BI: Penguatan Kerjasama Internasional untuk Atasi Ancaman Ekonomi Global
Pertumbuhan ekonomi global terancam oleh risiko ketegangan perdagangan (trade tension) yang menyebabkan tidak pastinya kebijakan, risiko geopolitik, pengetatan kondisi keuangan di tengah terbatasnya ruang kebijakan, tingginya tingkat utang, dan meningkatnya kerentanan di sektor keuangan. Hal itu menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan mencapai 3,6% pada 2018 menjadi 3,0% pada 2019.

Acep Saepudin
Author


Plenary meeting International Monetary and Financial Committee (IFMC) berlangsung di markas IMF selama Pertemuan Tahunan IMF/World Bank, 19 Oktober 2019, di Washington DC, Amerika Serikat.
(Istimewa)TrenAsia, JAKARTA-Pertumbuhan ekonomi global terancam risiko ketegangan perdagangan (trade tension) yang menyebabkan tidak pastinya kebijakan, risiko geopolitik, pengetatan kondisi keuangan di tengah terbatasnya ruang kebijakan, tingginya tingkat utang, dan meningkatnya kerentanan di sektor keuangan.
Hal itu dinilai dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dari 3,6% pada 2018 menjadi 3,0% pada 2019.
Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Waluyo, perlu adanya upaya Bersama untuk meningkatkan kerja sama, memitigasi risiko, meningkatkan resiliensi dan mengimplementasikan kebijakan. BI mendukung kelanjutan kajian Integrated Policy Framework yang sedang dilakukan IMF.
Itu dilakukan demi meningkatkan pemahaman dan efektivitas kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh setiap negara sesuai dengan karakteristik dan kondisinya.
Pada rangkaian Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank) pada 16-19 Oktober 2019 di Washington D.C., Amerika Serikat, Dody menyebutkan, perkembangan teknologi diharapkan lebih bermanfaat dan juga dapat mengurangi risiko sehingga dukungan bagi inovasi di sektor keuangan dengan pengaturan/pengawasannya dapat lebih ditingkatkan.
Dalam plennary meeting International Monetary and Financial Committee (IMFC), peserta mendukung Global Policy Agenda IMF yang disampaikan Managing Director IMF yang baru, Kristalina Georgieva, sedang dilakukan upaya memperkuat kerja sama internasional, meningkatkan resiliensi dan meningkatkan inklusivitas perekonomian global untuk mendukung pertumbuhan yang lebih berkesinambungan.
Kemudian, juga memfasilitasi solusi global terkait teknologi finansial (tekfin) yang sejalan dengan Bali Fintech Agenda. Upaya yang akan dilakukan IMF tersebut dilatarbelakangi pertumbuhan perekonomian global yang diperkirakan melambat dari 3,6% pada 2018 menjadi 3,0% pada 2019, sebelum akhirnya diproyeksikan kembali melanjutkan momentum positif menjadi 3,4% pada 2020.
Pada rangkaian pertemuan tahunan tersebut juga diselenggarakan pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20.
Atasi Kerentanan Keuangan
Pada pertemuan tersebut Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan pentingnya mengatasi kerentanan di sektor keuangan yang disebabkan oleh fragmentasi di sektor keuangan untuk memastikan resiliensi dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Lebih lanjut, Bank Indonesia menekankan pentingnya melanjutkan agenda reformasi di sektor keuangan, dengan tetap memperhatikan fleksibilitas bagi otoritas sesuai dengan kondisi spesifik di setiap negara.
Hal ini dapat dicapai melalui identifikasi kerangka pengaturan dan pengawasan yang ada untuk mengatasi kerentanan yang ada dan kerja sama internasional yang dibutuhkan, termasuk yang disebabkan dari perkembangan teknologi.
Pada agenda lainnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia juga bertemu dengan beberapa otoritas keuangan dunia untuk memperkuat kerja sama dan bertukar informasi mengenai perkembangan ekonomi global, termasuk mendiskusikan agenda prioritas G20 dengan otoritas Arab Saudi yang akan menjadi Presidensi G20 tahun 2020.
Selain itu, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan juga melakukan pertemuan dengan lembaga pemeringkat dan investor untuk menginformasikan perkembangan terkini perekonomian Indonesia dan berbagai kebijakan serta upaya yang ditempuh Bank Indonesia bersama Pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, dalam rangka mendorong pertumbuhan.
