Konstruksi Aman, Konstruksi Bersertifikasi Kelaikan Fungsi
- Jembatan Pongpet Pangandaran ambruk sesaat setelah diresmikan. Simak pentingnya tahapan konstruksi, pencegahan kegagalan, dan Sertifikat Laik Fungsi.

Muhammad Imam Hatami
Author


Kolom oleh Ir. Arifin Lambaga, MSE. (Praktisi dan Pemerhati Industri Testing, Inspection, Certification (TIC) )
Kejadiannya belum lama berselang. Jembatan Gantung yang diberi nama “Pongpet” di Kabupaten Pangandaran Jawa Barat, ambruk sesaat setelah diresmikan. Peresmiannya berlangsung pada 30 Agustus 2026. Dan lazimnya sebuah peresmian, konstruksi yang baru diresmikan itu diujicoba. Dilintasi pejabat yang meresmikan, undangan dan jurnalis yang meliput acaranya.
Tiba-tiba krakkkk-bruuk, jembatan ambruk. Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, beserta para undangan terhempas jatuh. Untunglah tak ada yang terluka serius. Namun perempuan Bupati itu, mengalami pembengkakan di bagian pergelangan tangannya. Walaupun ia tak tahu pasti, kapan cedera itu didapatkannya. Selain luka pada tubuhnya, batinnya juga terguncang. Tak nyaman oleh kejadian itu.
Media kumparan.com, 3 September 2026, menguraikan lebih terperinci kejadiannya. Pada “Menanti Pemprov Jabar Bangun Lagi Jembatan Pongpet yang Ambruk Usai Diresmikan”, disebutkan: sejenak setelah jembatan diresmikan, para pejabat daerah meninjau jembatan gantung itu.
Namun tak lama berselang, Bupati yang meresmikannya merasakan guncangan dan keadaan yang tak stabil. Ia dan para peninjau lainnya, ada di tengah jembatan. Lalu diberikannya instruksi, agar para peninjau mundur. Namun terlambat, salah satu sling penahan jembatan patah. Jembatan miring dan menghempaskan sejumlah orang yang ada di atasnya. Sang Bupati yang ada di tengah, turut terhempas dan kehilangan keseimbangan.
"Posisi saya sudah setengah tengkurap. Saya pegang erat pelat besi di tengah pijakan kayu," ungkapnya. Namun ia tetap berusaha menyelamatkan diri sebisa mungkin. Untunglah, Camat Cijulang yang ada di dekatnya, berhasil menarik tangan kanan Sang Bupati. Ia berhasil dievakuasi ke tepi jembatan, dalam kondisi selamat.
Runtuhnya sebuah kontruksi, bukan peristiwa yang baru. Juga bukan peristiwa yang langka. Ini walaupun, tidak untuk dimaklumi saat ada korban yang jatuh. Keruntuhan sesaat setelah proses pengerjaannya merupakan anomali.
Keruntuhan, lazim terjadi ketika konstruksi sudah lewat masa pakainya. Ini bisa puluhan hingga ratusan tahun. Dan lewatnya masa pakai itu, juga bisa diukur dengan tepat menggunakan ilmu pengetahuan. Sehingga ketika sebuah konstruksi mendekati lewat masa pakainya, dipasang tanda peringatan. Agar intensitas pemakaiannya dikurangi. Bahkan sengaja dihancurkan, karena jika dibiarkan runtuh sendiri bisa menimbulkan korban.
Keruntuhan konstruksi juga dapat terjadi akibat bencana yang dahsyat. Air yang menghantam atau gempa yang mengguncang. Seluruhnya menghancurkan konstruksi, tanpa prediksi. Sehingga keruntuhan konstruksi sesaat setelah selesai pengerjaannya –yang bukan karena lewat masa pakai atau lantaran bencana-- menunjukkan adanya kegagalan dalam tahapan dilaluinya.
Penciptaan Konstruksi dan Pencegahan Kegagalannya
Bagi yang tak mendalami pengetahuan soal konstruksi --pembangunan gedung, jembatan, bendungan, jalan raya— memikirkan proses penyelesaiannya, sama sekali tak menarik. Perhatian terhadap gedung atau konstruksi lainnya itu, ketika hasilnya telah dapat dinikmati.
Mengagumi gedung pertunjukan Sidney Opera House yang terdapat di New South Wales, Australia, misalnya. Atau melewati jalan tol Trans Jawa-Sumatera saat mudik lebaran. Perhatian lebih pada pengalaman menggunakan produk konstruksinya. Bukan pada proses pengerjaan, alih-alih mencermati persyaratan-persyaraan penyelenggaraan suatu konstruksi.
Nyatanya, saat penciptaan konstruksi benar-benar ditelaah dengan saksama, proses yang harus dilaluinya cukup panjang. Dan lantaran sifatnya yang teknis, menyebabkan profesi yang ada di luar bidang konstruksi tak mudah memahaminya. Atau setidaknya, sulit tertarik mendalaminya. Namun Simone Riches, 2024, dalam “6 Key Phases of Construction Projects” mencoba mengonseptualisasi tahapan panjangnya, dengan penjelasan yang sederhana dan mudah dipahami. Dan, di awal tulisannya Riches menyebut cakupan yang dimaksud sebagai konstruksi.
Bidang ini meliputi penciptaan segala sesuatu, mulai dari pembangunan perumahan, menara komersial yang megah hingga infrastruktur penting. Jika disederhanakan, konstruksi adalah proyek yang dikelola dengan baik, yang masing-masing memiliki tuntutan unik dalam hal cakupan, anggaran, maupun skala.
Lalu, sesuai judul uraiannya, ada 6 tahap konstruksi beserta aktivitas terperincinya. Ini dimulai dengan, Tahap Pertama, Konsepsi dan Inisiasi Proyek. Di dalamnya terdapat pekerjaan berupa disusunnya ide konstruksi, dilakukannya studi kelayakan, penyusunan perencanaan dan pengorganisasian kerja. Yang diikuti Tahap kedua: Desain Konsep. Pada tahap ini, ide awal dikembangkan lebih lanjut beserta perencaaan yang lebih dalam. Juga susunan tim yang terlibat. Pada fase kedua, juga dilakukan pengurusan perizinan, melengkapi dokumen kontrak bagi seluruh pihak yang terlibat.
Tahap ketiga: Pengembangan Desain. Ini terutama untuk menyempurnakan desain, menjadi rencana dan uraian terperinci bagi seluruh proyek konstruksi. Tahap ketiga melekat dengan Tahap keempat: Pengembangan Desain Teknis. Di dalamnya terdapat penyusunan strategi pengadaan yang mendukung penciptaan. Ini harus diselaraskan dengan bagian akhir: transisi dari desain teknis ke kegiatan konstruksi aktual sesuai rencana.
Tahap kelima: Pelaksanaan Konstruksi, yang ditandai dengan dilakukannya aktivitas pembangunan fisik, mewujudkan proyek. Seluruhnya harus sesuai dengan desain dan spesifikasi yang direncanakan. Dan akhirnya tahap keenam: Serah Terima dan Penutupan. Tahap yang merupakan semua aktivitas, untuk mengalihkan proyek dari tahap konstruksi ke tahap operasional. Pada tahap ini pula dipastikan, semua standar pengerjaannya terpenuhi dan proyek siap untuk diserahkan kepada pemilik konstruksi. Dan jika pun terdapat tahap ketujuh, adalah: Penggunaan Konstruksi. Konstruksi digunakan sesuai tujuannya.
Dilaluinya 6 tahap penciptaan konstruksi, tak serta merta mencegahnya dari kegagalan. Ambruknya Jembatan Gantung Pongpet yang diuraikan di atas, adalah contoh kegagalannya. Penciptaannya pasti telah melalui tahap-tahap yang lazim, terlebih konstruksinya yang dimiliki negara. Menjadi janggal ketika mengalami kegagalan. Namun realitasnya seperti itu. Maka pasti ada bagian dari tahapan-tahapannya, yang tak dilakukan dengan saksama.
Maka untuk mencegah terulangnya keadaan serupa, dapat ditelusuri sumber kegagalan yang dapat menimpa suatu konstruksi. Perusahaan penciptaan konstruksi, Industra Construction Corporation, lewat tulisan yang dimuatnya di industra.ca, 2025, berjudul “Preventing Failures in Civil Construction Projects”, mengemukakan tentang sumber-sumber kegagalan itu. Disebutkannya, pada penciptaan konstruksi, banyak faktor yang dapat menggagalkannya. Mulai penundaan kecil hingga kegagalan struktural yang besar. Seluruhnya menyebabkan kerugian bahkan jatuhnya korban. Karenanya, mencegah kegagalannya sangat penting diupayakan siapa pun.
Ada pun sumber-sumber kegagalannya, termasuk perencanaan yang buruk, komunikasi yang tidak efektif di antara pihak-pihak yang terlibat. Juga kondisi lingkungan yang tidak terduga. Jika seluruhnya itu dikategorikan, maka kegagalannya dapat disebabkan oleh: Cacat Desain. Ini berupa desain yang tidak layak yang dapat menyebabkan masalah struktural. Jika cacat desain ini hendak dikoreksi, diperlukan pengerjaan ulang dan berbiaya mahal. Berikutnya, Kekurangan Material. Terjadi akibat tata kelola rantai pasokan yang buruk. Kekurangan ini, dapat menyebabkan penundaan proyek.
Dan yang tak kurang penting adalah, Faktor Lingkungan. Berupa kondisi cuaca dan bencana yang dapat memengaruhi waktu penciptaan. Dari itu semua, yang sama sekali tak dapat dibaikan: Masalah Keselamatan. Diabaikannya masalah keselamatan, dapat menyebabkan kecelakaan dan keterlambatan penyelesaian pekerjaan.
Maka untuk mencegahnya, perlu melakukan: Pemeriksaan Integritas Struktural. Ini dengan memastikan, semua kebutuhan telah memenuhi spesifikasi desain. Berikutnya, Memenuhi Protokol Keselamatan, dengan verifikasi tempat kerja yang sesuai standar keselamatan. Lalu diikuti Pemeliharaan Peralatan, dengan memeriksa mesin secara berkala untuk mencegah kerusakan. Dan terakhir Memastikan Kualitas Material, dengan hanya menggunakan material yang sesuai standar.
Sertifikasi Kelaikan Fungsi Konstruksi
Tak semua proses konstruksi –penciptaan, pengenalan sumber kegagalan maupun upaya pencegahan kegagalannya-- dapat dipahami secara tepat oleh khalayak luas. Karenanya, khalayak dapat bertumpu pada informasi yang dimuat di dalam Sertifikat Laik Fungsi (SLF). SLF ini diterbitkan setelah proses konstruksi selesai dan sebelum hasil konstruksinya digunakan. Posisi dokumen ini, merupakan pernyataan berlandaskan hukum tentang keadaan suatu konstruksi yang telah memenuhi persyaratan administratif maupun teknis standar kelaikan fungsi.
Maka dapat dipahami, adanya SLF pada konstruksi merupakan pernyataan jaminan keamanan. Konstruksi tersertifikasi aman bagi kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan penghuni maupun penggunanya. Juga jaminan legalitas operasional. Ini memastikan, sebuah konstruksi tersertifikasi tidak melanggar hukum dan diizinkan beroperasi. Dan terakhir, jaminan perlindungan hukum, karena pemilik dan pengguna konstruksi tersertifikasi dilindungi secara hukum dari risiko kegagalan konstruksi.
Maka, tak sulit sebenarnya berlindung dari kegagalan konstruksi –seperti yang dialami Bupati Citra di atas—ketika khalayak menggunakan jeda sejenak. Jeda untuk memeriksa keberadaan sertifikat jaminan konstruksi. Ini jika dibanding, jatuh jadi korban konstruksi yang gagal berfungsi. Mau segera mulai, dengan pemeriksaan SLF sebelum menggunakan fasilitas publik?

Muhammad Imam Hatami
Editor
