Tekno

Bantuan Senjata ke Ukraina Selalu Lolos, Kemana Satelit Rusia?

  • Tidak bisa dibantah Rusia adalah salah satu pemain utama dalam teknologi ruang angkasa termasuk satelit.

WASHINGTON- Tidak bisa dibantah Rusia adalah salah satu pemain utama dalam teknologi ruang angkasa termasuk satelit. Tetapi sejauh mana kemampuan mereka membantu di medan perang Ukraina?

Ada banyak pertanyaan yang kadang sulit dijawab. Mengapa senjata bantuan barat untuk Ukraina bisa begitu mudah masuk? Kenapa tidak dihancurkan ketika dalam perjalanan darat dari Polandia? Pergeraka barang besar semacam itu seharusnya bisa dideteksi dari langit. Dan Rusia sudah berulang kali mengatakan senjata bantuan adalah target sah untuk dihancurkan.

Tetapi faktanya Himars muncul di perang ukraina dengan mulus. Tank Leopard  2, Challenger 2 dan kendaraan lapis baja lainnya juga sudah berbaris di kyiv. Kenapa bisa demikian?

Dalam kasus lain Rusia juga terus membombardir Ukraina dengan rudal dan drone. Tetapi kenapa sering menghantam target sipil?  Memang ada yang menghantam target militer, tetapi juga tidak jarang apartemen sipil yang hancur. Bagaimana satelit Rusia mengidentifkasi target sebelumnya? 

Apakah Rusia tidak punya satelit? Tentu saja tidak. Selama Perang Dingin, Uni Soviet bahkan menjadi negara pertama yang meluncurkan satelit. Dan  kemudian menjadi negara pertama yang mengirimkan manusia ke luar angkasa. 

Sekarangada 160 satelit Rusia di orbit hari ini. Logikanya dengan satelit sebanyak itu  setiap kota Ukraina, tank, dan howitzer seaharusnya bisa dilihat kamera orbit yang tak henti-hentinya. Tetapi itu seperti tidak terjadi di medan perang. 

Jika militer Ukraina menuai keuntungan besar dari komunikasi komersial dan satelit fotografi, Rusia hanya mendapatkan keuntungan kecil dari investasi besar dalam pesawat ruang angkasa militer.

Pavel Luzin, seorang peneliti senior di Jamestown Foundation kepada Popular Mechanics baru-baru ini mengatakan tentara Ukraina dapat menggunakan sistem komersial untuk mendapatkan gambar dari area mana pun dengan detail tinggi setidaknya dua kali sehari. Terutama jika kondisi cuaca yang menguntungkan. “Sedangkan tentara Rusia dapat memperoleh gambar dari area yang sama kira-kira sekali dalam dua minggu,” katanya.

Selain itu satelit Rusia memberikan kualitas citra yang sangat rendah dibandingkan satelit komersial Amerika dan Eropa.

Satelit GPS telah memungkinkan roket HIMARS buatan Amerika Ukraina untuk secara akurat menargetkan depot dan markas pasokan Rusia. “Starlink SpaceX yang menggunakan banyak satelit orbit rendah bumi  juga menjadi sangat diperlukan untuk komunikasi militer Ukraina,” kata Luzin.

Namun terlepas dari sejumlah besar rudal hipersonik dan peluru kendali lainnya serta bom pintar, Rusia belum mampu melakukan serangan presisi.  Karena kurangnya kemampuan pengintaian,  Rusia tidak dapat menggunakan senjata presisi tinggi sesuai rencana. Itulah mengapa serangan Rusia lebih sering menyasar fasilitas sipil. Termasuk apartemen.

Masalahnya bukanlah kurangnya perangkat keras orbit. Seperti yang disebutkan sebelumnya, Rusia memiliki lebih dari 160 satelit di orbit, di mana lebih dari 100 di antaranya adalah sistem militer.  Ini termasuk 25 satelit GPS GLONASS, 47 satelit komunikasi, tujuh satelit pengintai elektronik laut Liana, serta dua satelit pengintai optik Persona. Selain itu juga berbagai macam satelit deteksi rudal, pemetaan topografi, dan pesawat ruang angkasa eksperimental.

Apa yang tidak dimiliki Rusia adalah campuran satelit yang tepat. Serta sistem dan prosedur darat untuk menerima dan menyebarkan data kepada mereka yang membutuhkannya. Misalnya, satelit Liana dirancang untuk melacak kapal. 

“Tetapi Rusia selalu menjadi kekuatan darat daripada kekuatan angkatan laut. Dan  mampu melacak kapal induk Amerika di Pasifik tidak membantu memenangkan perang darat di Ukraina,” lanjut Luzin lagi.

Menyadari bahwa mereka tertinggal dalam Perlombaan Luar Angkasa yang baru, Rusia memilih awal tahun 2000-an memilih untuk tidak membangun satelit mata-mata. Kremlin memutuskan untuk memulai dengan sistem navigasi satelit GLONASS, dan satelit komunikasi yang mengandalkan komponen elektronik luar angkasa Barat. Satelit pengintai adalah tugas yang jauh lebih sulit bagi industri luar angkasa Rusia. Dan mereka baru beralih ke tugas ini pada awal 2010-an.

Tetapi pengenaan sanksi Barat setelah aneksasi Krimea tahun 2014 menghambat investasi dalam sistem pengintaian. Hasilnya  Rusia sekarang ini hanya memiliki dua satelit kecerdasan optik (fotografi). Dua satelit Resurs baru telah ditunda hingga setidaknya tahun 2024. Sementara  tiga satelit komersial Rusia yang dapat digunakan untuk pencitraan militer mungkin tidak lagi berfungsi.

Meski jumlah pasti satelit mata-mata AS dirahasiakan, National Reconnaissance Office merencanakan setidaknya tujuh peluncuran pada tahun 2022. Badan tersebut sekarang mengontrak perusahaan komersial untuk citra satelit hiperspektral yang dapat mendeteksi objek melalui beberapa pita cahaya.

Terminal Komunikasi

Bukan hanya satelit yang menjadi masalah. Pasukan tidak memiliki terminal komunikasi satelit. Ini memperburuk sistem komando militer Rusia yang kaku dan terkotak-kotak. Meski satelit GPS GLONASS berfungsi, pengguna tidak memiliki terminal dan peta elektronik untuk menggunakan navigasi satelit.

Pada tahun 2020, Luzin memperkirakan bahwa Rusia menghabiskan US$1,6 miliar per tahun untuk program luar angkasa militernya. Namun pendanaan untuk satelit Rusia di masa depan tidak pasti. Perang Ukraina akan mengalihkan sumber daya ke tank dan rudal. Sementara itu, sanksi Barat akan menghilangkan komponen canggih pesawat ruang angkasa Rusia.

Beralih ke satelit komersial seperti yang berhasil dilakukan Ukraina bukan pilihan. Menurut Luzin, model ekonomi politik Rusia membuat upaya swasta di luar angkasa menjadi tidak mungkin. Bisnis swasta dan inisiatif teknologi dianggap sebagai ancaman politik.

Barat sepertinya juga akan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kebangkitan program luar angkasa militer Rusia.  Salah satunya dengan memblokir teknologi yang belum dimiliki Rusia. Artinya Moskow harus berusaha lebih keras lagi.

Tetapi sebagai salah satu dari dua negara penjelajah ruang angkasa pertama, tidak realistis untuk berasumsi bahwa satelit Rusia akan menghilang dari langit. Tapi hari-hari kejayaan Sputnik dan Soyuz mungkin akan terancam.

“Saya kira Rusia tidak mampu mengembangkan kemampuan luar angkasa militernya sekarang,” kata Luzin.