Ketika Sawah Indonesia jadi Rebutan Investor Dunia
- Investor dunia kini melihat sawah sebagai aset iklim yang mampu mengurangi emisi metana. Simak mengapa pertanian rendah emisi menjadi tren investasi baru.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Selama bertahun-tahun, sawah dipandang semata sebagai lahan untuk memproduksi beras. Namun, cara pandang itu mulai berubah. Kini, sawah justru menjadi salah satu aset yang paling diburu investor iklim dunia.
Perubahan tersebut terlihat dari masuknya sejumlah nama besar dalam pendanaan perusahaan agritech Rize, yang berfokus pada pengembangan budidaya padi rendah emisi di Asia Tenggara. Startup yang berbasis di Singapura itu baru saja mengumumkan pendanaan Seri B senilai US$31 juta atau sekitar Rp500 miliar.
Putaran investasi dipimpin BNP Paribas Asset Management Alts dengan partisipasi The Rockefeller Foundation, sementara investor lama seperti Temasek Holdings dan Breakthrough Energy Ventures, perusahaan investasi iklim yang didirikan Bill Gates, kembali menambah investasinya.
Dengan pendanaan terbaru tersebut, total dana yang berhasil dihimpun Rize mencapai US$47 juta atau sekitar Rp760 miliar. Bagi sebagian orang, kabar tersebut mungkin terlihat seperti investasi biasa di sektor pertanian. Namun, di baliknya terdapat perubahan besar dalam cara dunia memandang sawah.
Yang dicari investor global bukan hanya potensi produksi beras, melainkan kemampuan sawah menurunkan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan kesejahteraan jutaan petani kecil.
"Hal ini merupakan pengakuan atas fondasi yang telah kami bangun, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa kami siap menciptakan sistem pangan yang lebih terhubung, tangguh, dan berkelanjutan bagi para petani kecil," ujar Co-Founder dan CEO Rize, Dhruv Sawhney, dalam keterangan resminya.
Sawah jadi Sorotan Dunia karena Metana
Di tengah pembahasan mengenai perubahan iklim, karbon dioksida (CO₂) sering menjadi pusat perhatian. Padahal, terdapat gas rumah kaca lain yang dampaknya jauh lebih kuat dalam jangka pendek, yakni metana (CH₄).
Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Sixth Assessment Report menyebutkan bahwa metana memiliki daya pemanasan sekitar 80 kali lebih besar dibanding karbon dioksida dalam periode 20 tahun pertama setelah dilepaskan ke atmosfer.
Meski umur metana lebih pendek dibanding CO₂, kontribusinya terhadap pemanasan global sangat signifikan. Salah satu sumber utama emisi metana adalah sawah. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) dan berbagai kajian IPCC, sektor budidaya padi menyumbang sekitar 8–12 persen emisi metana antropogenik global.

Emisi tersebut muncul ketika sawah digenangi air secara terus-menerus sehingga menciptakan kondisi tanpa oksigen (anaerob). Dalam kondisi tersebut, mikroorganisme menghasilkan metana yang kemudian dilepaskan ke atmosfer.
Artinya, setiap hektare sawah bukan hanya menghasilkan gabah, tetapi juga memiliki jejak emisi yang kini menjadi perhatian investor, lembaga pembangunan, hingga pasar karbon global.
Mengapa Investor Tertarik?
Masuknya Rockefeller Foundation maupun BNP Paribas bukan semata-mata karena bisnis beras dinilai menjanjikan. Investor melihat peluang yang jauh lebih besar, yakni menghubungkan pertanian berkelanjutan, pembiayaan karbon (carbon finance), dan rantai pasok pangan yang dapat ditelusuri (traceable supply chain).
Head of Natural Capital & Impact Investments BNP Paribas Asset Management Alts, Alexandre Martin-Min, mengatakan model bisnis Rize dinilai mampu menggabungkan manfaat lingkungan dengan potensi imbal hasil investasi.
"Ini sangat selaras dengan strategi kami untuk melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem alam secara berkelanjutan sekaligus memberikan imbal hasil finansial yang kompetitif bagi para investor," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Vice President of Innovative Finance The Rockefeller Foundation, Slav Gatchev. Menurutnya, jutaan petani kecil di Asia masih menghadapi persoalan produktivitas, akses pembiayaan, hingga ketidakpastian pasar.
"Petani kecil di seluruh Asia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengelolaan sumber daya dan akses terhadap pembiayaan hingga ketidakpastian akses pasar. Kami bangga mendukung penerapan praktik regeneratif berbasis teknologi yang dapat meningkatkan hasil panen sekaligus pendapatan petani," ujar dia.
Dengan kata lain, investor tidak hanya membeli teknologi pertanian. Mereka berinvestasi pada sistem yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus manfaat iklim.
Teknik Lama yang Kembali Mendapat Perhatian
Strategi utama yang dikembangkan Rize sebenarnya bukan teknologi baru. Perusahaan menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) yang telah lama direkomendasikan oleh International Rice Research Institute (IRRI) dan jaringan riset pertanian global CGIAR.
Berbeda dengan pola budidaya konvensional yang menjaga sawah selalu tergenang, AWD membiarkan lahan mengalami siklus basah dan kering secara bergantian.
Berbagai penelitian IRRI menunjukkan metode ini mampu:
- mengurangi emisi metana hingga sekitar 50 persen,
- menghemat penggunaan air sekitar 20–30 persen,
- mempertahankan produktivitas bahkan berpotensi meningkatkan hasil panen pada kondisi tertentu,
- menurunkan biaya irigasi dan pemompaan air.
Namun, IRRI juga mengingatkan bahwa keberhasilan AWD sangat bergantung pada kondisi lokal. Sistem irigasi harus mampu mengatur tinggi muka air dengan baik, sehingga metode tersebut tidak bisa diterapkan secara seragam di semua wilayah.
Indonesia Memiliki Peluang Besar
Indonesia merupakan salah satu produsen beras terbesar di dunia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan luas baku sawah nasional masih mencapai jutaan hektare dengan produksi gabah yang menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional.
Skala tersebut membuat Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan pertanian rendah emisi. Rize sendiri melaporkan telah bermitra dengan sekitar 17.000 petani kecil yang mengelola lebih dari 50.000 hektare lahan di Indonesia dan Vietnam.
Pendanaan terbaru akan digunakan untuk memperluas penerapan AWD, memperkuat sistem penelusuran rantai pasok, memastikan kepatuhan terhadap standar residu pestisida, hingga membuka platform yang memungkinkan berbagai penyedia teknologi pertanian menjangkau jaringan petani yang telah dibangun perusahaan.
Dari Penghasil Beras Menjadi Aset Iklim
Meningkatnya minat investor terhadap sawah juga mencerminkan perubahan arah pembiayaan global. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi iklim tidak lagi hanya mengalir ke energi terbarukan seperti panel surya atau kendaraan listrik.
Sektor pertanian mulai dipandang sebagai salah satu kunci pencapaian target Perjanjian Paris karena memiliki potensi besar menekan emisi sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Bagi Indonesia, perubahan ini membuka peluang baru. Apabila praktik budidaya rendah emisi dapat diterapkan secara luas tanpa mengorbankan produktivitas petani, sawah tidak hanya menjadi sumber pangan nasional, tetapi juga aset strategis dalam ekonomi hijau.
Namun, tantangan yang harus dijawab tidak sedikit. Mulai dari kesiapan infrastruktur irigasi, pendampingan petani, pembiayaan transisi, hingga kepastian insentif ekonomi agar manfaat dari penurunan emisi benar-benar dirasakan oleh petani kecil.

Chrisna Chanis Cara
Editor
