Benar-Benar Mengerikan, Inilah Efek Neraka Perang Nuklir
- Pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin dan sejumlah pejabat Rusia lainnya telah mendorong banyak pihak cemas bahwa perang nuklir tidak bisa dihindarkan.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA- Perang nuklir menjadi topik yang sering diperbincangkan akhir-akhir ini. Pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin dan sejumlah pejabat Rusia lainnya telah mendorong banyak pihak cemas bahwa perang nuklir tidak bisa dihindarkan.
Sebuah laporan panjang Bulletin of The Atomic Science baru-baru ini tentang bagaimana ngerinya perang nuklir mengatakan bahwa tidak akan ada tempat untuk bersembunyi dari bencana perang nuklir. Entah itu saat perang terjadi, atau jauh setelah perang berhenti.
Dalam hitungan mikrodetik ledakan senjata nuklir, energi yang dilepaskan dalam bentuk sinar-X memanaskan lingkungan sekitarnya. Membentuk, bola api dari udara yang sangat panas. Di dalam bola api, suhu dan tekanannya sangat ekstrem sehingga semua materi berubah menjadi plasma panas dengan inti panas menyamai suhu inti Matahari yang berjuta-juta derajat.
Bola api setelah ledakan senjata nuklir 300 kiloton seperti hulu ledak termonuklir W87 yang dikerahkan pada rudal Minuteman III Amerika, dapat tumbuh hingga diameter lebih dari 600 meter dan cahanya akan membutakan mata dalam beberapa detik.
- Kinerja Baik APBN 2022 Berlanjut, Sri Mulyani: Jadi Bekal Tahan Gejolak Dunia
- Pemerintah Minta Masyarakat Waspadai Penularan COVID-19 di Awal Tahun 2023
- IHSG Sepekan Naik 2,98 Persen, Berikut Daftar Top Gainers dan Losers
Cahaya yang dipancarkan oleh panas bola api yang mencakup lebih dari sepertiga energi ledakan senjata termonuklir, akan sangat kuat sehingga memicu kebakaran dan menyebabkan luka bakar parah pada jarak yang jauh. Kilatan termal dari senjata nuklir 300 kiloton dapat menyebabkan luka bakar tingkat pertama sejauh 13 kilometer dari titik nol.
Semburan udara dari ledakan 300 kiloton akan menghasilkan ledakan dengan tekanan lebih dari 5 pon per inci persegi hingga jarak 4,7 kilometer. Ini adalah tekanan yang cukup untuk menghancurkan sebagian besar rumah, gedung pencakar langit, dan menyebabkan kematian yang meluas. Semuanya akan berlangsung dalam waktu kurang dari 10 detik setelah ledakan.
Radioaktif
Tidak lama setelah ledakan nuklir melepaskan sebagian besar energinya dalam bentuk radiasi, panas, dan ledakan, bola api mulai mendingin dan bergerak naik, menjadi awan jamur. Di dalamnya terdapat campuran atom-atom terbelah yang sangat radioaktif. Mereka akan mulai keluar dari awan saat tertiup angin.
Kejatuhan radioaktif ini akan mengekspos korban pasca perang dengan dosis radiasi pengion yang hampir mematikan.
Tingkat keparahan kontaminasi kejatuhan tergantung pada hasil fisi bom dan ketinggian ledakannya. Untuk senjata dengan daya ratusan kiloton, area bahaya langsung dapat mencakup ribuan kilometer persegi dari lokasi peledakan. Bahkan dengan melawan arah angina.
Tingkat radiasi pada awalnya akan didominasi oleh isotop yang paling energik dan paling berbahaya bagi sistem biologis. Efek mematikan yang akut dari kejatuhan akan berlangsung dari hari hingga minggu. Itulah sebabnya pihak berwenang merekomendasikan tinggal di dalam selama setidaknya 48 jam, untuk memungkinkan tingkat radiasi menurun.
Karena efeknya relatif tertunda memperkirakan korban dari kejatuhan itu sulit. Jumlah kematian dan cedera akan sangat bergantung pada tindakan yang diambil orang setelah ledakan.
Tetapi di sekitar ledakan, bangunan akan benar-benar runtuh, dan orang yang selamat tidak akan bisa berlindung. Orang yang selamat menemukan diri mereka kurang dari 460 meter dari ledakan nuklir 300 kiloton akan menerima dosis radiasi 500 pengion. Secara umum diyakini bahwa manusia yang terpapar radiasi sekitar 500 pengion kemungkinan akan mati tanpa perawatan medis.
Tetapi pada jarak yang sangat dekat dengan ground zero, ledakan nuklir 300 kiloton hampir pasti akan membakar dan meremukkan setiap manusia hingga mati.
Sebagai gambaran satu ledakan hulu ledak nuklir 300 kiloton modern di kota seperti New York akan menyebabkan lebih dari satu juta orang tewas. Dan sekitar dua kali lebih banyak orang cedera serius dalam 24 jam pertama setelah ledakan. Hampir tidak ada yang selamat dalam radius beberapa kilometer dari lokasi ledakan.
Itu hanya karena satu ledakan. Padahal dalam perang nuklir, ratusan atau ribuan ledakan akan terjadi dalam hitungan menit. Sebuah studi memperkirakakn perang nuklir regional antara India dan Pakistan yang melibatkan sekitar 100 senjata nuklir 15 kiloton yang diluncurkan di daerah perkotaan akan mengakibatkan 27 juta kematian langsung.
Sementara perang nuklir global habis-habisan antara Amerika Serikat dan Rusia dengan lebih dari empat ribu hulu ledak nuklir 100 kiloton akan menyebabkan minimal 360 juta kematian cepat.
Dalam perang nuklir habis-habisan antara Rusia dan Amerika Serikat, kedua negara tidak akan membatasi untuk menembakkan rudal nuklir di wilayah lawannya saja. Sangat mungkin senjata juga diarahkan ke negara lain yang juga memicu pembalasan. Bersama-sama Inggris, Cina, Prancis, Israel, India, Pakistan, dan Korea Utara saat ini memiliki perkiraan total lebih dari 1.200 hulu ledak nuklir.
Awal bencana
Betapapun mengerikannya statistik itu. Ratusan juta orang tewas dan terluka dalam beberapa hari pertama konflik nuklir. Dan itu hanya akan menjadi awal dari sebuah bencana yang pada akhirnya akan meliputi seluruh dunia.
Perubahan iklim global, kontaminasi radioaktif yang meluas, dan keruntuhan masyarakat akan terjadi di mana-mana. Penderitaan akan dihadapi oleh para penyintas perang nuklir selama beberapa dekade.
Dua tahun setelah perang nuklir entah tu kecil atau besar, kelaparan saja bisa lebih dari 10 kali lebih mematikan daripada ratusan ledakan bom yang terlibat dalam perang itu sendiri.
Sejak tahun 1980-an ketika ancaman perang nuklir mencapai puncak baru, para ilmuwan telah menyelidiki efek jangka panjang perang nuklir yang meluas pada sistem Bumi.
- Anak Muda Susah Kaya, Tinggalkan 5 Kebiasaan Buruk Ini
- Investor Asing Diam-diam Tadah Saham GOTO di Harga Bawah
- Masih Tersegel, iPhone Generasi Pertama Dijual Rp466 Juta
Menggunakan model iklim radiasi-konvektif yang mensimulasikan profil vertikal suhu atmosfer, ilmuwan Amerika pertama kali menunjukkan bahwa musim dingin nuklir dapat terjadi dari asap yang dihasilkan oleh kebakaran hutan besar yang dipicu oleh senjata nuklir.
Dua ilmuwan Rusia kemudian melakukan pemodelan iklim tiga dimensi pertama yang menunjukkan bahwa suhu global akan turun lebih rendah di darat daripada di lautan. Ini berpotensi menyebabkan keruntuhan pertanian di seluruh dunia.
Panas dan ledakan dari ledakan termonuklir begitu kuat sehingga dapat memicu kebakaran skala besar baik di perkotaan maupun pedesaan. Ledakan 300 kiloton misalnya dapat menyebabkan kebakaran massal dengan radius minimal 5,6 kilometer. Bahkan dalam cuaca hujan sekalipun. Udara di daerah itu akan berubah menjadi debu, api, dan asap.
Tetapi perang nuklir tidak hanya akan membakar satu kota. Tetapi ratusan kota secara bersamaan. Bahkan perang nuklir regional — katakanlah antara India dan Pakistan — dapat menyebabkan badai api yang meluas di kota-kota dan kawasan industry. Ini berpotensi menyebabkan perubahan iklim global, mengganggu setiap bentuk kehidupan di Bumi selama beberapa dekade.
Asap dari kebakaran massal setelah perang nuklir dapat menyuntikkan jelaga dalam jumlah besar ke stratosfer atau atmosfer atas bumi.
Perang nuklir habis-habisan antara India dan Pakistan, dengan kedua negara meluncurkan total 100 hulu ledak nuklir dengan hasil rata-rata 15 kiloton, dapat menghasilkan muatan stratosfer sekitar 5 juta ton atau teragram jelaga.
Sebagai perbandingan, bencana kebakaran hutan di Kanada pada tahun 2017 dan Australia pada tahun 2019 serta 2020 masing-masing menghasilkan 0,3 teragram dan 1 teregram asap. Namun, analisis kimia menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil asap dari kebakaran ini yang merupakan jelaga murni. Karena hanya kayu yang terbakar.
Kebakaran kota setelah perang nuklir akan menghasilkan lebih banyak asap, dan fraksi yang lebih tinggi akan menjadi jelaga. Tetapi dua episode kebakaran hutan besar-besaran ini menunjukkan bahwa ketika asap disuntikkan ke stratosfer yang lebih rendah, asap itu dipanaskan oleh sinar matahari dan melayang di ketinggian 10 hingga 20 kilometer. Ini memperpanjang waktu mereka berada di stratosfer.
Inilah mekanisme yang sekarang memungkinkan para ilmuwan untuk mensimulasikan dampak jangka panjang perang nuklir dengan lebih baik. Dengan model mereka, para peneliti dapat secara akurat mensimulasikan asap dari kebakaran hutan besar ini, yang selanjutnya mendukung mekanisme yang menyebabkan musim dingin nuklir.
Respon iklim dari letusan gunung berapi juga terus menjadi dasar untuk memahami dampak jangka panjang dari perang nuklir. Ledakan vulkanik biasanya mengirim abu dan debu ke stratosfer di mana ia memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa. Proses yang menghasilkan pendinginan sementara permukaan bumi.
Demikian juga, dalam teori musim dingin nuklir. Efek dari injeksi besar-besaran jelaga ke stratosfer dari kebakaran setelah perang nuklir akan menyebabkan pemanasan stratosfer, penipisan ozon, dan pendinginan di permukaan di bawah awan ini.
Letusan gunung berapi juga berguna karena besarnya dapat menyamai, atau bahkan melampaui tingkat ledakan nuklir. Sebagai misal gunung berapi bawah laut Hunga Tonga yang meletus pada 2022 melepaskan energi ledakan sebesar 61 megaton setara TNT. Ini besar dari Tsar Bomba yang memiliki kekuatan ledakan 50 Megaton.
Gumpalan letusan gunung mencapai ketinggian hingga sekitar 56 kilometer. Menyuntikkan lebih dari 50 teragram. Bahkan hingga 146 teragram uap air ke stratosfer di mana ia akan tinggal selama bertahun-tahun. Injeksi air yang begitu besar untuk sementara dapat berdampak pada iklim . Meskipun berbeda dari jelaga.
Efek di stratosfer
Suntikan jelaga stratosfer yang terkait dengan skenario perang nuklir akan menyebabkan berbagai perubahan iklim, termasuk transformasi atmosfer, lautan, dan daratan. Perubahan iklim global seperti itu akan lebih tahan lama
Setelah jelaga disuntikkan ke atmosfer bagian atas, jelaga dapat tinggal di sana selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Ini pada akhirnya akan menghalangi sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi dan menurunkan suhu.
Pada ketinggian tinggi yakni sekitar 20 kilometer di atasnya dekat khatulistiwa dan 7 kilometer di kutub, asap yang disuntikkan oleh badai api nuklir juga akan menyerap lebih banyak radiasi dari matahari, memanaskan stratosfer dan mengganggu sirkulasi stratosfer.
- Kinerja Baik APBN 2022 Berlanjut, Sri Mulyani: Jadi Bekal Tahan Gejolak Dunia
- Pemerintah Minta Masyarakat Waspadai Penularan COVID-19 di Awal Tahun 2023
- IHSG Sepekan Naik 2,98 Persen, Berikut Daftar Top Gainers dan Losers
Di stratosfer, kehadiran aerosol karbon hitam yang sangat menyerap sinar akan menghasilkan suhu stratosfer yang sangat meningkat. Misalnya, dalam skenario perang nuklir regional yang mengarah pada injeksi jelaga 5 Teragram, suhu stratosfer akan meningkat 30 derajat Celcius setelah empat tahun.
Pemanasan ekstrim di stratosfer akan meningkatkan hilangnya lapisan ozon yang melindungi manusia dan kehidupan lain di Bumi dari radiasi ultraviolet.
Simulasi telah menunjukkan bahwa perang nuklir regional yang berlangsung selama tiga hari dan menyuntikkan 5 teragram jelaga ke stratosfer akan mengurangi lapisan ozon sebesar 25 persen secara global. Untuk memulihkan akan memakan waktu 12 tahun. Perang nuklir global yang menyuntikkan 150 teragram asap stratosfer akan menyebabkan 75 persen hilangnya ozon global, dengan penipisan yang berlangsung selama 15 tahun.
Efek di darat
Injeksi jelaga di stratosfer akan menyebabkan perubahan di permukaan bumi, termasuk jumlah radiasi matahari yang diterima, suhu udara, dan curah hujan.
Hilangnya lapisan ozon pelindung Bumi akan mengakibatkan beberapa tahun sinar ultraviolet yang sangat tinggi . Jelas akan bahaya bagi kesehatan manusia dan produksi makanan.
Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa hilangnya ozon setelah perang nuklir global akan menyebabkan indeks ultraviolet tropis di atas 35, dimulai tiga tahun setelah perang dan akan berlangsung selama empat tahun.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika menganggap indeks UV 11 sebagai bahaya ekstrim. 15 menit paparan indeks UV 12 menyebabkan kulit manusia yang tidak terlindungi akan mengalami sengatan parah dari matahari. Kondisi ini juga juga menghambat fotosintetis tanaman.
Asap yang terangkat ke stratosfer akan mengurangi jumlah radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi. Mengurangi suhu permukaan global dan curah hujan secara dramatis.
Perang nuklir antara India dan Pakistan yang menyebabkan pemuatan stratosfer yang relatif sederhana sebesar 5 teragram jelaga dapat menghasilkan suhu terendah di Bumi dalam 1.000 tahun terakhir yakni suhu di bawah Zaman Es Kecil pasca-abad pertengahan. Perang nuklir regional dengan injeksi jelaga stratosfer 5 teragram berpotensi membuat suhu rata-rata global turun 1 derajat Celcius.
Perang nuklir global yang menyuntikkan 150 teragram jelaga ke stratosfer dapat membuat suhu turun 8 derajat Celcius. Tiga derajat lebih rendah dari suhu Zaman Es.
- Anak Muda Susah Kaya, Tinggalkan 5 Kebiasaan Buruk Ini
- Investor Asing Diam-diam Tadah Saham GOTO di Harga Bawah
- Masih Tersegel, iPhone Generasi Pertama Dijual Rp466 Juta
Dalam skenario perang nuklir apa pun, perubahan suhu akan memiliki efek terbesar pada pertanian di dataran menengah dan tinggi. Suhu di bawah titik beku juga dapat menyebabkan perluasan es laut dan salju terestrial yang signifikan. Pada akhirnya akan menyebabkan kekurangan makanan dan mempengaruhi pengiriman ke pelabuhan-pelabuhan penting di mana es laut sekarang tidak menjadi faktor.
Curah hujan rata-rata global setelah perang nuklir juga akan turun secara signifikan karena jumlah radiasi matahari yang lebih rendah yang mencapai permukaan akan mengurangi suhu dan tingkat penguapan air.
Penurunan curah hujan akan menjadi yang terbesar di daerah tropis. Misalnya, bahkan injeksi jelaga 5 teragram akan menyebabkan penurunan curah hujan 40 persen di wilayah Asia. Amerika Selatan dan Afrika juga akan mengalami penurunan curah hujan yang besar.
Efek di laut
Konsekuensi paling lama dari setiap perang nuklir akan melibatkan lautan. Terlepas dari lokasi dan besarnya perang nuklir, asap dari badai api yang dihasilkan akan dengan cepat mencapai stratosfer dan tersebar secara global.
Permukaan laut akan merespon lebih lambat terhadap perubahan radiasi. Penurunan suhu laut global akan menjadi yang terbesar mulai tiga hingga empat tahun setelah perang nuklir. Suhu laut akan turun sekitar 3,5 derajat Celcius untuk perang India-Pakistan dan enam derajat Celcius untuk perang global.
Lautan akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk kembali ke suhu sebelum perang, bahkan setelah jelaga menghilang dari stratosfer dan radiasi matahari kembali ke tingkat normal. Suhu rendah yang tidak normal cenderung bertahan selama beberapa dekade di dekat permukaan, dan ratusan tahun atau lebih di lautan lepas.
Perubahan suhu laut menjadi es laut Arktik kemungkinan akan berlangsung ribuan tahun. Begitu lama sehingga para peneliti berbicara tentang “Zaman Es Kecil nuklir”.
Karena penurunan radiasi matahari dan suhu di permukaan laut, ekosistem laut akan sangat terganggu. Hal ini akan menghasilkan dampak global pada ekosistem, seperti perikanan. Dalam skenario perang nuklir A-Rusia , produksi laut global akan dipotong hampir setengahnya dalam beberapa bulan setelah perang dan akan tetap berkurang 20 hingga 40 persen selama lebih dari empat tahun. Penurunan terbesar akan terjadi di Samudra Atlantik Utara dan Pasifik Utara.
Kekurangan pangan
Perubahan di atmosfer, permukaan, dan lautan setelah perang nuklir akan memiliki konsekuensi besar dan jangka panjang pada produksi pertanian global dan ketersediaan pangan.
Dengan menggunakan model iklim, para peneliti menunjukkan bahwa suntikan jelaga yang lebih besar dari 5 teragram akan menyebabkan kekurangan pangan massal di hampir semua negara. Meskipun beberapa negara akan menghadapi risiko kelaparan yang lebih besar daripada yang lain.
Secara global, produksi ternak dan penangkapan ikan tidak akan mampu mengimbangi penurunan hasil panen. Setelah perang nuklir, dan setelah makanan yang disimpan dikonsumsi, total kalori makanan yang tersedia di setiap negara akan turun drastis. Ini menempatkan jutaan orang dalam risiko kelaparan atau kekurangan gizi.
Dampak produksi makanan tadi tidak memperhitungkan dampak langsung jangka panjang dari radioaktivitas pada manusia atau kontaminasi radioaktif yang meluas dari makanan yang dapat terjadi setelah perang nuklir. Perdagangan internasional produk makanan dapat sangat dikurangi atau dihentikan karena negara-negara menimbun pasokan domestik.
Tetapi bahkan dengan asumsi tindakan heroik oleh negara-negara yang sistem pangannya kurang terpengaruh, perdagangan dapat terganggu oleh efek lain dari banyaknya es di laut.
Pendinginan permukaan laut akan menyebabkan perluasan es laut pada tahun-tahun pertama setelah perang nuklir, ketika kekurangan makanan akan menjadi yang tertinggi. Perluasan ini akan mempengaruhi pengiriman ke pelabuhan-pelabuhan penting di daerah-daerah di mana es laut saat ini tidak dialami, seperti Laut Kuning.
Dampak perang nuklir pada sistem pangan pertanian akan memiliki konsekuensi yang mengerikan bagi sebagian besar manusia yang selamat dari perang dan efek langsungnya. Konsekuensi global keseluruhan dari perang nuklir termasuk dampak jangka pendek dan jangka panjang akan lebih mengerikan lagi. ratusan juta bahkan miliaran orang akan mati kelaparan.
