‘Pembalasan Manis’, Putin Dipaksa Belingsatan Menunggu Erdogan
- Presiden Rusia Vladimir Putin harus serba salah menunggu kedatangan Presiden Turki Teyep Recep Erdogan.

Amirudin Zuhri
Author


TEHERAN-Dua orang kuat saling mengerjai. Mungkin itu gambaran pas ketika Presiden Rusia Vladimir Putin harus serba salah menunggu kedatangan Presiden Turki Teyep Recep Erdogan. Erdogan sepertinya ‘membalas dendam’ apa yang pernah dilakukan Putin kepadanya di masa lalu.
Vladimir Putin memang harus menunggu presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menjelang pembicaraan bilateral yang digelar di Iran Rabu 20 Juli 2022.
Putin terlihat terlihat "lelah"saat dia menunggu sekitar 50 detik sendirian menunggu orang kuat Turki itu bergabung dengannya.
Video yang direkam oleh kantor berita milik pemerintah Turki Anadolu menunjukkan presiden Rusia itu berdiri dengan canggung, dan kadang-kadang serba salah saat kamera berfokus pada wajahnya.
- Lolos Uji Laik Fungsi Dan Operasi, Tol Serpong Balaraja Seksi 1A Siap Beroperasi
- Ada Pipa Gas PGN Bocor di MT Haryono, Lalin Daerah Cawang Kembali Normal
- Kebijakan Dovish BI Bikin Rupiah Ditutup Melemah di Level Rp14.989,5 per USD
Akhirnya dia terlihat sedikit mengangkat bahu saat Erdogan berjalan ke arahnya, tersenyum, sebelum pasangan itu berjabat tangan saat mereka berbalik menghadap kamera. Sementara Putin tampak meringis.
Joyce Karam, koresponden senior untuk The National yang berbasis di Abu Dabi berkomentar di Twitter bahwa itu adalah "pembalasan manis” oleh Erdogan. Pada pada tahun 2020 dia dipermalukan Putin saat harus menunggu Putin selama 2 menit.
Dua orang kuat tersebut berada di Iran untuk serangkaian pembicaraan bilateral dan trilateral dengan pemimpin Iran. Erdogan sangat ingin membahas pengiriman biji-bijian dari Ukraina dan keamanan di Suriah, di mana pasukan Rusia dan Iran dikatakan aktif.
Perang telah mengakibatkan tidak ada kapal yang meninggalkan pelabuhan Laut Hitam yang membawa gandum Ukraina. Bahan penting yang memberi makan hingga 400 juta orang di seluruh dunia.
Program Pangan Dunia mengatakan kekurangan gandum yang diakibatkannya akan membuat 47 juta orang lagi mengalami kelaparan akut.
Setelah pertemuannya dengan Erdogan dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Putin mengatakan Rusia siap untuk memfasilitasi ekspor biji-bijian Ukraina melalui Laut Hitam. Tetapi juga ingin pembatasan yang tersisa pada ekspor biji-bijian Rusia dihapus.
Dia mengatakan belum semua masalah telah diselesaikan pada pengiriman biji-bijian "tetapi fakta bahwa ada pergerakan sudah bagus".
Dia menambahkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menawarkan untuk menengahi antara Rusia dan Ukraina. Tetapi Moskow tidak melihat adanya keinginan dari Ukraina untuk memenuhi persyaratan dari apa yang dia gambarkan sebagai kesepakatan damai awal yang disepakati pada bulan Maret.
Pesan tajam
Analis mengatakan pertemuan trilateral dengan para pemimpin Iran dan Erdogan adalah pesan tajam ke Barat tentang rencana Rusia untuk menjalin hubungan strategis yang lebih dekat dengan negara-negara non-Barat lainnya. Langkah ini dilakukan saat sanksi terus menggigit Rusia.
- Teleskop James Webb Rilis Foto Alam Semesta, Berhasil Deteksi Air di Planet yang Jauh
- Waspada! Inflasi Dapat Mengancam Tabungan Anda, Ini Penjelasannya
- Unik! Sinar Mas Land Bangun Jalan dari Aspal Campuran Sampah Plastik di BSD City
Dalam kunjunganya Khamenei berbicara tentang keinginannya untuk kerja sama jangka panjang antara Iran dan Rusia. Dia mengatakan kepada Putin bahwa kedua negara perlu tetap waspada terhadap apa yang dia sebut sebagai "penipuan Barat".
Pertemuan ini terjadi setelah Gedung Putih mengatakan para pejabat Rusia telah mengunjungi sebuah lapangan terbang di Iran setidaknya dua kali. Tujuan mereka adalah untuk melihat drone Iran yang kemungkinan akan digunakan dalam perang di Ukraina.
Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih John Kirby mengatakan perjalanan Putin ke Iran menunjukkan betapa terisolasinya Rusia.
Setelah KTT, Suriah - sekutu kuat Rusia dan Iran - secara resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Ukraina sebagai tanggapan atas langkah serupa oleh Kyiv.

Amirudin Zuhri
Editor
