Tren Ekbis

Meneropong Fundamental BMRI di Tengah Isu Boikot

  • Di tengah isu boikot, fundamental Bank Mandiri sebenrnya masih kuat dengan laba tumbuh 24,36%. Simak kinerja dan risiko BMRI selengkapnya.
WhatsApp Image 2026-05-05 at 17.48.48.jpeg
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk kembali menggelar Mandiri Lelang Festival 2026 sebagai upaya optimalisasi aset sekaligus membuka akses investasi bagi masyarakat. (Bank Mandiri)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi sorotan setelah rekening milik Supriyono alias Botok, koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), diblokir pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Rekening tersebut dilaporkan menyimpan dana sekitar Rp80,9 juta yang merupakan gabungan uang pribadi dan donasi masyarakat untuk mendukung rencana aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada 27 Agustus 2026.

Pemblokiran rekening kemudian berkembang menjadi kontroversi di ruang publik dan turut menyeret nama Bank Mandiri. Di media sosial, muncul kritik terhadap bank dan seruan boikot melalui tagar #BoikotBankMandiri.

Meski demikian, Bank Mandiri menyatakan pemblokiran rekening dilakukan sebagai tindak lanjut atas permintaan aparat penegak hukum dan telah mengikuti prosedur serta ketentuan yang berlaku.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun 1,05 Persen, Cek Data Lengkapnya

Fundamental Bank Mandiri Masih Tumbuh Kuat

Di tengah tekanan sentimen tersebut, fundamental Bank Mandiri pada semester I 2026 masih menunjukkan pertumbuhan yang solid.

Bank Mandiri mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,41 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut meningkat 24,36% dibandingkan Rp24,46 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih mencapai sekitar Rp28,5 triliun, naik 25% dari Rp22,8 triliun pada semester I 2025.

Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan non-bunga, efisiensi biaya operasional, serta penurunan beban pencadangan.

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) mencapai Rp47,84 triliun, tumbuh 8,05%. Sementara pendapatan non-bunga meningkat 14,9% menjadi Rp22,78 triliun.

Pada saat yang sama, beban operasional turun 1,42% menjadi Rp26,93 triliun. Penurunan biaya pencadangan juga memberikan kontribusi positif terhadap laba. Beban pencadangan tercatat Rp5,12 triliun atau turun 12,5% dibandingkan periode sebelumnya.

Yang perlu digaris bawahi, laporan konsolidasi Bank Mandiri 2026 tidak lagi memasukkan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai entitas anak. Oleh karena itu, angka semester I 2025 dalam presentasi terbaru disajikan secara proforma tanpa konsolidasi BSI agar perbandingan antarperiode tetap setara.

Kredit Bank Mandiri Tumbuh Hampir 20%

Dari sisi intermediasi, Bank Mandiri juga mencatat ekspansi kredit yang agresif. Total kredit mencapai Rp1.591 triliun pada semester I 2026, tumbuh 19,9% secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan secara keseluruhan. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.710 triliun atau tumbuh 17,1% secara tahunan.

Kualitas aset juga masih terjaga, rasio non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 0,98% dari sebelumnya 1,08%. Dari sisi profitabilitas, return on equity (ROE) berada di level 24,3%, sedangkan return on assets (ROA) mencapai 3,10%.

Angka tersebut menunjukkan Bank Mandiri masih memiliki kemampuan menghasilkan laba yang kuat dari modal maupun aset yang dimiliki.

Meski laba dan kredit tumbuh tinggi, investor tetap perlu mencermati tekanan terhadap net interest margin (NIM).

Baca juga : Hanya 2 Saham yang Naik di Pembukaan LQ45 Hari Ini, Ada MAPI

NIM bank only Bank Mandiri turun menjadi 4,37% pada semester I 2026 dari 4,63% pada semester I 2025. Secara konsolidasi, NIM berada di level 4,56%, turun 25 basis poin secara tahunan dari 4,81%.

Tekanan terhadap NIM menjadi perhatian karena margin bunga merupakan salah satu indikator utama kemampuan bank menghasilkan pendapatan dari aset produktifnya.

Manajemen Bank Mandiri bahkan memangkas panduan NIM 2026. Target sebelumnya berada di kisaran 4,6%-4,8%, kemudian diturunkan menjadi 4,3%-4,5%. Penurunan panduan tersebut mencerminkan adanya tekanan terhadap yield aset produktif dan meningkatnya biaya pendanaan.

Risiko lain berasal dari struktur pendanaan. Pertumbuhan CASA atau current account savings account hanya mencapai 5,69% secara tahunan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total DPK yang mencapai 17,1%.

Baca juga : Menguat, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 26 Agustus 2026?

Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena CASA merupakan sumber dana murah bagi bank. Jika pertumbuhan dana murah tertinggal jauh dari pertumbuhan kredit dan total DPK, bank berpotensi semakin bergantung pada sumber pendanaan dengan biaya lebih tinggi, termasuk deposito.

Ketergantungan terhadap dana mahal pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap NIM.

Dengan kata lain, pertumbuhan kredit Bank Mandiri memang kuat, tetapi tantangannya adalah memastikan ekspansi tersebut tetap ditopang struktur pendanaan yang sehat dan efisien.

Dari sisi valuasi, saham BMRI saat ini berada di area yang relatif menarik dibandingkan level perdagangan sebelumnya.

Rentang harga saham BMRI dalam 52 minggu berada di Rp3.650 hingga Rp5.375. Sementara itu, price to earnings ratio (P/E) berada di sekitar 6,29 kali dan price to book value (P/BV) sekitar 1,2-1,3 kali.