Tren Global

AI Diprediksi Meledak di Masa Depan, Pusat Data Bakal Dibangun di Luar Angkasa

  • Dalam forum teknologi internasional, Jeff Bezos mengungkap prediksi pembangunan pusat data raksasa di orbit luar angkasa dalam 10–20 tahun mendatang. AI dan energi surya menjadi pendorong utama transformasi global.
117616886_fb-link-1024x535.jpg
Ilustrasi satelit Starlink (Dok/Ist)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat mendorong munculnya gagasan-gagasan radikal untuk menjawab tantangan energi dan infrastruktur digital global. 

Salah satu prediksi paling visioner datang dari pendiri Amazon, Jeff Bezos, yang melihat masa depan pusat data tidak lagi berada di Bumi, melainkan di luar angkasa. 

Dalam sebuah forum teknologi internasional, Bezos menyampaikan bahwa dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, manusia akan mulai membangun pusat data berskala besar di orbit, memanfaatkan sumber daya matahari yang melimpah dan stabil.

Bezos menggambarkan skenario masa depan di mana pusat data raksasa akan ditempatkan di orbit untuk mendapatkan efisiensi yang jauh lebih besar dibandingkan pusat data konvensional. 

Infrastruktur digital ini akan mengandalkan energi surya yang terus menerus tersedia tanpa terpengaruh cuaca atau waktu siang dan malam. Menurutnya, keunggulan tersebut akan membuat biaya operasional di luar angkasa menjadi lebih kompetitif dalam jangka panjang. 

 “Pusat data berskala gigawatt akan dibangun di luar angkasa dalam 10 hingga 20 tahun ke depan. Pandangan ini menunjukkan bagaimana ruang angkasa tidak hanya menjadi arena eksplorasi, tetapi juga basis penting bagi infrastruktur digital masa depan," Jelas Bezos, dalam acara publik, dikutip New York Post, Senin, 6 Oktober 2025.

Baca juga : Harga Emas Antam Kembali Meledak! Segini Harganya Sekarang

AI Dorong Ledakan Permintaan Energi

Lonjakan kebutuhan komputasi akibat perkembangan AI menjadi alasan utama di balik ide pemindahan pusat data ke orbit. Proses pelatihan model AI berskala besar membutuhkan daya yang luar biasa besar, sementara pusat data di Bumi semakin terbebani oleh keterbatasan energi dan air. 

Di sisi lain, ruang angkasa menyediakan sumber energi surya yang stabil sepanjang waktu tanpa hambatan cuaca, menjadikannya lokasi ideal untuk pusat pelatihan AI raksasa. 

Bezos menekankan bahwa pusat pelatihan AI akan lebih efisien jika dibangun di luar angkasa, karena di sana energi tersedia 24 jam sehari tanpa gangguan alam. Konsep ini menjadi solusi jangka panjang terhadap tekanan sumber daya di daratan.

Bezos menilai pemanfaatan ruang angkasa untuk infrastruktur digital bukanlah ide yang muncul secara tiba-tiba, melainkan kelanjutan dari tren yang sudah berlangsung selama beberapa dekade. 

Satelit cuaca dan komunikasi telah lama berperan penting dalam kehidupan sehari-hari manusia, mulai dari navigasi, pemantauan iklim, hingga internet global. Ia mengatakan, 

“Pergeseran menuju infrastruktur luar angkasa merupakan bagian dari tren yang lebih luas dalam memanfaatkan ruang angkasa untuk meningkatkan kehidupan di Bumi.” tambah Bezos.

Baca juga : Perjalanan Saham CBRE: Turnaround Fantastis dan Ambisi Masuk MSCI

Setelah pusat data, ia memperkirakan industri manufaktur akan menjadi sektor berikutnya yang dipindahkan ke orbit, guna mengurangi dampak lingkungan dan memperluas kapasitas produksi global.

Meski idenya terdengar futuristik, Bezos menyadari ada berbagai kendala besar yang perlu dihadapi. Perawatan dan pembaruan perangkat keras di luar angkasa tidaklah sederhana, karena jarak dan kondisi ekstrem menjadikannya lebih rumit dibandingkan dengan fasilitas di Bumi. 

Selain itu, biaya peluncuran roket masih tergolong tinggi, meskipun terus menurun berkat inovasi teknologi penerbangan antariksa. Risiko kegagalan peluncuran atau kerusakan satelit juga menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan.

Tantangan ini menunjukkan bahwa transformasi ke pusat data orbit bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga infrastruktur pendukung dan keberlanjutan ekonomi.

Ledakan AI: Antara Potensi dan Resiko

Dalam kesempatan yang sama, Bezos juga memberikan pandangan jujur tentang fenomena ledakan AI saat ini. Ia membandingkan perkembangan AI dengan era dot-com di awal 2000-an, ketika antusiasme luar biasa terhadap teknologi internet disertai gelembung spekulatif yang akhirnya pecah.

Bezos menegaskan bahwa meski ada risiko gelembung, manfaat sosial dan ekonomi AI sangat nyata dan akan bertahan dalam jangka panjang. Ia mengingatkan pentingnya membedakan antara hype pasar dengan kemajuan teknologi yang sesungguhnya. Optimisme ini sejalan dengan keyakinannya bahwa AI akan menjadi penggerak utama inovasi global.

Pandangan Bezos memberikan gambaran tentang transformasi besar yang akan datang, teknologi tidak hanya berkembang di permukaan Bumi, tetapi juga akan meluas ke orbit sebagai pusat aktivitas digital dan industri. 

AI menjadi katalisator utama perubahan ini, mendorong kebutuhan energi dan infrastruktur baru yang lebih efisien. Jika prediksi Bezos terwujud, maka satu dekade mendatang manusia akan menyaksikan pusat data raksasa mengorbit planet ini, membuka babak baru dalam sejarah teknologi modern.