Industri

Pemerintah Lelang Utang Syariah Rp11 Triliun

  • Keterangan pers dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang diterima di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2020, menyebutkan hasil lelang sukuk ini melebihi target indikatif Rp8 triliun.

Sukirno

Sukirno

Author

<p>Ilustrasi Sukuk Negara. / Mui.or.id</p>

Ilustrasi Sukuk Negara. / Mui.or.id

(Istimewa)

JAKARTA – Pemerintah menyerap dana Rp11 triliun dari lelang lima seri utang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara dengan total penawaran yang masuk sebesar Rp40,2 triliun.

Keterangan pers dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang diterima di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2020, menyebutkan hasil lelang sukuk ini melebihi target indikatif Rp8 triliun.

Jumlah dimenangkan untuk seri SPNS08012021 sebesar Rp1,1 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 3,65625%.

Penawaran masuk untuk seri SBSN yang jatuh tempo pada 8 Januari 2021 ini mencapai Rp2,56 triliun. Imbal hasil terendah masuk 3,65% dan tertinggi 4,21%.

Jumlah dimenangkan untuk seri PBS002 sebesar Rp2,35 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 5%.

Penawaran Melebihi Target

Penawaran masuk untuk seri SBSN yang jatuh tempo pada 15 Januari 2022 ini mencapai Rp14,88 triliun. Imbal hasil terendah masuk 5% dan tertinggi 5,59%.

Untuk seri PBS026, jumlah dimenangkan mencapai Rp1,2 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,11012%.

Penawaran masuk untuk seri SBSN yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2024 ini mencapai Rp6,54 triliun. Imbal hasil terendah masuk 6% dan tertinggi 6,59%.

Untuk seri PBS022, jumlah dimenangkan mencapai Rp1,1 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,7722%.

Penawaran masuk untuk seri SBSN yang jatuh tempo pada 15 April 2034 ini mencapai Rp5,87 triliun. Imbal hasil terendah masuk 7,75% dan tertinggi 8%.

Untuk seri PBS028, jumlah dimenangkan mencapai Rp5,25 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,94915%.

Penawaran masuk untuk seri SBSN yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2046 ini mencapai Rp10,33 triliun. Imbal hasil terendah masuk 7,87% dan tertinggi 8,15%. (SKO)