Tren Pasar

Menguat, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 28 Agustus 2026?

  • Rupiah menguat 15 poin ke Rp17.729 per dolar AS. Pasar menunggu sinyal The Fed, data tenaga kerja AS, dan perkembangan Selat Hormuz.
Uang rupiah dan dolar AS
Uang rupiah dan dolar AS (Freepik.com/8photo)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil dengan kecenderungan menguat pada pembukaan perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026. Rupiah dibuka di level Rp17.729 per dolar AS, menguat 15 poin atau 0,09% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.744 per dolar AS.

Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga dibuka menguat pada perdagangan pagi ini.

Rupiah sebelumnya melemah pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Mata uang Garuda ditutup turun 19 poin atau 0,11% dari Rp17.725 menjadi Rp17.744 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen global, termasuk rilis data inflasi Amerika Serikat dan perkembangan konflik di Timur Tengah.

PCE AS Sesuai Ekspektasi Pasar

Salah satu perhatian investor adalah data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk Juli 2026.

Indeks harga PCE dan PCE inti masing-masing meningkat 0,2% secara bulanan, sesuai dengan ekspektasi pasar. PCE menjadi salah satu indikator inflasi yang diperhatikan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Data tersebut melengkapi sejumlah indikator inflasi AS sebelumnya, termasuk Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) Juli yang relatif moderat.

Kombinasi data tersebut membuat pasar masih menghitung peluang perubahan kebijakan suku bunga The Fed. Bagi rupiah, arah suku bunga AS penting karena dapat menentukan daya tarik aset berbasis dolar sekaligus memengaruhi arus modal global.

Jika pasar semakin yakin The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berkurang dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih ketat dapat kembali meningkatkan permintaan terhadap dolar.

Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja dan Pidato The Fed

Perhatian investor pada akhir pekan juga tertuju pada data klaim awal tunjangan pengangguran Amerika Serikat serta pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole.

Data pasar tenaga kerja dan pernyataan pejabat bank sentral akan menjadi petunjuk mengenai kondisi ekonomi AS sekaligus arah kebijakan moneter berikutnya.

Bagi pasar valuta asing, perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed menjadi penting karena dapat mengubah preferensi investor dalam menempatkan dana antara aset dolar dan aset negara berkembang.

Selat Hormuz Masih Jadi Perhatian

Selain kebijakan moneter AS, perkembangan Selat Hormuz juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Ibrahim mengatakan Iran dan Oman sedang memfinalisasi perincian kesepakatan untuk mengendalikan Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute penting transportasi minyak dari kawasan Teluk ke pasar global.

Potensi kembali normalnya akses pelayaran melalui Selat Hormuz dapat mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Jika risiko tersebut mereda, tekanan terhadap harga minyak dan inflasi global juga berpotensi berkurang.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan ruang bagi bank sentral, termasuk The Fed, untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Apa yang Berubah Hari Ini?

Penguatan 15 poin pada pembukaan menunjukkan rupiah mulai melakukan rebound setelah terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Namun, pergerakan tersebut masih relatif kecil sehingga belum menunjukkan perubahan tren yang kuat.

Pasar kini menghadapi dua katalis besar sekaligus. Dari AS, investor menunggu sinyal The Fed setelah data PCE keluar sesuai ekspektasi. Dari Timur Tengah, pasar mencermati apakah kesepakatan Iran-Oman dapat benar-benar mengurangi risiko gangguan di Selat Hormuz.

Jika kedua faktor tersebut berkembang positif, rupiah memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Rupiah yang bertahan di kisaran Rp17.700 per dolar AS relatif positif bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan dalam valuta asing. Kurs yang lebih kuat dapat membantu menahan biaya perjalanan luar negeri, pembayaran pendidikan internasional, produk impor, maupun bahan baku yang menggunakan dolar AS.

Perkembangan Selat Hormuz juga penting karena berkaitan dengan harga energi. Jika risiko gangguan pasokan minyak menurun, tekanan terhadap harga minyak global dapat berkurang. Dampaknya dapat membantu mengendalikan biaya energi dan transportasi.

Namun, perubahan tersebut tidak otomatis langsung terlihat pada harga barang. Dibutuhkan pergerakan kurs dan harga minyak yang konsisten sebelum dampaknya diteruskan ke konsumen.

Yang Perlu Dipantau Investor

Investor perlu mencermati pidato The Fed, data pasar tenaga kerja AS, serta perkembangan kesepakatan Iran-Oman terkait Selat Hormuz.

Ketiga faktor tersebut dapat menentukan arah dolar AS, harga minyak, dan arus modal global. Jika dolar melemah dan risiko energi mereda, rupiah berpeluang mempertahankan posisinya di bawah Rp18.000 per dolar AS.