Tren Pasar

Jangan Asal Ikut IPO, Cek 7 Hal Ini Sebelum Serok Saham Baru

  • Jangan asal beli saham IPO. Ketahui 7 hal penting yang wajib diperhatikan investor, mulai dari prospektus, valuasi, utang, penggunaan dana IPO hingga reputasi underwriter.
3_Istilah_Penting_Tentang_IPO.jpg
Ilustrasi saham IPO. (IDX Channel) (IDX Channel)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) selalu menjadi magnet bagi investor, terutama investor ritel. Tidak sedikit yang menganggap saham IPO sebagai peluang memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat karena harga saham masih berada di level penawaran perdana.

Namun, tidak semua saham IPO berakhir memberikan keuntungan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah emiten justru mengalami penurunan harga setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Karena itu, investor tidak cukup hanya mengikuti tren atau popularitas perusahaan, tetapi juga perlu memahami kondisi fundamental sebelum membeli saham perdana.

Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Senin, 29 Juni 2026, berikut tujuh hal penting yang sebaiknya diperhatikan sebelum memutuskan berinvestasi pada saham IPO,

1. Baca Prospektus, Jangan Hanya Melihat Nama Besar Perusahaan

Langkah pertama yang paling penting adalah membaca prospektus. Dokumen ini memuat seluruh informasi material mengenai perusahaan, mulai dari model bisnis, kondisi keuangan, faktor risiko, struktur permodalan, hingga rencana penggunaan dana hasil IPO.

Dalam prospektus, investor perlu mencermati bagaimana perusahaan menghasilkan pendapatan, risiko-risiko yang berpotensi mengganggu bisnis, perubahan struktur kepemilikan setelah IPO, hingga kebijakan pembagian dividen di masa depan.

Prospektus juga memiliki kekuatan hukum. Apabila terdapat informasi yang menyesatkan atau tidak benar, investor memiliki perlindungan hukum berdasarkan Pasal 80 Undang-Undang Pasar Modal, sementara emiten dapat dikenai sanksi administratif oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Karena itu, prospektus merupakan sumber informasi utama sebelum membeli saham IPO, bukan sekadar formalitas.

Baca juga : Ramai Pidatomology, Benarkah Pidato Prabowo Bikin IHSG Turun?

2. Perhatikan Penggunaan Dana IPO

Investor juga perlu mencermati untuk apa dana hasil IPO akan digunakan. Dana yang dihimpun dari masyarakat idealnya dimanfaatkan untuk memperkuat bisnis, melakukan ekspansi, atau meningkatkan pertumbuhan perusahaan, bukan sekadar menutup kewajiban lama.

Salah satu contohnya adalah PT RANS Entertainment Indonesia Tbk yang menargetkan dana IPO hingga Rp429,25 miliar dengan kisaran harga saham Rp135–Rp170 per lembar. Berdasarkan prospektus, dana tersebut akan dialokasikan untuk beberapa kebutuhan, yaitu:

  • 37,61% untuk belanja operasional konser artis lokal dan internasional.
  • 19,80% untuk akuisisi saham PT Rans Kosmetika Indonesia.
  • 18,64% untuk pembangunan wahana bermain Cipungland.
  • 8,15% untuk pengembangan bisnis kecerdasan buatan (AI) melalui PT Feedloop Global Teknologi.
  • 6,98% untuk pelunasan utang kepada BNI.
  • 8,82% untuk penambahan modal anak usaha RNS.

Dari komposisi tersebut, investor perlu menilai apakah penggunaan dana masih sejalan dengan bisnis utama perusahaan, apakah ekspansi ke sektor baru memiliki prospek yang jelas, atau justru sebagian besar dana digunakan untuk melunasi utang.

Contoh lainnya adalah PT Bach Multi Global Tbk (BACH) yang menargetkan dana IPO hingga Rp307,5 miliar. Berdasarkan prospektus, penggunaan dana akan dialokasikan sebagai berikut,

  • Sekitar Rp91,02 miliar (29,89%) untuk melunasi utang kepada Bank Permata.
  • Sekitar Rp213,48 miliar (70,11%) sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset.

Semakin besar porsi dana IPO yang dialokasikan untuk membayar utang lama, semakin penting bagi investor untuk memahami kondisi keuangan perusahaan. Investor perlu memastikan bahwa setelah IPO, perusahaan memiliki ruang yang cukup untuk bertumbuh, bukan hanya memperbaiki struktur utangnya.

Baca juga : Indeks LQ45 Melemah 1,84 Persen, PGAS dan BRPT Paling Berdarah

3. Pastikan Laba Berasal dari Bisnis Inti

Pertumbuhan laba sering menjadi alasan investor membeli saham IPO. Namun, investor perlu melihat lebih jauh apakah laba tersebut benar-benar berasal dari operasional perusahaan.

Sebagai contoh, laba bersih RANS Entertainment meningkat dari Rp84,4 miliar pada 2023 menjadi Rp97,1 miliar pada 2024, atau tumbuh sekitar 15,04%.

Namun, pada 2025 kondisinya berubah. Pendapatan perusahaan tercatat sekitar Rp353,3 miliar, sementara laba bersih turun menjadi Rp56,7 miliar, atau menyusut sekitar 41,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan juga turun sekitar 13,9%.

Hal yang perlu dicermati, kenaikan laba pada 2024 ternyata ditopang oleh pendapatan non-berulang (non-recurring income) dari pelepasan anak usaha, bukan dari peningkatan kinerja operasional.

Karena itu, investor perlu memastikan sumber laba perusahaan benar-benar berasal dari bisnis inti sehingga lebih berkelanjutan.

4. Cermati Beban Utang Perusahaan

Utang merupakan faktor lain yang harus diperhatikan sebelum membeli saham IPO. Investor sebaiknya melihat total utang perusahaan, rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER), serta jadwal jatuh tempo pinjaman.

Beberapa perusahaan menggunakan sebagian dana IPO untuk memperbaiki struktur permodalannya.

Selain RANS Entertainment yang mengalokasikan 6,98% dana IPO untuk melunasi pinjaman di BNI dan BACH yang menggunakan hampir 29,89% dana IPO untuk membayar utang Bank Permata, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) juga mengalokasikan sekitar Rp100 miliar dari hasil IPO untuk mempercepat pelunasan pinjaman kepada HSBC Indonesia.

Investor perlu memahami apakah pelunasan utang tersebut merupakan bagian dari strategi memperkuat bisnis atau justru menandakan tekanan keuangan perusahaan.

Baca juga : RANS IPO Saham 20 Persen, Hindari Jebakan FOMO Saham Artis

5. Bandingkan Valuasi dengan Perusahaan Sejenis

Harga saham IPO tidak selalu berarti murah. Salah satu cara yang dapat digunakan investor untuk menilai apakah harga saham sudah wajar adalah dengan melihat Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).

PER menunjukkan perbandingan harga saham terhadap laba perusahaan. Secara umum, semakin tinggi nilai PER, semakin mahal harga saham dibandingkan laba yang dihasilkan. Namun, PER yang tinggi juga bisa mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan perusahaan di masa depan sehingga perlu dianalisis lebih lanjut.

Sebagai contoh, PT RANS Entertainment Indonesia Tbk diperkirakan memiliki valuasi PER sekitar 30–38 kali berdasarkan analisis Ajaib Sekuritas. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah emiten media dan hiburan yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), antara lain:

  • PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK): PER sekitar 4,98 kali.
  • PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN): PER sekitar 2,73 kali.
  • PT Visi Media Asia Tbk (VIVA): PER sekitar 0,1 kali.
  • PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (IPO): PER diperkirakan 30–38 kali.

Contoh lainnya adalah PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang melantai di BEI pada Juli 2025 dengan valuasi PER sekitar 43–48 kali, jauh di atas rata-rata industri yang berada di kisaran 10–20 kali.

Sementara itu, PT Niramas Utama Tbk (JELI) juga melakukan IPO dengan valuasi PER sekitar 31,1–38,7 kali.

Perbedaan valuasi tersebut menunjukkan bahwa investor tidak seharusnya hanya melihat harga saham per lembar yang tampak murah. Yang lebih penting adalah membandingkan valuasinya dengan perusahaan sejenis. 

Semakin tinggi PER dibandingkan kompetitor, semakin besar pula ekspektasi pertumbuhan yang harus mampu dipenuhi perusahaan agar valuasi tersebut tetap layak.

6. Kenali Siapa Pemegang Saham Pengendali

Struktur kepemilikan saham juga menjadi informasi penting karena menunjukkan siapa yang mengendalikan perusahaan setelah IPO. Pada RANS Entertainment, sebelum IPO, Raffi Ahmad menguasai sekitar 78,68% saham perusahaan atau sekitar 7,93 miliar saham.

Selain itu, terdapat sejumlah nama yang tercatat sebagai pemegang saham, antara lain Nagita Slavina melalui Harmoni Semesta Investama, Kaesang Pangarep, serta Dony Oskaria. Sementara PT Indonesia Entertainmen Grup memiliki sekitar 9,04% saham.

Pada BACH, sebelum IPO, PT Bach Multi Sukses Investama menguasai 61,55% saham, sedangkan PT Global Telekomunikasi Prima, anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang berada di bawah Grup Djarum, menguasai 30% saham. Setelah IPO, kepemilikan publik hanya sekitar 15,06%.

Komposisi tersebut memberikan gambaran mengenai tingkat kendali pemegang saham lama serta porsi saham yang benar-benar beredar di publik.

Baca juga : IHSG Ditutup Ambles 1,28 Persen, Cek Data Lengkapnya

7. Periksa Reputasi Underwriter

Faktor lain yang tidak kalah penting sebelum membeli saham IPO adalah melihat siapa penjamin pelaksana emisi efek (underwriter). Underwriter merupakan perusahaan sekuritas yang bertugas membantu proses penawaran umum perdana, mulai dari menyusun dokumen, menentukan harga penawaran, hingga memasarkan saham kepada investor.

Pada umumnya, underwriter akan melakukan proses uji kelayakan (due diligence) terhadap perusahaan sebelum IPO. Karena itu, reputasi perusahaan sekuritas yang menjadi underwriter sering dijadikan salah satu pertimbangan oleh investor, meskipun bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas suatu emiten.

Beberapa IPO terbaru ditangani oleh underwriter sebagai berikut:

  • PT RANS Entertainment Indonesia Tbk: PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk.
  • PT JECX: PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk.
  • PT Bach Multi Global Tbk (BACH): PT Erdikha Elit Sekuritas.
  • PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA): BCA Sekuritas, BNI Sekuritas, DBS Vickers Sekuritas, Henan Putihrai Sekuritas, OCBC Sekuritas Indonesia, dan Trimegah Sekuritas Indonesia.

Meski demikian, investor sebaiknya tidak hanya melihat nama besar underwriter. Reputasi penjamin emisi memang dapat menjadi salah satu indikator kredibilitas proses IPO, tetapi keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada analisis menyeluruh, seperti fundamental perusahaan, prospek bisnis, valuasi saham, serta penggunaan dana hasil IPO

Berinvestasi pada saham IPO memang menawarkan peluang memperoleh keuntungan sejak awal perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia. Namun, investor tidak sebaiknya hanya mengikuti tren atau popularitas perusahaan.

Sebelum membeli saham perdana, investor perlu membaca prospektus, memahami penggunaan dana IPO, menilai kualitas laba, mencermati kondisi utang, membandingkan valuasi dengan perusahaan sejenis, melihat struktur pemegang saham, serta memperhatikan reputasi underwriter.

Dengan melakukan analisis terhadap tujuh aspek tersebut, investor memiliki peluang lebih besar untuk mengambil keputusan investasi berdasarkan fundamental perusahaan, bukan sekadar mengikuti euforia pasar.