Nasional

Setelah 1 Tahun Perang, Bagaimana Kapasitas Militer Rusia dan Ukraina Sekarang?

  • Setelah hampir satu tahun pertempuran menyusul invasi Rusia ke Ukraina ada sebuah pertanyaan yang menarik tetapi sulit dijawab. Yakni bagaimana perbandingan kemampuan militer kedua negara saat ini?
artilery rusia.jpg

KYIV-Setelah hampir satu tahun pertempuran menyusul invasi Rusia ke Ukraina ada sebuah pertanyaan yang menarik tetapi sulit dijawab. Yakni bagaimana perbandingan kemampuan militer kedua negara saat ini? 

Hampir pasti angka pasti dan informasi yang tepat akan sulit didapat. Tetapi  kita tahu bahwa kekuatan Barat memasok beberapa persenjataan berat ke Ukraina. 

Baru-baru ini Ukraina juga meminta beberapa mitra Barat untuk jet tempur. Ini mengikuti perjanjian bersejarah untuk memasok tank modern oleh Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Selain itu berbagai senjata canggih bar uterus dipasok ke Kyiv.

Dengan kondisi saat ini akankah Rusia dapat memproduksi dan membeli senjata yang cukup untuk melanjutkan agresi yang sedang berlangsung? atau hanya untuk mempertahankan wilayah yang telah diduduki?

Apakah kemampuan militer Ukraina cukup untuk merebut kembali wilayah yang diduduki dan dianeksasi secara sepihak?  Atau apakah tugas utama saat ini  menahan kemajuan Rusia?

Menurut pengamat militer yang berbasis di Israel David Gendelman Rusia tidak membatasi serangannya. Saat ini Rusia memiliki keunggulan dalam persenjataan. Terutama , dalam artileri dan jet tempur.

“Industri militer Rusia memungkinkan pertempuran dengan kapasitas saat ini,” katanya kepada Euronews Selasa 14 Februari 2023.  Namun konsumsi amunisi artileri Rusia telah turun secara signifikan dibandingkan dengan musim semi hingga periode musim panas. Dan itu tampak memperlambat laju Rusia. “Hanya saja  pasukan Rusia perlahan tapi pasti bergerak maju.” 

Sedangkan tentara Ukraina sangat bergantung pada pasokan persenjataan modern barat. Saat ini tugas utama pasukan Ukraina adalah pertahanan. Untuk bisa melakukan serangan balik yang signifikan  mereka harus menerima senjata barat dalam jumlah besar. Sudah ada janji tentang senjata itu. Tetapi belum dikirim.

Tetapi pakar lain melihat Moskow mencoba menunda kekalahannya. Pada bulan-bulan setelah invasi Rusia dunia melihat kerugian besar dari perangkat keras militer Rusia. Baik yang rusak atau ditinggalkan di medan perang. 

Kremlin tampak tidak siap menghadapi kenyataan akan terjadi pertempuran langsung skala penuh. Semua yakin operasi direncanakan akan selesai dengan cepat. 

Tetapi bukan itu yang terjadi. Dan  menurut Pavel Luzin pakar kebijakan luar negeri dan pertahanan Rusia yang berbasis di Amerika,  serangan itu mungkin telah menyebabkan kerusakan pada angkatan bersenjata Rusia. Dan akan membutuhkan waktu lama untuk memperbaikinya.

 “Tidak mungkin memulihkan potensi militer Rusia. Angkatan Darat Rusia berada di puncak kekuatannya pada 2020-2021, dan tidak akan kembali ke sana,” katanya. 

Luzin menggambarkan ISIS mampu melawan koalisi internasional superior selama hampir empat tahun. Dan menurutnya begitulah cara Moskow mencoba menunda kekalahannya.

Sedangkan Neil Melvin Direktur Studi Keamanan Internasional di Royal United Services Institute (RUSI) memperkirakan,  Ukraina perlahan-lahan menguasai situasi. Terutama dengan kedatangan persenjataan modern yang dipasok oleh mitra Barat.

Dia menyebut perang benar-benar telah berlangsung sejak 2014  dengan pencaplokan Krimea oleh Rusia.  Dan perang memasuki babak baru  yang dimulai pada Februari 2022. Kedua belah pihak sudah diperlengkapi dengan baik.  Rusia memiliki jangkauan kemampuan yang komprehensif dan Ukraina memiliki beberapa yang signifikan. Tetapi tidak memiliki persenjataan utama di area tertentu.

Pada fase pertama perang Ukraina berhasil menumpulkan serangan Rusia pertama di Kyiv dan kemudian secara bertahap mendorong mundur lawan. Saat itu sejumlah besar peralatan Rusia ditangkap dan digunakan kembali. “Ini menjadikan donor terbesar  untuk angkatan bersenjata Ukraina adalah Rusia. Bukan Barat,” katanya.

Yang terlihat sekarang adalah  dorongan untuk menyediakan Ukraina dengan kendaraan lapis baja modern. Juga artileri dan roket yang lebih mampu.  Jangkauan juga telah ditingkatkan. Terutama terutama dengan sumbangan sistem artileri dan howitzer modern. Dan baru-baru ini Amerika Serikat telah meningkatkan artileri dengan jangkauan sekitar 150 km dengan memodifikasi sistem HIMARS  yang telah disediakan sebelumnya.

Dengan rudal baru ini pasukan Ukraina dari garis mereka saat ini  dapat menyerang pasukan Rusia di hampir semua wilayah Ukraina yang diduduki. Bukan hanya di bagian paling selatan dan paling timur Krimea. Dan bukan hanya di bagian paling timur wilayah Donetsk. Tetapi di tempat lain akan berada dalam jangkauan.

Tetapi mereka masih kekurangan jangkauan yang lebih jauh yakni rudal dengan daya serang hingga 300 km.  Amerika Serikat menolak permintaan untuk memasoknya dan Ukraina tidak memiliki jet tempur standar NATO modern. 

Sejak musim panas lalu puluhan negara telah mengalokasikan bantuan militer ke Ukraina dalam bentuk sistem senjata modern dan dukungan keuangan.  Tantangan bagi Ukraina adalah untuk benar-benar menggunakan semua ini secara terkoordinasi.

Ukraina akan mencoba  menerobos garis Rusia dengan apa yang disebut operasi senjata gabungan. Dan ini menjadi sebuah tantangan.

Rusia Juga Berkembang

Di pihak Rusia kapasitas militer juga berkembang. Meski tidak dengan cara yang sama. Menurut Malvin Rusia berperang dengan angkatan bersenjata besar dalam jumlah besar. Mereka kehilangan banyak peralatan. Mereka kehilangan personel. Tetapi mereka telah menggunakan musim dingin untuk menyusun kembali angkatan bersenjata mereka.

Kremlin memiliki 300.000 pasukan hasial mobilisasi. Putin juga memiliki banyak peralatan era Soviet. Mereka memiliki banyak peluru artileri, mereka memiliki banyak tank dan kendaraan lapis baja. Tidak harus yang paling modern, tetapi dalam jumlah besar. Mereka tidak mungkin kehabisan peralatan dasar itu.

Sejak deklarasi Munich melawan ekspansi NATO ke Eropa Timur pada 2007, Presiden Putin telah mengancam Barat dengan inovasi militer Rusia. Namun banyak dari sistem mutakhir baru yang dipamerkan tidak hadir dalam perang di Ukraina. Mereka sebagian besar tetap menjadi model atau teknologi virtual. Bukan teknologi yang diimplementasikan.

Wilayah di mana Rusia kekurangan adalah pada sistem roket pasca-Soviet yang lebih canggih dan kendaraan lapis baja yang lebih mampu.

Jadi dalam pertempuran selanjutnya Rusia akan tetap menggandalkan sumber dayanya yang luar biasa untuk menerobos garis Ukraina. Terutama dalam hal tenaga kerjanya.  Tanpa harus banyak kecanggihan.