Dampak Berakhirnya Gencatan Senjata Iran-AS Bagi Ekonomi Indonesia
- Gencatan senjata AS-Iran resmi berakhir. Simak dampaknya terhadap harga minyak dunia, BBM, rupiah, inflasi, dan ekonomi Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang baru ditandatangani kurang dari sebulan lalu resmi runtuh. Militer AS melancarkan serangan lanjutan terhadap sejumlah target Iran di kawasan Selat Hormuz.
Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan eskalasi konflik berpotensi memicu guncangan besar terhadap keamanan dan ekonomi global.
Bagi Indonesia, dampaknya mulai terasa. Harga minyak dunia kembali melonjak, nilai tukar rupiah tertekan, dan potensi penurunan harga BBM nonsubsidi yang sebelumnya diperkirakan terjadi kini terancam batal.
Perkembangan ini menjadi konfirmasi atas kekhawatiran banyak analis bahwa gencatan senjata AS-Iran sejak awal hanyalah perdamaian sementara yang menyimpan potensi konflik baru.
AS Serang Iran Setelah Gencatan Senjata Berakhir
Konflik kembali memanas setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz pada 7 Juli 2026. Tiga kapal tanker, termasuk kapal LNG Qatar dan tanker minyak mentah Arab Saudi, dilaporkan menjadi sasaran serangan di perairan dekat Oman.
Sehari kemudian, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) meluncurkan operasi militer besar-besaran terhadap lebih dari 80 target Iran. Sasaran meliputi lebih dari 60 kapal cepat Garda Revolusi Islam (IRGC) di Bandar Abbas dan Sirik.
Pada saat yang sama, Washington juga mencabut izin umum penjualan minyak Iran, yang sebelumnya menjadi salah satu konsesi utama dalam nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata.
Presiden Donald Trump kemudian menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan menyebut negosiasi lanjutan sebagai "buang-buang waktu".
Baca juga : Trump Puji Orang Iran Cerdas, Ternyata IQ Mereka di Atas AS
"Pertanyaan yang sangat menarik. Menurut saya, kesepakatan itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka," ungkap Trump kepada wartawan di Ankara, dikutip Reuters.
Iran merespons dengan menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Memasuki Kamis, 9 Juli 2026, CENTCOM kembali mengonfirmasi serangan lanjutan yang menargetkan radar pantai, sistem pertahanan udara, hingga posisi rudal antikapal Iran guna melemahkan kemampuan Teheran mengancam pelayaran di Selat Hormuz.
Pasar energi bereaksi cepat terhadap eskalasi konflik. Harga minyak Brent yang sempat berada di kisaran US$71,57 per barel pada awal Juli melonjak menjadi sekitar US$78,76 per barel, atau naik sekitar 10% per kamis, 9 Juli 2026.
Sementara minyak WTI meningkat dari sekitar US$68,58 menjadi US$74,24 per barel, atau naik lebih dari 8%.
Kenaikan dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan minyak global setelah sejumlah kapal tanker membatalkan pelayaran melewati Selat Hormuz dan perusahaan asuransi perang mulai menyarankan penghentian sementara perjalanan di kawasan tersebut.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
1. Potensi Kenaikan Harga BBM
Sebelum konflik kembali memanas, terdapat ekspektasi harga BBM nonsubsidi berpotensi turun apabila harga minyak bertahan di kisaran US$70 per barel, kini skenario tersebut berubah.
Harga Pertamax masih berada di level Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green tetap Rp17.000 per liter. Namun apabila harga minyak bertahan di atas kisaran US$75–80 per barel dalam beberapa waktu ke depan, peluang penyesuaian harga ke atas semakin besar.
Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar memang belum berubah, tetapi lonjakan harga minyak berpotensi memperbesar beban subsidi energi pemerintah.
Iran : 8 Fakta Timnas Iran yang Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026
2. Rupiah Kembali Tertekan
Eskalasi geopolitik langsung memicu sentimen risk-off di pasar keuangan. Pada perdagangan Kamis pagi, 9 Juli 2026, rupiah melemah hingga sekitar Rp18.080 per dolar AS, dibanding penutupan sehari sebelumnya di kisaran Rp18.014 per dolar AS.
Selain dipicu konflik Timur Tengah, pelemahan rupiah juga diperburuk oleh risalah FOMC The Fed yang kembali menunjukkan sikap hawkish.
Kenaikan harga minyak turut meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia untuk impor energi sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar.
3. Risiko terhadap Portofolio Investor
Konflik geopolitik biasanya meningkatkan volatilitas pasar. Sektor energi dan komoditas cenderung memperoleh sentimen positif ketika harga minyak naik. Sebaliknya, sektor yang bergantung pada biaya energi tinggi seperti transportasi, logistik, dan manufaktur berpotensi menghadapi tekanan.
Investor juga perlu mewaspadai pergerakan rupiah karena pelemahan nilai tukar dapat memengaruhi kinerja emiten yang memiliki utang dalam dolar AS.
Dengan Trump menyatakan negosiasi lanjutan sebagai "buang-buang waktu" dan Iran terus melakukan serangan balasan, peluang tercapainya perdamaian baru dalam waktu dekat dinilai semakin kecil.
Selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda, pasar diperkirakan akan tetap dibayangi risiko lonjakan harga minyak, pelemahan mata uang negara berkembang, hingga meningkatnya tekanan inflasi global.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah bukan sekadar isu luar negeri. Dampaknya dapat langsung dirasakan melalui harga BBM, nilai tukar rupiah, biaya logistik, hingga daya beli masyarakat.
Gencatan senjata yang sempat memberi harapan stabilitas kini benar-benar berakhir, dan konsekuensi ekonominya mulai terasa di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Chrisna Chanis Cara
Editor
