha lain yang bergerak di sektor semen, petrokimia, energi, pertanian, dan perdagangan.
Tirtamas Group menjadi fondasi ekspansi bisnis Hashim sejak awal 1990-an, termasuk ketika mengakuisisi PT Semen Nusantara Cilacap dan PT Semen Dwima Agung pada 1993.
Baca juga : Tren Negatif Lanjut, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 29 Juli 2026?
Deretan Emiten Bursa
Dalam beberapa tahun terakhir, Hashim semakin aktif memperluas jejaknya di pasar modal Indonesia. Salah satu langkah terbesar dilakukan melalui PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge.
Pada Januari 2025, PT Arsari Sentra Data mengakuisisi 45% saham PT Investasi Sukses Bersama yang merupakan pemegang saham pengendali WIFI.
Selanjutnya pada Juni 2026, Hashim resmi menjabat sebagai Komisaris Utama WIFI. Kinerja perusahaan tersebut juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Sepanjang 2025, WIFI membukukan laba bersih sekitar Rp408,55 miliar, meningkat 76,95% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara pada kuartal I-2025, laba bersih emiten tersebut melonjak sekitar 181% secara tahunan dengan pendapatan mencapai Rp231,57 miliar, atau tumbuh 65,65%.
Selain WIFI, Arsari Group juga masuk sebagai pemegang saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) melalui PT Arsari Nusa Investama, memperkuat ekspansi perusahaan di sektor perdagangan aset digital.
Jejak keluarga Hashim di pasar modal juga terlihat di PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN), di mana putrinya, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, diangkat sebagai Komisaris Utama pada Desember 2025.
Baca juga : Trimegah Rilis Trima+, Platform Investasi Saham dan Obligasi
Raksasa Fiber Optik
Ekspansi Arsari Group juga menyasar infrastruktur telekomunikasi. Perusahaan menjalin kerja sama dengan Indosat Ooredoo Hutchison dan Northstar untuk membentuk perusahaan fiber optik dengan valuasi sekitar Rp14,6 triliun.
Dalam perusahaan patungan tersebut, Arsari Group menguasai 45% saham. Jaringan yang dikelola mencapai sekitar 86.000 kilometer serat optik, menjadikannya salah satu infrastruktur digital terbesar di Indonesia.
Langkah tersebut memperkuat posisi Arsari Group sebagai pemain baru di sektor konektivitas digital yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
Bisnis Energi Lewat Blok Natuna
Selain digital, sektor energi tetap menjadi salah satu fokus utama Hashim. Melalui PT Nations Natuna Barat, Arsari Group mengakuisisi 75% participating interest pada proyek gas Mako di Blok Natuna Barat.
Nilai investasi yang digelontorkan mencapai sekitar US$160 juta, dengan total nilai pengembangan proyek diperkirakan mencapai US$320 juta. Investasi tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan memperkuat portofolio energi nasional sekaligus mendukung ketahanan energi Indonesia.
Baca juga : Bagaimana Penutupan Selat Bab el-Mandeb Pengaruhi Kocek Kamu?
Pernah Terpukul Krisis Asia
Hashim lahir di Jakarta pada 5 Juni 1954 sebagai putra ekonom senior Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar. Lulusan Pomona College, California, itu mengawali karier sebagai direktur di Indo Consult, perusahaan milik ayahnya.
Setelah membangun Tirtamas Group dan melakukan ekspansi ke berbagai negara, termasuk Kazakhstan, Azerbaijan, Rusia, Yordania, dan Amerika Serikat, bisnis Hashim sempat terpukul akibat krisis moneter Asia 1997–1998.
Sejumlah aset terpaksa dilepas untuk memenuhi kewajiban utang perusahaan. Setelah melewati masa tersebut, Hashim kembali membangun bisnis dengan mengalihkan fokus ke sektor energi terbarukan dan berbagai sektor strategis lainnya.
Kini kerajaan bisnis Hashim Djojohadikusumo tidak lagi hanya bertumpu pada sektor konvensional seperti semen, perdagangan, dan energi. Melalui Arsari Group, ia memperluas investasi ke berbagai sektor yang tengah berkembang, mulai dari jaringan fiber optik, pusat data, aset digital, hingga gas alam.
Diversifikasi tersebut menunjukkan transformasi bisnis Hashim dari konglomerasi berbasis sumber daya alam menjadi kelompok usaha yang juga berorientasi pada ekonomi digital, seiring berkembangnya kebutuhan infrastruktur dan teknologi di Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Editor
