Kenapa Amerika Latin Jadi Pusat Kartel Narkoba Dunia?
- Dari ladang koka hingga narco-governance, inilah alasan Amerika Latin jadi episentrum narkoba dan bagaimana anak muda terseret ke jaringan kartel.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Amerika Latin selama puluhan tahun dikenal sebagai episentrum kartel narkoba dunia. Kawasan ini menjadi titik utama produksi dan distribusi kokain serta berbagai jenis narkotika lain yang beredar ke pasar global, terutama Amerika Serikat dan Eropa.
Fenomena tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil kombinasi faktor historis, geografis, ekonomi, serta lemahnya penegakan hukum yang telah mengakar lama. Di balik besarnya jaringan perdagangan gelap ini, tersimpan sisi paling tragis: anak-anak muda kerap menjadi korban sekaligus pelaku dalam lingkaran kekerasan kartel.
Dikutip dari laman Encyclopaedia Britannica, Selasa, 24 Februari 2026, sejarah narkotika di kawasan ini berawal dari tanaman koka yang telah dibudidayakan masyarakat adat di wilayah Andes selama ribuan tahun untuk keperluan pengobatan dan ritual tradisional. Namun, memasuki abad ke-20, meningkatnya permintaan kokain dari pasar internasional mengubah daun koka menjadi komoditas bernilai tinggi.
Negara-negara seperti Kolombia, Peru, dan Bolivia kemudian menjadi pusat produksi utama. Bagi petani miskin di wilayah pedalaman, menanam koka kerap menjadi satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup akibat keterbatasan akses pasar legal, minimnya infrastruktur, serta kurangnya dukungan negara.
Dalam banyak kasus, ekonomi ilegal ini tumbuh lebih cepat dibandingkan pembangunan ekonomi formal. Lantas, apa saja penyebab fenomena ini dan bagaimana dampaknya?

Geografi Menguntungkan Kejahatan
Bentang alam Amerika Latin turut memperkuat posisi kartel. Pegunungan Andes yang luas, hutan Amazon yang lebat, serta jaringan sungai yang kompleks menciptakan medan yang sulit dijangkau aparat.
Wilayah-wilayah terpencil ini bukan hanya ideal untuk budidaya tanaman ilegal, tetapi juga menjadi lokasi laboratorium pemrosesan kokain dan jalur distribusi rahasia. Lemahnya pengawasan negara di kawasan perbatasan memperparah situasi, menjadikan banyak daerah sebagai “zona abu-abu” di luar kontrol penuh pemerintah.
Lemahnya Institusi
Di sejumlah wilayah, kehadiran negara sangat minim. Kemiskinan struktural, korupsi, serta lemahnya sistem peradilan menciptakan kekosongan kekuasaan yang kemudian diisi oleh kartel.
Kartel tidak hanya berfungsi sebagai sindikat kejahatan, tetapi juga menjalankan peran semi-pemerintahan: menyediakan lapangan kerja, bantuan keuangan, bahkan perlindungan keamanan bagi masyarakat setempat. Fenomena ini dikenal sebagai narco-governance.
Di beberapa wilayah Meksiko dan Amerika Tengah, kelompok kriminal bahkan mampu memengaruhi politik lokal hingga aparat keamanan.
Kegagalan “Perang Melawan Narkoba”
Sejak era 1970-an, Amerika Serikat menggagas pendekatan militeristik melalui kebijakan “War on Drugs” untuk memberantas jaringan narkoba. Namun, strategi ini dinilai banyak pihak justru kontraproduktif.
Ketika kartel besar di Kolombia dilemahkan pada 1990-an, jaringan tersebut tidak benar-benar hilang. Sebaliknya, mereka terfragmentasi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil, lebih fleksibel, dan kerap lebih brutal, terutama di Meksiko.
Militerisasi juga meningkatkan eskalasi kekerasan. Korban sipil berjatuhan, sementara akar persoalan seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, dan rendahnya akses pendidikan tidak tersentuh secara mendasar.
Ironisnya, sistem pemasyarakatan yang kelebihan kapasitas justru menjadi tempat berkembangnya organisasi kriminal. Di sejumlah negara, penjara berubah menjadi pusat komando operasional kartel.
Salah satu contoh mencolok adalah kelompok Tren de Aragua di Venezuela, yang berkembang dari dalam sistem penjara dan kemudian meluas ke berbagai negara Amerika Latin.
- Baca Juga: Sejarah Panjang Perang Kartel Meksiko
Anak Muda, Korban Paling Rentan
Di tengah kompleksitas persoalan ini, anak-anak muda menjadi sasaran empuk rekrutmen kartel. Dalam jurnal yang diterbitkan Universitas Oxford berjudul “Glock, Emoji Hewan, dan ‘Rulay’: Bagaimana Geng Terkait Kartel Merekrut Anak Muda Ekuador Lewat Konten Viral di TikTok”, disebutkan bahwa sebagian anak muda yang terlibat dalam kartel narkoba besar berasal dari keluarga miskin, lingkungan dengan tingkat kekerasan tinggi, atau rumah tangga yang tidak stabil.
Bagi mereka, kartel menawarkan sesuatu yang tidak diberikan negara: uang cepat, status sosial, dan rasa memiliki. Banyak remaja direkrut sebagai pengintai, kurir, atau penjaga wilayah. Namun, dalam waktu singkat mereka dapat didorong menjadi pelaku kekerasan.
Kartel juga memanfaatkan celah hukum karena anak di bawah umur sering kali mendapat hukuman lebih ringan. Dalam praktiknya, anak-anak ini dianggap sebagai “aset murah” yang mudah digantikan.
Propaganda Digital dan Normalisasi Kekerasan
Di era digital, strategi rekrutmen semakin canggih. Media sosial seperti TikTok dan berbagai platform daring dimanfaatkan untuk mempromosikan gaya hidup glamor ala kartel mobil mewah, uang berlimpah, dan citra maskulinitas ekstrem.
Fenomena narco-marketing ini memperkuat normalisasi kekerasan di kalangan remaja yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik. Ketika kekerasan telah menjadi bagian dari keseharian, batas antara korban dan pelaku pun menjadi kabur.
Kombinasi sejarah panjang produksi koka, keuntungan geografis, lemahnya institusi, serta pendekatan kebijakan yang tidak menyentuh akar persoalan menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Tanpa reformasi struktural mulai dari penguatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi alternatif bagi petani, hingga perbaikan sistem hukum dan pemasyarakatan anak-anak muda Amerika Latin akan terus menjadi generasi yang terjebak dalam pusaran kartel.
Persoalan ini bukan semata isu kriminalitas regional, melainkan masalah global yang berkaitan dengan permintaan pasar internasional, arus keuangan gelap, serta ketimpangan ekonomi dunia.

Muhammad Imam Hatami
Editor
