IHSG Rebound, Mengapa Dana Asing Justru Kabur Rp5,47 T?
- IHSG naik ke 8.212 sepekan ini, tapi asing justru kabur Rp5,47 triliun. Kenapa modal asing keluar saat indeks menguat?

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 277,01 poin atau 3,49% menjadi 8.212 sepanjang periode 9 hingga 13 Februari 2026 kemarin. Indeks bahkan sempat menyentuh level tertinggi mingguan di 8.334 sejalan dengan tren penguatan mayoritas pasar saham global yang juga mencatatkan performa cukup impresif belakangan ini.
Meski angka indeks menghijau, Mirae Asset Sekuritas menilai kenaikan ini belum mencerminkan pemulihan kepercayaan sepenuhnya. Ketidakpastian keputusan MSCI membuat investor asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp5,47 triliun, yang menunjukkan adanya tekanan keluar modal yang sangat masif di bursa saham kita.
Sebanyak 640 saham mencatatkan kenaikan harga, namun investor tetap selektif karena transparansi pasar masih menjadi sorotan utama. Arus modal keluar dari saham kapitalisasi besar seperti BBCA membuktikan bahwa kredibilitas bursa domestik masih perlu ditingkatkan guna menarik kembali minat asing global.
1. Sektor Energi Pimpin Penguatan
Kenaikan IHSG sebesar 3,49% ditopang oleh lompatan sejumlah sektor strategis yang tampil sangat perkasa sepanjang pekan ini. Sektor energi memimpin penguatan dengan kenaikan 11,94%, disusul oleh konsumer primer sebesar 10,70%, serta material dasar yang juga ikut terkerek naik sekitar 9,66%.
Sektor industri dan transportasi turut memberikan kontribusi positif masing-masing sebesar 7,94% dan 6,67% pada penutupan Jumat, 13 Februari 2026. Kenaikan mayoritas pasar saham global turut menjadi pendorong utama bagi investor domestik untuk berani melakukan aksi beli saham secara kolektif pada pasar modal.
Saham kapitalisasi besar menjadi penopang utama, seperti DSSA yang naik 10,48% serta emiten BRMS yang menguat 14,29%. Lonjakan paling fantastis dicatatkan oleh saham BUMI sebesar 29,2% dan PTRO yang melesat hingga 30,13% di tengah ramainya aktivitas transaksi perdagangan bursa saham domestik.
2. Rekor Aksi Jual Bersih Asing
Namun, di balik hijaunya layar bursa, investor asing justru tercatat melakukan aksi jual bersih senilai Rp5,47 triliun sepekan ini. Angka tersebut meningkat sangat drastis jika dibandingkan dengan data pekan sebelumnya yang hanya tercatat sebesar Rp1,13 triliun di pasar modal Indonesia pada saat ini.
Penyumbang utama net sell berasal dari saham BBCA sebesar Rp3,86 triliun dan emiten BUMI senilai Rp2,02 triliun. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun indeks menguat, dana asing justru keluar secara masif dari saham-saham perbankan raksasa yang merupakan penyokong utama bagi pergerakan bursa saham kita.
Secara akumulatif, total aksi jual bersih asing sepanjang tahun berjalan kini telah menembus angka cukup besar senilai Rp16,48 triliun. Tekanan keluar modal ini dinilai masih akan terus membayangi pergerakan pasar saham domestik hingga terdapat kepastian informasi mengenai status bursa di mata dunia.
3. Bayang-Bayang Keputusan MSCI
Bisa dibilang risiko volatilitas pasar saham diprediksi masih akan tetap tinggi sebelum pihak MSCI mengumumkan keputusan final terkait status klasifikasi Indonesia. Ketidakpastian arah kebijakan ini membuat investor cenderung bersikap sangat selektif dalam melakukan penempatan dana besar pada instrumen aset saham yang sedang berisiko.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan saat ini belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya tingkat kepercayaan. Isu transparansi dan kredibilitas pasar masih menjadi poin krusial yang terus diperhatikan secara mendalam oleh para pengelola dana asing profesional dari seluruh penjuru dunia.
Meskipun bursa telah mengeluarkan kebijakan baru guna memperbaiki persepsi, tanda penguatan jangka panjang yang berkelanjutan belum terlihat meyakinkan. “Kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan, meskipun bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan guna memperbaiki persepsi pasar,” ujar Rully pada Senin, 16 Februari 2026.
4. Minat Beli yang Sangat Selektif
Di tengah derasnya arus keluar modal, beberapa emiten tertentu tetap berhasil menarik minat beli investor asing dengan nilai besar. Saham BMRI tercatat memimpin perolehan beli bersih senilai Rp619,36 miliar, disusul oleh emiten SMMA, TLKM, UNTR, hingga EMAS yang juga turut dicermati pasar saham.
Perilaku investor yang sangat selektif ini menandakan bahwa pelaku pasar sedang mencari aman di tengah fluktuasi indeks gabungan. Strategi diversifikasi aset menjadi pilihan paling logis bagi para pemodal guna meminimalisir risiko kerugian akibat ketidakpastian sentimen global dan isu krusial terkait kebijakan MSCI.
Arah pergerakan bursa ke depan diprediksi masih akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi serta arah modal asing. Ketidakpastian terkait perkembangan sentimen eksternal seperti prospek pemangkasan suku bunga The Fed juga tetap menjadi variabel penting yang wajib untuk terus dipantau secara intensif.
5. Peluang dari Sisi Domestik
Rully merinci bahwa peluang penguatan indeks sebenarnya masih terbuka cukup lebar melalui berbagai faktor fundamental makro domestik. Stabilitas makro yang terjaga serta tingkat inflasi rendah diharapkan mampu menjadi katalis positif tambahan bagi saham-saham yang berorientasi kuat pada pertumbuhan pasar dalam negeri.
Potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia juga diyakini dapat mendorong gairah investasi pada sektor riil saat ini. “Dukungan kebijakan pemerintah dalam menjaga likuiditas pasar modal sangat dinantikan untuk memperkuat fondasi kepercayaan investor jangka panjang demi stabilitas ekonomi nasional yang tetap berkelanjutan,” bebernya.
Namun, menurutnya kejelasan status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI tetap akan menjadi penentu utama pergerakan bursa ke depannya. Investor disarankan tetap waspada dan tidak terburu-buru mengambil keputusan besar sebelum terdapat kepastian hukum yang jauh lebih transparan serta kredibel bagi publik.

Alvin Bagaskara
Editor
