Perbaikan Konsumsi Masyarakat Bisa Dongkrak Ekonomi
- Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, perbaikan konsumsi masyarakat merupakan salah satu upaya untuk...

Khoirul Anam
Author
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, perbaikan konsumsi masyarakat merupakan salah satu upaya untuk memulihkan perekonomian nasional.
Konsumsi yang meningkat dapat mendorong terjadinya produksi dan distribusi di ragam sektor sehingga berdampak menggerakkan roda-roda perekonomian.
“Sebaliknya, jika konsumsi lesu, maka baik produksi maupun distribusi barang/jasa pun akan terimbas,” kata Pingkan di Jakarta, Kamis, 4 Mei 2020.
Pingkan menyebut, berdasarkan kelompok pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Untuk kuartal pertama tahun ini, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,97% (yoy) dengan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,56%. Angka ini turun tajam dibandingkan dengan kondisi di kuartal pertama tahun 2019 silam yang mencapai 5,02% (yoy).
- Pendapatan 634 Perusahaan Publik 2019 Naik 4% Jadi Rp4.425 Triliun
- PUPR Bekerja Ciptakan Lumbung Pangan Baru
- Matahari Milik Grup Lippo Tunjuk Dewan Direksi dan Komisaris Baru
- Baru IPO, Saham TECH Langsung Meroket 35%
- Pemerintah Siapkan Payung Hukum Revisi Perpres APBN dalam Dua Pekan
Selain itu, melemahnya konsumsi masyarakat dapat terlihat dari rendahnya inflasi. Disebutkan, pandemi COVID-19 dan momentum harga minyak dunia yang anjlok mengubah pola inflasi selama bulan Ramadan hingga memasuki lebaran 2020. Berdasarkan data BPS, inflasi bulan Mei 2020 merupakan inflasi terendah sejak 1978 jika dibandingkan dengan Ramadan dan lebaran pada tahun-tahun sebelumnya.
“Padahal dalam kondisi normal, inflasi cenderung tinggi setiap kali menjelang lebaran karena adanya peningkatan permintaan dan produksi di hampir semua sektor, terutama makanan dan minuman, pakaian dan alas kaki, serta transportasi. Namun, yang terjadi tahun ini berbeda,” jelas Pingkan.
Di samping itu, Pingkan menilai skenario kebijakan kenormalan baru dapat mengaktifkan kembali kegiatan perekonomian. Dia berharap perubahan perilaku dalam kenormalan baru dapat membantu masyarakat untuk tetap menjalankan aktivitas dengan menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan virus.
“Yang jadi pertanyaan masyarakat selanjutnya adalah apakah pemerintah pusat dan daerah sudah siap untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut? Bagaimana dengan pergerakan kasus COVID-19 yang masih tergolong dinamis dengan angka kasus terkonfirmasi masih terus bertambah setiap harinya?” kata dia.
