Tren Ekbis

Pertamax Naik Setelah Chatib Basri ke Istana, Ada Kaitan?

  • Dikenal sebagai ekonom pro-pasar dan murid Sri Mulyani, Chatib Basri kembali menjadi perhatian publik usai bertemu Prabowo menjelang kenaikan Pertamax.
<p>Anggota Dewan Penasehat AFPI, M. Chatib Basri tampak dilayar gadget sebagai narasumber pada Seminar Nasional Daring kerjasama KADIN Indonesia dan AFPI di Jakarta, Kamis, 3 September 2020. Seminar Nasional bertajuk &#8220;Peran Fintech Pendanaan Bersama Dalam Akselerasi Penyaluran Stimulus Program Pemulihan Ekonomi Nasional&#8221; diantaranya menghadirkan diskusi tantangan dan cerita sukses dari penerima manfaat fintech pendanaan bersama, kebijakan penyaluran stimulus pemulihan ekonomi nasional kepada UMKM yang terdampak pandemi Covid-19, serta pemanfaatan dan penggunaan platform fintech pendanaan bersama dalam mendukung akselerasi penyaluran stimulus pemulihan ekonomi nasional kepada UMKM secara cepat, transparan dan masif. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Anggota Dewan Penasehat AFPI, M. Chatib Basri tampak dilayar gadget sebagai narasumber pada Seminar Nasional Daring kerjasama KADIN Indonesia dan AFPI di Jakarta, Kamis, 3 September 2020. Seminar Nasional bertajuk “Peran Fintech Pendanaan Bersama Dalam Akselerasi Penyaluran Stimulus Program Pemulihan Ekonomi Nasional” diantaranya menghadirkan diskusi tantangan dan cerita sukses dari penerima manfaat fintech pendanaan bersama, kebijakan penyaluran stimulus pemulihan ekonomi nasional kepada UMKM yang terdampak pandemi Covid-19, serta pemanfaatan dan penggunaan platform fintech pendanaan bersama dalam mendukung akselerasi penyaluran stimulus pemulihan ekonomi nasional kepada UMKM secara cepat, transparan dan masif. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Nama Muhamad Chatib Basri kembali menjadi sorotan setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Selasa, 9 Juni 2026. 

Pertemuan tersebut berlangsung hanya sehari sebelum PT Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau melonjak Rp3.950 per liter.

Meski tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Chatib Basri menjadi pihak yang mendorong keputusan tersebut, waktu pertemuan yang berdekatan dengan kenaikan harga BBM membuat perhatian publik tertuju pada ekonom senior yang selama ini dikenal memiliki pandangan ekonomi berbasis pasar atau pro-market.

Bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, Chatib bertemu Prabowo selama sekitar dua jam untuk membahas kondisi perekonomian nasional di tengah tekanan pelemahan rupiah, inflasi, dan ketidakpastian global.

Usai pertemuan, Chatib membantah adanya pembahasan terkait reshuffle kabinet maupun pergantian Menteri Keuangan. "Tadi kami membahas perkembangan situasi terakhir, situasi makro yang berkaitan dengan kondisi sekarang," ujarnya kepada awak media, Selasa, 9 Juni 2026.

Namun, pertemuan tersebut tetap menarik perhatian karena terjadi menjelang keputusan yang berdampak langsung pada masyarakat, yakni kenaikan harga BBM non-subsidi.

Baca juga : Bom Waktu APBN: Ketika Selisih Harga BBM Picu Migrasi Massal

Murid Sri Mulyani dengan Rekam Jejak Panjang

Lahir di Jakarta pada 22 Agustus 1965, Chatib Basri merupakan salah satu ekonom paling berpengaruh dalam dua dekade terakhir.

Ia menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi di Universitas Indonesia sebelum melanjutkan studi Master of Economic Development dan doktor ekonomi di Australian National University, Australia.

Kariernya di pemerintahan dimulai ketika menjadi penasihat khusus Menteri Keuangan pada era Sri Mulyani Indrawati. Hubungan keduanya berkembang menjadi relasi mentor dan murid yang cukup dikenal di kalangan ekonom Indonesia.

Chatib pernah menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2012-2013 sebelum dipercaya menjadi Menteri Keuangan pada 2013 hingga 2014 menggantikan Agus Martowardojo yang ditunjuk sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Hingga saat ini, namanya hampir selalu masuk dalam bursa kandidat Menteri Keuangan setiap kali isu pergantian pimpinan Kementerian Keuangan mencuat.

Baca juga : Pertamax Naik, IHSG Tetap Ngacir 0,49 Persen di Pembukaan Hari Ini

Mazhab Ekonomi Pro-Pasar

Dalam berbagai perdebatan ekonomi nasional, Chatib Basri sering ditempatkan dalam kelompok ekonom yang berpandangan liberal atau pro-pasar.

Pandangan tersebut terlihat dari keyakinannya bahwa mekanisme pasar memiliki peran penting dalam menentukan harga dan mengalokasikan sumber daya secara efisien.

Karena itu, Chatib kerap dikaitkan dengan kebijakan yang mengedepankan harga keekonomian, termasuk dalam sektor energi dan bahan bakar minyak.

Dalam sejumlah kesempatan, ia menilai subsidi yang terlalu besar berpotensi membebani anggaran negara dan mengurangi ruang fiskal untuk program yang lebih produktif seperti pendidikan, kesehatan, maupun pembangunan infrastruktur.

Meski demikian, Chatib juga beberapa kali membantah label neoliberal yang sering disematkan kepadanya. Ia berargumen bahwa Indonesia masih memiliki tingkat proteksi ekonomi dan porsi subsidi yang relatif besar dibandingkan banyak negara lain.

Pengalaman menangani kebijakan energi bukan hal baru bagi Chatib Basri. Saat menjadi pejabat di Kementerian Keuangan, ia terlibat dalam berbagai pembahasan terkait subsidi energi dan penyesuaian harga BBM yang menjadi isu sensitif secara politik maupun ekonomi.

Chatib sendiri pernah mengakui banyak belajar dari Sri Mulyani mengenai cara mengelola dampak fiskal dan komunikasi publik ketika pemerintah harus mengambil keputusan tidak populer seperti menaikkan harga bahan bakar.

Pendekatan yang selama ini diasosiasikan dengan Chatib adalah menjaga kesehatan fiskal negara terlebih dahulu, kemudian menyalurkan bantuan secara lebih tepat sasaran kepada kelompok rentan dibanding mempertahankan subsidi yang dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

Baca juga : Lengkap! Ini Daftar Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS 2026

Apakah Pertemuan dengan Prabowo Berkaitan dengan Kenaikan Pertamax?

Hingga saat ini tidak ada pernyataan resmi yang menunjukkan bahwa pertemuan Chatib Basri dan Prabowo secara langsung membahas kenaikan Pertamax.

Terlebih, Pertamax merupakan BBM non-subsidi yang secara umum mengikuti harga keekonomian dan dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah serta pergerakan harga minyak dunia.

Namun secara filosofis, pandangan ekonomi Chatib yang cenderung mendukung mekanisme pasar membuat namanya kerap dikaitkan dengan kebijakan penyesuaian harga energi ketika biaya produksi dan impor meningkat.

Beberapa jam sebelum bertemu Presiden, Chatib juga sempat mengingatkan mengenai risiko pelemahan rupiah terhadap perekonomian nasional. Dalam kondisi rupiah yang tertekan, biaya impor energi menjadi lebih mahal sehingga ruang bagi penyesuaian harga BBM non-subsidi semakin terbuka.

Karena itu, meskipun tidak ada bukti bahwa pertemuan tersebut menghasilkan keputusan kenaikan harga Pertamax, momentum keduanya memperlihatkan bagaimana diskusi mengenai stabilitas ekonomi, nilai tukar, dan kesehatan fiskal menjadi semakin relevan di tengah lonjakan harga energi.

Bagi pasar, kehadiran Chatib Basri di lingkaran pengambil keputusan juga mengirim sinyal bahwa pemerintah tetap mendengarkan pandangan ekonom yang selama ini dikenal mengedepankan disiplin fiskal, efisiensi anggaran, dan penyesuaian harga berdasarkan mekanisme pasar.