Perbankan

Optimistis di Tengah Tantangan, BSI Perkuat Bisnis Emas dan Haji

  • Potensi pasar haji di Indonesia sangat besar, dengan sekitar 50 hingga 60 juta orang dinilai eligible untuk berhaji. BSI berupaya menangkap peluang ini melalui pendekatan ekosistem layanan yang terintegrasi.
<p>Karyawan melayani nasabah di kantor cabang Bank Syariah Indonesia (BRIS) Jakarta Hasanudin, Jakarta, Rabu, 17 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Karyawan melayani nasabah di kantor cabang Bank Syariah Indonesia (BRIS) Jakarta Hasanudin, Jakarta, Rabu, 17 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) tetap optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan solid dan positif pada tahun 2025, meski menghadapi kondisi makroekonomi yang dinamis. Optimisme ini didukung oleh strategi bisnis yang fokus pada ekosistem emas dan haji, serta penguatan digitalisasi layanan perbankan.

Plt Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta, menegaskan bahwa manajemen BSI berkomitmen menjaga pertumbuhan sesuai target yang telah ditetapkan. Dalam situasi ekonomi global dan domestik yang penuh tantangan, BSI tetap fokus pada keseimbangan antara pendapatan dan biaya, serta menjaga kualitas pembiayaan.

“BSI berkomitmen untuk menjaga pertumbuhan yang sesuai target. Kami memperhatikan keseimbangan pendapatan dan biaya, serta kualitas pembiayaan agar tetap aman dan berkelanjutan,” ujar Bob dalam konferensi pers paparan kinerja BSI kuartal I-2025 di Jakarta, Rabu, 30 April 2025. 

Bob menjelaskan bahwa salah satu langkah penting adalah memantau kualitas portofolio pembiayaan. BSI tidak hanya mengejar yield tinggi, tetapi juga memastikan bahwa risiko pembiayaan tetap terkendali.

Fokus pada Bisnis Emas dan Ekosistem Haji

Menurut Bob, salah satu keunggulan BSI adalah bisnis emas, yang telah menjadi kekuatan tersendiri dalam portofolio perseroan. Selain itu, ekosistem haji juga menjadi fokus utama, mengingat potensi pasar yang masih sangat besar.

“Saat ini, dari 11 juta orang Indonesia yang sudah memiliki tabungan haji, baru sekitar 5 juta yang benar-benar berangkat. Masih ada jutaan potensi nasabah yang bisa kami sasar,” kata Bob.

Ia menambahkan bahwa potensi pasar haji di Indonesia sangat besar, dengan sekitar 50 hingga 60 juta orang dinilai eligible untuk berhaji. BSI berupaya menangkap peluang ini melalui pendekatan ekosistem layanan yang terintegrasi.

Akselerasi Digitalisasi Layanan Perbankan

Untuk menjangkau nasabah lebih luas dan memberikan kemudahan transaksi, BSI terus memperkuat transformasi digitalnya. Bob menyebut berbagai inisiatif digital telah diluncurkan, yakni aplikasi layanan digital banking untuk segmen korporasi dan komersial.

“Digitalisasi menjadi kunci. Kami ingin layanan bisa diakses lebih cepat, mudah, dan solutif di mana saja,” terang Bob.

Selain itu, BSI juga mengembangkan berbagai channel layanan seperti ATM dan CRM, serta terus berinovasi agar pengalaman nasabah lebih efisien dan nyaman.

Baca Juga: Produk Unik dan Pembiayaan Emas: Strategi Bank Syariah untuk Naik Kelas

Preferensi Syariah Meningkat, BSI Tangkap Peluang

Bob juga mengungkapkan bahwa preferensi masyarakat terhadap layanan keuangan syariah terus meningkat. Berdasarkan survei tahun 2022, terdapat lonjakan signifikan dalam segmen konformis—yakni kelompok yang memiliki preferensi syariah tinggi, meski belum menuntut layanan keuangan yang kompleks.

“Segmen konformis meningkat dari 21% menjadi 29%, dan segmen universalis dari 25% menjadi 30%. Artinya, 59% masyarakat kini menunjukkan minat besar terhadap keuangan syariah. Ini peluang besar yang akan kami tangkap,” jelas Bob.

Emas dan Haji Jadi Andalan Pertumbuhan

Sementara itu, Direktur Keuangan & Strategi BSI, Ade Cahyo Nugroho, menegaskan bahwa fokus utama pertumbuhan bisnis BSI di tahun 2025 akan bertumpu pada dua ekosistem besar: emas dan haji. Keduanya akan didorong melalui pemanfaatan platform digital sebagai kendaraan utama pertumbuhan.

“Kami melihat emas dan haji sebagai dua pilar utama pertumbuhan bisnis BSI tahun ini. Keduanya sangat potensial dan sesuai dengan preferensi masyarakat Muslim Indonesia,” ujar Cahyo.

Ia memaparkan bahwa dari total 22 juta nasabah BSI, baru sekitar 600 ribu yang menggunakan produk emas, dan hanya 120 ribu di antaranya memiliki tabungan emas aktif. Angka tersebut menunjukkan potensi pasar yang masih sangat besar.

“Emas merupakan instrumen investasi yang sederhana dan mudah dipahami masyarakatAll Posts. Kami ingin menjadikan produk emas sebagai solusi keuangan yang mudah dan bisa diakses kapan saja lewat digital platform,” lanjutnya.

Digitalisasi Tabungan Haji Permudah Pendaftaran

Cahyo juga menyoroti perlunya digitalisasi layanan tabungan haji agar proses pendaftaran menjadi lebih mudah dan efisien. Ia mengakui bahwa antrian panjang keberangkatan haji menuntut masyarakat untuk membuka tabungan sejak dini.

“Kami ingin membantu masyarakat membuka tabungan haji lebih cepat. Digitalisasi proses pembukaan rekening dan pendaftarannya akan mempermudah masyarakat,” ungkapnya.

Platform BYOND BSI disebut sebagai salah satu kunci dalam mengakselerasi kemudahan ini, dengan peningkatan jumlah pengguna yang terus tumbuh dari waktu ke waktu.