Tren Leisure

Ketika Paylater Makin Membelenggu Warga Indonesia

  • Kenapa orang Indonesia suka paylater? Kemudahan akses, FOMO dan keinginan mendapat kepuasan instan ternyata dapat mendorong belanja impulsif.
Ilustrasi paylater.
Ilustrasi paylater. (finshots.in)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater semakin melekat dalam aktivitas belanja masyarakat Indonesia. Kemudahan memperoleh pembiayaan membuat konsumen dapat membeli barang atau jasa terlebih dahulu dan membayarnya kemudian melalui cicilan.

Pertumbuhan tersebut terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Per Mei 2026, baki debet kredit BNPL perbankan mencapai Rp30,1 triliun, tumbuh 37,72% secara tahunan. Jumlah rekening juga mencapai 31,76 juta. Angka ini menunjukkan bahwa pembiayaan BNPL telah menjadi bagian yang semakin besar dari pola konsumsi digital masyarakat.

Fenomena paylater menarik karena pertumbuhannya tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan. Di balik tombol “bayar nanti”, terdapat perubahan perilaku konsumen, kemudahan akses kredit, dorongan belanja impulsif hingga faktor psikologis seperti Fear of Missing Out (FOMO).

Kenapa Orang Indonesia Suka Paylater?

Salah satu alasan utama adalah kemudahan akses. Berbeda dengan kartu kredit yang umumnya membutuhkan proses pengajuan dan persyaratan tertentu, layanan BNPL terintegrasi langsung dengan aplikasi belanja, dompet digital atau platform perjalanan.

Konsumen dapat melihat pilihan cicilan ketika melakukan transaksi. Akibatnya, keputusan membeli tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh jumlah uang tunai yang tersedia saat itu, melainkan oleh kemampuan membayar tagihan pada bulan berikutnya.

OJK mencatat kredit BNPL perbankan pada Januari 2026 mencapai Rp27,1 triliun dengan 31,23 juta rekening. Setahun sebelumnya, baki debetnya masih Rp22,57 triliun.

Pertumbuhan tersebut juga terjadi pada BNPL perusahaan pembiayaan. Pada Mei 2025, pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan mencapai Rp8,58 triliun, tumbuh 54,26% yoy, dengan non-performing financing (NPF) gross 3,74%.

Menariknya, alasan seseorang menggunakan paylater tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan rendahnya literasi keuangan. Penelitian dengan judul “The Influence of FOMO (Fear of Missing Out), Instant Gratification, and Financial Literacy on Buy Now Pay Later (BNPL) Usage among Generation Z University Students in Indonesia ” terhadap 230 mahasiswa Gen Z menunjukkan bahwa FOMO atau takut ketinggalan tren dapat mendorong seseorang ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat. 

Keinginan tersebut kemudian membuat paylater lebih menarik karena barang bisa dibeli sekarang dan dibayar belakangan. Penelitian menemukan FOMO dan keinginan mendapat kepuasan instan berpengaruh terhadap penggunaan BNPL, dengan model penelitian mampu menjelaskan 70% variasi perilaku penggunaan paylater.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa paylater bukan sekadar instrumen keuangan. Layanan ini juga berhubungan dengan bagaimana konsumen merespons promosi, tren, tekanan sosial dan keinginan memperoleh sesuatu saat itu juga.

Ketika “Beli Sekarang” Mendorong Belanja Impulsif

Persoalannya muncul ketika kemudahan pembayaran membuat konsumen lebih mudah melakukan pembelian yang sebelumnya tidak direncanakan.

Penelitian lain berjudul “Pengaruh Fear of Missing Out, Paylater, dan Literasi Keuangan terhadap Impulsive Buying pada Gen Z”, terhadap 385 Gen Z di Jabodetabek menunjukkan jika rasa takut ketinggalan tren atau FOMO dan kemudahan menggunakan paylater dapat membuat seseorang lebih mudah berbelanja secara spontan. 

Misalnya, ketika melihat barang yang sedang viral di media sosial, seseorang merasa harus ikut membeli. Kehadiran paylater membuat keputusan tersebut semakin mudah karena barang dapat dibeli sekarang tanpa harus menunggu uang terkumpul. 

Sebaliknya, orang dengan pemahaman keuangan yang lebih baik cenderung lebih berhati-hati sebelum membeli karena mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan membayar, dan dampak cicilan terhadap kondisi keuangan.

Artinya, semakin kuat dorongan untuk mengikuti tren dan semakin mudah fasilitas pembayaran tersedia, semakin besar pula peluang konsumen melakukan pembelian spontan.

Dalam konteks ini, paylater dapat mengubah cara seseorang memandang harga. Barang seharga Rp1 juta misalnya, secara psikologis terasa berbeda ketika ditampilkan sebagai cicilan beberapa kali pembayaran dibandingkan ketika konsumen harus membayar Rp1 juta sekaligus.

Pada akhirnya, paylater bukan tambahan pendapatan. Layanan tersebut hanya memindahkan waktu pembayaran.

Ketika digunakan untuk kebutuhan produktif atau pembelian yang memang sudah direncanakan dan mampu dibayar, BNPL dapat menjadi alat pembayaran yang praktis. Namun, ketika digunakan untuk mengejar tren, memenuhi FOMO atau membeli barang yang sebenarnya tidak mampu dibayar, fasilitas tersebut dapat berubah menjadi beban.

Dengan pertumbuhan pembiayaan BNPL yang mencapai puluhan triliun rupiah, tantangan berikutnya bukan hanya memperluas akses kredit digital. Konsumen juga perlu memahami biaya, tenor, denda, kemampuan membayar serta konsekuensi mengambil utang sebelum menekan tombol “bayar nanti”.