OJK: Kredit Perbankan Tumbuh 4,82 Persen pada November 2021
- Kredit perbankan November 2021 tumbuh 4,82% didorong peningkatan pada kredit UMKM dan ritel.

Yosi Winosa
Author


Image Source : Medcom.id
(Istimewa)JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan pada November 2021 tumbuh sebesar 4,82% (year on year/yoy) atau 4,17% (year to date/ytd). Pertumbuhan fungsi intermediasi perbankan ini ditopang oleh peningkatan pada kredit usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan ritel.
Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo menyatakan mayoritas sektor utama kredit mencatatkan kenaikan terutama pada sektor pengolahan dan rumah tangga, masing-masing sebesar Rp24,9 triliun dan Rp9,1 triliun. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,48% yoy atau 9,98% ytd.
Di sektor industri keuangan non-bank (IKNB), sektor asuransi berhasil menghimpun premi pada November 2021 sebesar Rp26,1 triliun.
"Rinciannya, premi asuransi jiwa sebesar Rp16,3 triliun, serta asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp9,8 triliun,” kata dia dalam keterangan tertulis seperti dikutip Kamis, 30 Desember 2021.
- Kaleidoskop 2021: Vaksinasi dan Booming Harga Komoditas jadi Kunci Pemulihan Ekonomi
- BNI Kucurkan Kredit Total Rp875 Miliar Untuk Widodo Makmur Unggas (WMUU)
- Waduh, Rachmat Kaimuddin Mengundurkan Diri Sebagai Bos Bukalapak
Selain itu, Fintech peer to peer (P2P) lending pada November 2021 terus mencatatkan pertumbuhan outstanding pembiayaan sebesar 106,6% yoy atau meningkat Rp1,2 triliun (ytd: Rp13,8 triliun). Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan tercatat relatif stabil pada level Rp363 triliun.
Profil risiko lembaga jasa keuangan pada November 2021 masih terjaga dengan rasio NPL net tercatat turun menjadi 0,98% (NPL gross: 3,19%) dan rasio NPF Perusahaan Pembiayaan tercatat sebesar 3,92%.
Sementara restrukturisasi kredit COVID-19 masih melanjutkan tren penurunan di November 2021 dengan kredit restrukturasi COVID-19 tercatat sebesar Rp693,62 triliun (Oktober 2021: Rp714,01 triliun). Jumlah debitur restrukturisasi COVID-19 juga menurun dari 4,4 juta debitur menjadi 4,2 juta debitur.
Sedangkan Posisi Devisa Neto (PDN) November 2021 tercatat sebesar 1,60% atau berada jauh di bawah threshold sebesar 20 persen.
Selain itu, likuiditas industri perbankan pada November 2021 masih berada pada level yang memadai. Hal tersebut terlihat dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit dan Alat Likuid/DPK masing-masing sebesar 154,9% dan 34,24%, di atas ambang batas ketentuan masing-masing pada level 50 persen dan 10 persen.
Dari sisi permodalan, lembaga jasa keuangan juga mencatatkan permodalan yang semakin membaik. Industri perbankan mencatatkan peningkatan capital aquadecy ratio (CAR) menjadi sebesar 25,62% atau jauh di atas threshold.
Sementara itu, industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan risk based capital RBC yang terjaga sebesar 589,5% dan 322,9% yang berada jauh di atas threshold sebesar 120%.Begitu pula pada gearing ratio perusahaan pembiayaan yang tercatat sebesar 1,91 kali atau jauh di bawah batas maksimum 10 kali.
OJK juga terus melakukan sinergi dan koordinasi dengan berbagai kementerian/lembaga, Pemerintah Daerah dan Industri Jasa Keuangan dengan menggelar berbagai kegiatan untuk menggerakkan UMKM, pengembangan KUR klaster, Bank Wakaf Mikro dan vaksinasi massal.
Pasar Modal Terjaga
Seiring dengan fungsi intermediasi perbankan yang terjaga, penghimpunan dana di pasar modal juga terus membaik didorong terkendalinya pandemi COVID-19, pulihnya mobilitas, dan meningkatnya kegiatan perekonomian.
Penghimpunan dana di pasar modal hingga 24 Desember 2021 tercatat mencapai Rp358,4 triliun. Angka ini merupakan nilai tertinggi sepanjang sejarah dengan emiten baru tercatat sebanyak 55 emiten. Penghimpunan dana ini mayoritas digunakan sebagai modal kerja.
“Indikator perekonomian domestik juga menunjukkan perbaikan yang terus berlanjut. Indikator-indikator sektor riil seperti Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur, Indeks Keyakinan Konsumen, Penjualan Kendaraan, dan lowongan pekerjaan terus meningkat,” tambah Anto.
Sementara itu, sektor eksternal juga terus membaik ditunjukkan oleh surplus neraca perdagangan dan peningkatan cadangan devisa. Hal ini diperkirakan dapat menyediakan buffer untuk meredam dampak normalisasi kebijakan moneter bank sentral utama khususnya The Fed.
Sejalan dengan itu, pasar saham Indonesia masih menguat. Hingga 24 Desember 2021, IHSG tercatat menguat sebesar 0,4 persen mtd ke level 6.563 dengan non residen mencatatkan inflow sebesar Rp 0,94 triliun. Sementara di pasar SBN, non residen mencatatkan outflow sebesar Rp 24,99 triliun sehingga mendorong rerata yield SBN naik 8 bps mtd pada seluruh tenor.

Laila Ramdhini
Editor
