Nasional & Dunia

ADB Suntik RI US$500 Juta untuk Inklusi Keuangan

  • MANILA — Asian Development Bank (ADB) mengabulkan pinjaman pemerintah senilai US$500 juta sebagai upaya memperluas akses keuangan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah, serta kelompok marjinal seperti perempuan dan kaum muda. Suntikan ini rencananya digunakan untuk menyasar dan memantau inklusi keuangan, meningkatkan infrastruktur pembayaran. Serta memperkuat kerangka regulasi bagi layanan keuangan digital, privasi data, perlindungan […]

<p>Pekerja menyelesaikan proses pembuatan produk olahan jahe di industri rumahan kawasan Bugel, Kota Tangerang, Banten, Jum&#8217;at, 2 Oktober 2020. Produk Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) olahan jahe yang dijadikan sirup, serbuk dan permen jahe ini mendapatkan berkah ditengah pandemi, produksi dan penjualan meningkat tajam. Produk berbahan jahe menjadi tren dikalangan warga ditengah wabah corona. Warga mencari sirup olahan jahe untuk menjaga stamina  dan imunitas tubuh disaat pandemi Covid-19. Produk olahan jahe ditempat ini dijual dari harga Rp3 ribu hingga Rp35 ribu per buah. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia</p>

Pekerja menyelesaikan proses pembuatan produk olahan jahe di industri rumahan kawasan Bugel, Kota Tangerang, Banten, Jum’at, 2 Oktober 2020. Produk Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) olahan jahe yang dijadikan sirup, serbuk dan permen jahe ini mendapatkan berkah ditengah pandemi, produksi dan penjualan meningkat tajam. Produk berbahan jahe menjadi tren dikalangan warga ditengah wabah corona. Warga mencari sirup olahan jahe untuk menjaga stamina dan imunitas tubuh disaat pandemi Covid-19. Produk olahan jahe ditempat ini dijual dari harga Rp3 ribu hingga Rp35 ribu per buah. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

(Istimewa)

MANILA — Asian Development Bank (ADB) mengabulkan pinjaman pemerintah senilai US$500 juta sebagai upaya memperluas akses keuangan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah, serta kelompok marjinal seperti perempuan dan kaum muda.

Suntikan ini rencananya digunakan untuk menyasar dan memantau inklusi keuangan, meningkatkan infrastruktur pembayaran. Serta memperkuat kerangka regulasi bagi layanan keuangan digital, privasi data, perlindungan konsumen, dan literasi keuangan.

“Dukungan inklusi keuangan diharapkan mampu mengurangi kemiskinan dan ketimpangan, serta menunjang pembangunan berkelanjutan jangka panjang Indonesia,” kata Poornima Jayawardana, Spesialis Sektor Keuangan ADB untuk Asia Tenggara dalam keterangan pers dikutip Kamis, 10 November 2020.

Dengan tambahan dana ini, pemerintah dapat menambah inklusi keuangan dengan membuka akses ke produk dan layanan keuangan formal. Tak ketinggalan juga meningkatkan kualitas layanan, serta menjangkau masyarakat yang lebih luas dan belum sepenuhnya terlayani.

Jayawardana juga menyebut, inklusi keuangan akan berperan penting dalam pemulihan ekonomi nasional. Pasalnya, akses keuangan yang setara dapat memitigasi dampak ekonomi dan sosial dari pandemi.

Inklusi Keuangan di RI

Survei Nasional Inklusi Keuangan yang diadakan oleh Dewan Nasional Keuangan Inklusif menunjukkan bahwa persentase orang dewasa di Indonesia yang memiliki rekening bank meningkat.

Persisnya, dari 35% pada 2016 menjadi 56% pada 2018. Meskipun mengalami kemajuan, Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

Penyediaan layanan keuangan bagi seluruh penduduk Indoensia merupakan tantangan bagi negara yang memiliki keragaman geografis dan budaya demikian besar. Selain itu, masih ada perbedaan yang signifikan untuk akses ke produk-produk keuangan antar-daerah dan antar-kelompok penduduk.

Pandemi COVID-19 juga memperburuk situasi finansial, karena masyarakat yang tidak memiliki akses ke layanan keuangan biasanya tidak memiliki tabungan atau akses ke pinjaman untuk bertahan di tengah kemerosotan ekonomi.

Program ADB mendukung sasaran pemerintah untuk meningkatkan jumlah penduduk Indonesia yang menggunakan produk atau layanan keuangan dari lembaga keuangan formal, dari 76% pada 2019 menjadi 90% pada 2022.

Seperti diketahui, ADB telah mendukung inklusi keuangan di Indonesia melalui berbagai program sejak 2002. Saat itu, ADB mulai membantu mengembangkan sektor pembiayaan mikro guna meningkatkan akses ke pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah.