OCBC Target Daur Ulang 300 Kg Seragam Bekas Pada 2026
- OCBC menargetkan penanaman 20 ribu pohon mangrove dan mendaur ulang 300 kg seragam bekas pada 2026 sebagai bagian dari komitmen sustainability.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan (sustainability) melalui program pelestarian lingkungan dan ekonomi sirkular.
Pada 2026, perusahaan menargetkan penanaman sekitar 20 ribu pohon mangrove di berbagai wilayah Indonesia serta mengumpulkan 300 kilogram seragam bekas untuk didaur ulang menjadi produk bernilai tambah.
Brand & Communication Head OCBC Aleta Hanafi mengatakan program penanaman mangrove telah berjalan sejak 2024 dan menjadi bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung pelestarian ekosistem pesisir.
Menurutnya, mangrove dipilih karena memiliki peran penting dalam mengurangi abrasi yang semakin mengancam sejumlah wilayah pesisir di Indonesia.
"Sejak tahun 2024 OCBC mempunyai komitmen untuk menanam mangrove di seluruh kepulauan Indonesia. Kami bekerja sama dengan salah satu NGO untuk melakukan penanaman di area-area yang memang membutuhkan," kata Aleta Hanafi di OCBC Tower, Jakarta Selatan, Rabu, 5 Agustus 2026.
Program tersebut telah dilakukan secara bertahap mulai dari Batam, Pulau Jawa, Bali hingga Makassar. Tidak hanya melakukan penanaman, OCBC juga melakukan pemeliharaan selama dua tahun agar tingkat keberhasilan tumbuh pohon tetap terjaga.
Aleta menjelaskan dua tahun pertama menjadi periode paling penting dalam memastikan mangrove dapat tumbuh dengan baik sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan.
Baca juga : BRI Gelar BRIncubator 2026, Percepat UMKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Global
Selain didukung dana perusahaan, OCBC juga melibatkan karyawan dalam berbagai kegiatan edukasi mengenai keberlanjutan agar mereka memahami dampak dari setiap aksi yang dilakukan terhadap lingkungan.
OCBC menegaskan program tersebut bukan kegiatan seremonial, melainkan agenda tahunan perusahaan. "Target penanaman mangrove kami sekitar 20 ribu pohon setiap tahun. Fokus kami juga mengedukasi karyawan karena sustainability dilakukan setiap hari, tidak harus melalui hal-hal besar," ujar Aleta.
Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Daur Ulang Seragam
Selain pelestarian lingkungan, OCBC juga mengembangkan program ekonomi sirkular melalui pengumpulan seragam bekas karyawan yang kemudian didaur ulang.
Aleta mengatakan gerakan tersebut awalnya muncul dari pengelolaan seragam lama di internal perusahaan. Namun kini antusiasme karyawan terus meningkat hingga kantor-kantor cabang secara aktif mengirimkan seragam bekas ke kantor pusat.
Tahun ini, OCBC menargetkan pengumpulan sekitar 300 kilogram seragam bekas, meningkat dibandingkan program sebelumnya.
"Kalau sebuah gerakan dilakukan secara konsisten, hasilnya mulai terlihat. Sekarang justru banyak cabang yang aktif mengirimkan seragam bekas kepada kami," kata Aleta.
Dalam kesempatan yang sama, desainer Billy Tjong menilai hampir semua material fesyen memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali apabila diolah dengan pendekatan yang tepat.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Melambat ke 5,29 Persen, RI Mulai Kehilangan Momentum
Menurutnya, tantangan terbesar industri fesyen bukan terletak pada material, melainkan bagaimana menghadirkan produk yang tetap relevan di tengah perubahan tren.
"Ketika sebuah material bisa dibuat menjadi karya fashion, seharusnya material itu juga bisa dirakit ulang. Saya rasa tidak ada sesuatu yang benar-benar sulit untuk didaur ulang," ujar Billy Tjong.
Billy menambahkan dirinya telah lama memanfaatkan material lama maupun koleksi terdahulu untuk diolah kembali menjadi karya baru. Ia juga pernah mengajak masyarakat mendonasikan denim bekas sebagai bagian dari kampanye memperpanjang umur pakaian.
Menurutnya, semakin banyak contoh nyata yang ditunjukkan kepada masyarakat, semakin besar pula partisipasi publik dalam mendukung gaya hidup berkelanjutan.
Melalui program konservasi mangrove dan pengembangan ekonomi sirkular tersebut, OCBC berharap dapat memberikan dampak lingkungan yang berkelanjutan sekaligus mendorong keterlibatan karyawan dan masyarakat dalam membangun masa depan yang lebih ramah lingkungan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
