Tren Global

Gaji Green Job vs Pekerjaan Konvensional: Mana Lebih Besar?

  • Berdasarkan data Bappenas 2023, pekerja green job di Indonesia rata-rata mendapat upah lebih tinggi sekitar Rp310.000 per bulan dibanding pekerja non-hijau.
images (40).jpeg
Green AI (Forbes)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Definisi green job lebih luas dari yang kamu kira. Green job mencakup teknisi panel surya, analis emisi karbon, insinyur energi terbarukan, konsultan sustainability, hingga marketing di perusahaan ramah lingkungan. 

Green job bukan pekerjaan kerelawanan atau hanya NGO, green job tersebar di sektor swasta, pemerintah, maupun LSM, dan dari sisi penghasilan harus layak secara ekonomi. Berdasarkan data Bappenas 2023, pekerja green job di Indonesia rata-rata mendapat upah lebih tinggi sekitar Rp310.000 per bulan dibanding pekerja non-hijau.

Selisih gaji muncul karena supply tenaga ahli masih sangat langka. Permintaan naik cepat, tapi jumlah tenaga kerja yang kompeten di bidang ini masih jauh dari cukup. Hukum ekonomi dasar berlaku, langka = mahal.

Kamu tidak perlu mulai dari nol, hard skill untuk pekerjaan konvensional dan green job sebenarnya hampir sama. Pekerja yang berpindah ke green job hanya perlu menambah atau mengasah skill serta upgrade pengetahuan soal lingkungan. Artinya, modal yang kamu punya sekarang sudah cukup jadi fondasi.

Baca juga : Harga dan Cara Beli Tiket Konser LANY Jakarta 2026

Berapa selisih gajinya di Indonesia?

Data resmi Bappenas, pekerja hijau lebih unggul Rp310.000/bulan. Rata-rata upah pekerja hijau lebih tinggi hampir Rp310.000 dibandingkan pekerja non-hijau. Saat ini jumlah pekerja hijau baru sekitar 3,7 juta orang atau 2,6 % dari total tenaga kerja nasional. Angka kecil itu justru sinyal: persaingannya belum ketat.

Di perusahaan besar, angkanya jauh lebih menarik. Perusahaan seperti Pertamina dan Vale Indonesia menawarkan program pengembangan khusus green job dengan gaji awal Rp12–15 juta signifikan di atas rata-rata UMR nasional.

Gaji 2 digit bukan mitos, Indonesia menargetkan 3,2 juta green job baru dengan rata-rata gaji 2 digit seiring percepatan transisi energi menuju net zero emission 2060.

Kenapa gap gaji akan makin besar ke depan?

Pertumbuhan sektornya bukan main-main. Menurut World Economic Forum, sektor green job diprediksi tumbuh 30% setiap tahun hingga 2030. Ini bukan tren sesaat ini restrukturisasi ekonomi global.

Kebutuhan tenaga kerja langsung di energi terbarukan saja sudah masif. Pada 2030 dibutuhkan lebih dari 430.000 tenaga kerja langsung di sektor energi terbarukan belum termasuk pekerjaan tidak langsung seperti analis, konsultan, dan legal yang ikut tumbuh.

Energi hijau jauh lebih padat karya dibanding fosil. Investasi di energi terbarukan bisa menciptakan 70% lebih banyak lapangan kerja dibanding sektor energi fosil. Artinya, setiap rupiah investasi hijau menghasilkan lebih banyak pekerjaan dan lebih banyak permintaan tenaga ahli.

Siapa yang paling diuntungkan?

  • Pekerja dengan produktivitas tinggi.
    • Analisis Bappenas menunjukkan tenaga kerja hijau secara garis besar memiliki tingkat produktivitas yang lebih baik dari tenaga kerja konvensional. Green job cenderung menyerap orang dengan keahlian spesifik dan pendidikan lebih tinggi.
  • Perempuan
    • kalau mau masuk sekarang. Pekerja hijau masih didominasi laki-laki sebesar 86,8 persen, sementara perempuan hanya 13,2 persen. Ini gap besar yang artinya persaingan bagi perempuan masih rendah peluang masuk lebih terbuka.
  • Gen Z dan milenial yang cari makna, bukan cuma gaji.
    • Survei Deloitte 2024 menunjukkan 86% Gen Z dan 89% milenial menganggap sense of purpose dalam pekerjaan sebagai hal penting. Bahkan 50% Gen Z mengaku pernah menolak pekerjaan karena tidak sejalan dengan nilai etika pribadi mereka, termasuk isu lingkungan. Green job menjawab dua kebutuhan sekaligus: gaji kompetitif dan dampak nyata.

Baca juga : Naik MRT vs Motor: Hemat Mana untuk Pekerja Jakarta?

Apa yang perlu kamu tahu?

  • Gaji lebih tinggi? Ya, rata-rata Rp310.000/bulan di atas pekerja konvensional, dengan potensi gaji awal Rp12–15 juta di perusahaan besar.
  • Butuh skill baru dari nol? Tidak. Keahlianmu yang sekarang sudah jadi fondasi tinggal tambah pengetahuan lingkungan dan sertifikasi relevan.
  • Kapan waktu terbaiknya masuk? Sekarang, supply masih jauh di bawah demand, dan pemerintah sedang agresif mendorong transisi energi.
  • Siapa yang paling berpeluang? Perempuan muda dengan skill teknis atau bisnis, ruang masih sangat terbuka.