OJK Ungkap Daftar Antrean Izin Bank Digital
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan ada tujuh bank yang sudah berada dalam daftar antrean menjadi bank digital.

Ananda Astri Dianka
Author
JAKARTA – Di tengah ramainya tren tranformasi digital di industri perbankan nasional, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan ada tujuh bank yang sudah berada dalam daftar antrean menjadi bank digital.
Deputi Direktur Basel dan Perbankan Internasional OJK Tony menyampaikan, ketujuh bank tersebut adalah Bank BCA Digital, PT BRI Agroniaga Tbk, PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Bank Capital Tbk, PT Bank Harda Internasional Tbk, PT Bank QNB Indonesia Tbk, dan PT Bank KEB Hana.
“Banyak bank mengklaim akan bertransformasi ke digital. Beberapa bahkan sudah mengklaim dirinya sebagai bank digital,” kata Tony dalam webinar, Kamis 10 Juni 2021.
- IHSG Akhir Pekan Tak Gentar Hadapi Aksi Profit Taking, Simak Saham ASII, ASRI, PGAS, dan TMAS
- Partai Gerindra Mengusulkan Anggaran Alutsista Rp3.500 Triliun
- ICBP Milik Konglomerat Anthoni Salim Rilis Global Bonds untuk Bayar Utang Akuisisi Pinehill Rp24,68 Triliun
Selain tujuh yang sedang mengantre, Tony juga menyebutkan ada lima bank yang sudah mendeklarasikan diri sebagai bank digital. Kelimanya adalah Bank BTPN melalui Jenius, Bank KB Bukopin melalui Wokee, Bank DBS melalui Digibank, Bank UOB melalui TMRW, serta Bank Jago melalui Jago.
Di luar fenomena tersebut, Tony menegaskan hingga kini OJK masih menerapkan dua jenis bank di Indonesia yakni bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Adapun tranformasi digital saat ini dinilai OJK sebagai pengembangan model bisnis perbankan.
Pada kesempatan berbeda, pengamat perbankan Paul Sutaryono mengungkapkan, di balik plus dan minusnya, prospek bisnis bank digital tetap menjanjikan. Asal, industri perbankan memiliki manajemen dan mitigasi risiko yang berkelanjutan.
Paul juga menyebut besarnya potensi risiko di era digital. Dari segi bisnis, Paul menyebut bank harus memiliki ekosistem bank digital.
Artinya, bank bukan hanya mempunyai infrastruktur digital. Tetapi bank juga sudah harus mempertimbangkan manfaat dan meningkatkan literasi keuangan melalui digitalisasi itu.
“Bank digital akan jadi tren, tapi apakah semua bank harus menjadi bank digital? Tidak, yang penting bank sehat dan berkembang,” kata Paul pada TrenAsia.com. (LRD)
