Nasional & Dunia

Ratusan Babi di Bali Mati Mendadak, Pemerintah Segera Investigasi

  • JAKARTA – Suatu wabah diperkirakan menjangkit dan menyebabkan kematian sebanyak 800 ekor babi peliharaan di Bali. Jika menilik kematian ratusan babi tersebut, yang …

Kasus kematian babi

Kasus kematian babi

(Istimewa)

JAKARTA – Suatu wabah diperkirakan menjangkit dan menyebabkan kematian sebanyak 800 ekor babi peliharaan di Bali. Jika menilik kematian ratusan babi tersebut, yang tersirat di benak adalah demam babi Afrika (African Swine Fever/ASF) yang pernah mewabah di Sumatera Utara.

Meskipun begitu, Indonesia belum menemukan adanya wabah yang mungkin menjadi penyebab atas kasus kematian hewan-hewan peliharaan di Pulau Dewata tersebut.

Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fadjar Sumping Tjatur Rassa mengatakan bahwa pihaknya masih menyelidiki kematian 800 babi tersebut. Menurutnya, ratusan babi tersebut mati antara Desember 2019 hingga Januari 2020.

“Kami berupaya menghentikan kasus kematian babi ini dengan standar operasional untuk penyakit hewan menular seperti untuk ASF dan kolera babi. Sementara kami menentukan apakah penyebabnya benar-benar ASF atau yang lainnya,” ujar Fadjar pada Senin (5/2).

Diketahui ASF telah membunuh lebih dari 43.000 babi di Sumatera Utara pada 2019 lalu. Bahkan kasus kematian babi di Sumatera Utara semakin mencuat ketika munculnya kasus pembuangan bangkai babi ke sungai dan danau di Medan. Babi-babi tersebut diketahui mati akibat wabah kolera babi dan juga ASF.

Sejak pertama kali terdeteksi pada Agustus 2019, wabah African Swine Fever menyebar ke seluruh penjuru China. Wabah tersebut membuat negara tirai bambu kehilangan 40% babi peliharaan.

Pada Desember lalu, China memberlakukan larangan impor babi baik ternak maupun babi liar serta produk-produk terkait dari Indonesia akibat ASF. Daging dan produk turunannya tidak diizinkan untuk meninggalkan daerah yang terkena dampak di Sumatera Utara. Juga orang-orang yang telah melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi harus melalui pemeriksaan ketat dari pihak berwenang.

Apa Itu ASF?

African Swine Fever (ASF) atau demam Babi Afrika merupakan virus yang tidak berbahaya bagi manusia. Namun virus ini sangat mematikan untuk babi. Sejauh ini, belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah penularan virus tersebut.

“Baik kolera babi dan ASF tidak menular ke manusia (tidak zoonisis), jadi tidak membahayakan kesehatan manusia,” ujar Fajar beberapa waktu lalu.

Penyakit ini awalnya dibawa dari Afrika timur ke Georgia oleh produk babi yang terkontaminasi. Pihak bandara Jepang bahkan pernah menyita sebungkus sosis dari seorang pelancong yang datang dari China karena menemukan sosisnya mengandung virus African swine fever.

Di sebagian besar negara, virus ASF akan memicu tindakan karantina dan pemusnahan kawanan babi yang terkena dampak.

Apa Bedanya dengan Flu Babi?

Berbeda dengan ASF yang hanya menyerang hewan, flu babi bisa menular pada manusia.

Virus flu babi dikenal dengan sebutan H1N1 merupakan infeksi virus flu jenis baru yang gejalanya sama seperti flu biasa. Virus ini berasal dari babi, tapi menyebar antarmanusia.

Dikutip dari Sehatq, wabah flu babi pernah menjadi berita hangat di seluruh dunia pada 2009. Saat itu, infeksi virus flu babi dialami manusia untuk pertama kalinya. Penyakit menular ini sangat berbahaya, bahkan sangat mematikan di seluruh dunia.

World Health Organization (WHO) telah menetapkan flu babi sebagai pandemi atau wabah global pada tahun 2010.