IHSG Menguat 1,74 Persen di Awal Ramadan, BBCA dan BBRI Jadi Pendorong
- IHSG dibuka di level 6.362,15 dan naik 1,74% ke 6.379,66 pada awal perdagangan Senin, 3 Maret 2025. Penguatan ini didorong oleh lonjakan saham perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBCA. Simak analisis pasar dan rekomendasi saham terbaru di sini!

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA - Pasar saham Indonesia mengawali pekan ini dengan optimisme tinggi, ditandai dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka di level 6.362,15 dan naik 1,74% ke posisi 6.379,66 pada pukul 09.05 WIB, Senin, 3 Maret 2025. Kenaikan IHSG ini didorong oleh lonjakan harga saham perbankan besar yang mendominasi transaksi pasar.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan kenaikan tertinggi di antara bank jumbo dengan lonjakan 4,46%, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menguat 3,91%. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 3,47%, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dibuka menguat 2,08%.
Tak hanya sektor perbankan, saham emiten lain juga mengalami apresiasi. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 2,13%, sementara saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menguat 2,67%. Kapitalisasi pasar saat pembukaan tercatat mencapai Rp11.044 triliun.
- 5 Tips Puasa Lancar Bagi Penderita Asam Lambung dan Gerd
- INFO BMKG: Gempa Guncang Maluku Tengah
- Saat Ekonomi Tak Pasti, Apakah Fintech Lending Jadi Solusi Penguatan UMKM?
Pergerakan IHSG pada awal perdagangan menunjukkan sentimen positif dari pelaku pasar, dengan rentang pergerakan indeks antara 6.347,1 hingga 6.390,99. Penguatan saham-saham berkapitalisasi besar menjadi katalis utama dalam dorongan awal pekan ini.
Namun, analis memperingatkan bahwa ketidakpastian masih membayangi pasar. Retail Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Indri Liftiany Travelin Yunus, mengungkapkan bahwa ada lima sentimen utama yang memengaruhi pasar pada pekan lalu.
“Pertama, Presiden AS Donald Trump berencana mengenakan tarif impor sebesar 25% terhadap Uni Eropa, yang dapat memicu inflasi dan menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, “ jelasnya dalam riset pada Minggu 2 Maret 2025.
Kedua, China meluncurkan stimulus US$55 juta untuk menopang sistem perbankannya, yang dijadwalkan terealisasi pada Maret 2025. Ketiga, Morgan Stanley menurunkan peringkat saham Indonesia dalam indeks MSCI dari equal-weight menjadi underweight, yang membuat investor asing kurang tertarik terhadap pasar saham Indonesia.
Keempat, Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan Badan Pengelola Investasi Danantara, yang bertugas mengelola seluruh aset dan dividen BUMN. Kelima, nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh Rp16.574 per dolar AS, meningkatkan risiko capital outflow.
Dengan mempertimbangkan sentimen ini, IPOT memperkirakan IHSG bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah, dalam rentang support 6.660 dan resistance 6.880. Indri menekankan bahwa investor harus mencermati data ekonomi global dan domestik demi meraih keuntungan di tengah ketidakpastian pasar.
Dari sisi global, pelaku pasar akan memperhatikan data Indeks NBS PMI Manufacturing China, Indeks PMI Manufacturing AS Februari, serta laporan Non-Farm Payrolls AS, yang menjadi pertimbangan bagi The Fed dalam menentukan kebijakan moneternya.
“Jika data menunjukkan ekonomi AS masih kuat, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan. Di dalam negeri, pasar akan menyoroti data Indeks PMI Manufaktur Indonesia dan tingkat inflasi Februari untuk menentukan arah pergerakan IHSG,” tambahnya.
Indri memperkirakan aksi jual besar-besaran atau sell-off masih berpotensi terjadi, terutama dari investor asing. Oleh karena itu, pelaku pasar diharapkan tetap berhati-hati dalam menyusun strategi investasi guna mengantisipasi volatilitas yang tinggi.
Berdasarkan pertimbangan itu, IPOT merekomendasikan buy saham PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) di pekan ini.

Chrisna Chanis Cara
Editor
