Belajar dari Inggris, Vape Dinilai Bisa Tekan Prevalensi Merokok
- Inggris turunkan prevalensi merokok lewat strategi THR. Indonesia didorong adopsi pendekatan berbasis risiko dengan regulasi ketat.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID--Pendekatan baru dalam pengendalian tembakau mulai mendapat sorotan di Indonesia. Sejumlah asosiasi mendorong pemerintah mengadopsi strategi Tobacco Harm Reduction (THR), yang fokus pada pengurangan risiko kesehatan melalui produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan.
Pendekatan ini telah diterapkan di Inggris dan menunjukkan hasil nyata. Pemerintah setempat menjalankan program Swap to Stop, yang membantu perokok dewasa beralih dari rokok melalui pemberian vape gratis dan pendampingan.
Hasilnya, prevalensi merokok di Inggris turun dari 11,1% pada 2023 menjadi 10,6% pada 2024 berdasarkan data survei nasional.
THR: Dari Larangan ke Pengurangan Risiko
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang menekankan pelarangan, THR menawarkan jalur transisi bagi perokok dewasa yang sulit berhenti total.
Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR, Ariyo Bimmo menilai pendekatan berbasis risiko perlu dipertimbangkan secara serius. “Ketika alternatif yang lebih rendah risiko ditutup total, maka pada dasarnya ‘mengunci’ perokok,” ujarnya.
Ia menekankan, produk alternatif bukan solusi instan, tetapi bisa menjadi alat transisi yang lebih realistis dalam menurunkan angka perokok.
Belajar dari Inggris, Bukan Meniru Mentah
Pengalaman Inggris dinilai relevan, tetapi tidak bisa diterapkan begitu saja di Indonesia. Kunci keberhasilan terletak pada kombinasi kebijakan yang komprehensif.
Beberapa elemen penting dari pendekatan Inggris:
- Regulasi ketat dan pengawasan kualitas produk
- Perlindungan terhadap anak dan non-perokok
- Program pendampingan bagi perokok dewasa
Ariyo menilai Indonesia bisa mengambil pelajaran tanpa harus menyalin seluruh kebijakan.
Risiko Larangan Total
Di sisi lain, wacana pelarangan produk alternatif dinilai berpotensi kontraproduktif. Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia, Paido Siahaan, menilai pendekatan larangan justru bisa menghambat upaya penurunan prevalensi merokok.
Menurutnya, fokus kebijakan seharusnya diarahkan pada pengawasan dan edukasi, bukan pelarangan total.
“Pendekatan ini sejalan dengan upaya pembatasan usia, verifikasi identitas, dan edukasi konsumen untuk perlindungan publik,” ujarnya.
Fokus ke Masalah Utama: Produk Ilegal
Salah satu tantangan terbesar justru datang dari peredaran produk ilegal. Tanpa pengawasan ketat, risiko penyalahgunaan meningkat dan merugikan konsumen.
AKVINDO mendorong beberapa langkah:
- Pembelian hanya melalui toko resmi
- Penolakan produk tanpa izin atau oplosan
- Edukasi publik terkait risiko produk ilegal
Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding pelarangan menyeluruh.
Dampaknya ke Indonesia
Jika diterapkan dengan tepat, pendekatan THR berpotensi:
- Menurunkan prevalensi merokok lebih cepat
- Mengurangi beban kesehatan jangka panjang
- Mengarahkan pasar ke produk yang lebih terkontrol
Namun tanpa regulasi kuat, risiko penyalahgunaan tetap tinggi.
Pengalaman Inggris menunjukkan pendekatan berbasis risiko bisa menjadi alternatif dalam pengendalian tembakau. Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar memilih antara larangan atau tidak, tetapi merancang kebijakan yang seimbang antara perlindungan kesehatan, pengawasan pasar, dan realitas perilaku perokok.

Chrisna Chanis Cara
Editor
