Nasional & Dunia

Bank Indonesia Bantah Klaim Ovo

  • TrenAsia-Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa Ovo, dompet digital milik Grab, bukan pemimpin pasar di pasar uang elektronik Indonesia. “Bank Indonesia tidak pernah keluarkan atau publikasi data individual,” tegas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko, akhir pekan lalu. Oleh karena itu, lanjut Onny, jika ada informasi terkait peringkat penggunaan e wallet di Indonesia, data […]

Bank Indonesia Bantah Klaim Ovo


TrenAsia-Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa Ovo, dompet digital milik Grab, bukan pemimpin pasar di pasar uang elektronik Indonesia. “Bank Indonesia tidak pernah keluarkan atau publikasi data individual,” tegas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko, akhir pekan lalu.

Oleh karena itu, lanjut Onny, jika ada informasi terkait peringkat penggunaan e wallet di Indonesia, data tersebut dipastikan tidak benar. “Tidak ada data peringkat dari BI (e wallet),” katanya.

Sebelumnya Ovo mengklaim menjadi penguasa pasar e wallet Indonesia dengan merujuk data dari Bank Indonesia. Namun, klaim tersebut tidak didukung fakta yang kuat sehingga cenderung menjadi hoax. Apalagi BI akhirnya secara tegas membantah klaim sepihak tersebut.

Peringkat e wallet sebelumnya pernah dipublikasikan oleh iPrice group yang bekerjasama dengan perusahaan analisis terpercaya, App Annie. Studi itu merilis rangking 10 besar e-wallet sejak 2017 sampai 2019. Nomor wahid diduduki GoPay. Kemudian berturut-turut DANA dan LinkAja.

GoPay memiliki 10 jenis servis pembayaran karena ada opsi transaksi ride-hailing. Lalu LinkAja 9 variasi servis, dan PayTren punya 8 tipe servis. Sedangkan DANA dan OVO baru menawarkan 7 tipe servis pembayaran.

Ovo sendiri saat ini dikabarkan bakal melakukan merger dengan Dana. Kedua e wallet itu dikuasai oleh SoftBank melalui jejaring bisnisnya di Indonesia. Ovo melalui Grab dan Dana melalui Ant Financial yang terafiliasi dengan Alibaba. SoftBank sendiri merupakan pemegang saham terbesar di Alibaba dengan nilai saham ditaksir lebih dari USD 100 miliar.

Hinggi kini proses merger kedua e wallet tersebut belum mendapat lampu hijau dari otoritas moneter. Jika BI memberikan restu, industri e wallet nasional akan semakin dikuasai oleh investor asing. Karena Grab sebagai pemilik Ovo dimiliki oleh investor Malaysia, sementara Dana yang dikuasai Alibaba berasal dari China.

Tags: Headline