Nasional

Mengupas Sasaran dan Efektivitas Diskon Listrik 50 Persen dalam Paket Stimulus Terbaru

  • Pemerintah targetkan 79,3 juta rumah tangga untuk diskon listrik, sementara Kemenkeu masih merampungkan hitungan total anggaran stimulus. Pelajaran dari program sebelumnya jadi acuan.
IIMS 2024 Dibuka Hari Ini, PLN Perkuat Dukungan Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia
IIMS 2024 Dibuka Hari Ini, PLN Perkuat Dukungan Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia (PLN)

JAKARTA - Pemerintah Indonesia mengumumkan serangkaian program insentif ekonomi, termasuk diskon tarif listrik sebesar 50%, yang akan mulai berlaku efektif per 5 Juni 2025. Hal ini dirancang guna merangsang daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua hingga periode mendatang.

Salah satu insentif utama adalah diskon tarif listrik sebesar 50% yang akan berlangsung selama dua bulan, mulai 5 Juni hingga 31 Juli 2025. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa rincian skema akan dibahas lebih lanjut pada 5 Juni mendatang.

Berbeda dengan awal tahun, program diskon listrik ini ditujukan bagi sekitar 79,3 juta pelanggan rumah tangga PLN dengan daya listrik 1300 Volt Ampere (VA) ke bawah (≤1300 VA), mencakup kategori 450 VA, 900 VA, dan 1.300 VA. 

Sementara itu, skema penerapannya serupa dengan program diskon listrik yang telah dilaksanakan pada Januari-Februari 2025 lalu, dan akan dikoordinasikan oleh Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, serta PT PLN (Persero).

Kemenkeu Masih Merinci Anggaran

Mengenai pendanaan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah merampungkan perhitungan total anggaran untuk seluruh paket insentif ini. Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu, Luky Alfirman, pada Selasa, 27 Mei 2025, mengonfirmasi bahwa sebagian dana telah dialokasikan dalam APBN 2025, namun sebagian lainnya masih dalam proses kalkulasi.  "Masih dihitung, iya [masih dihitung] dong, kan baru meluncur kemarin, kita hitung dulu," ujar Luky. 

Senada, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan perlunya kalkulasi cermat untuk menentukan pos belanja yang akan digunakan. "Ya nanti kita lihat, kemarin kan sudah diumumkan. (Insentif) yang udah diumumkan nanti kita perlu hitung ya, berapa-berapanya, lalu kemudian lewat jalur mana, nanti kita jalanin," ujar Suahasil. 

Sebagai perbandingan, untuk program diskon listrik Januari-Februari 2025 yang cakupannya lebih luas ini, pemerintah dilaporkan menggelontorkan dana sekitar Rp13,6 triliun. Selain diskon listrik, pemerintah juga menyiapkan lima program stimulus lainnya yang menyasar berbagai sektor. 

Untuk meringankan biaya perjalanan selama periode libur sekolah, yakni awal Juni hingga pertengahan Juli 2025, akan diberlakukan diskon transportasi yang mencakup potongan 30% untuk tiket kereta api, Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 6% untuk tiket pesawat, dan diskon 50% untuk tiket angkutan laut. 

Selain itu, pemerintah juga memberikan diskon tarif tol sebesar 20% bagi sekitar 110 juta pengendara. Skema yang diberikan oleh pemerintah sejauh ini menyerupai dengan penerapan diskon pada momen Nataru dan Lebaran sebelumnya.

Selanjutnya, untuk memperkuat jaring pengaman sosial selama Juni-Juli 2025, akan dilakukan penebalan bantuan sosial berupa tambahan kartu sembako senilai Rp200.000 per bulan untuk 18,3 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) selama dua bulan. Mereka juga akan menerima bantuan pangan berupa 10 kilogram beras. 

Tidak hanya itu, Bantuan Subsidi Upah (BSU) akan disalurkan pada Juni-Juli 2025 sebesar Rp150.000 per bulan untuk sekitar 17 juta pekerja dengan gaji hingga Rp3,5 juta atau sesuai UMP/UMK, serta untuk 3,4 juta guru honorer, dengan mekanisme satu kali penyaluran pada Juni 2025. 

Ini berbeda dengan mayoritas stimulus yang berlaku Juni-Juli, program diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) BPJS Ketenagakerjaan sebesar 50% bagi pekerja sektor padat karya akan diperpanjang selama enam bulan, terhitung mulai Agustus 2025 hingga Januari 2026.

Refleksi Arah Kebijakan

Ekonom Universitas Indonesia, Fitra Faisal, menilai diskon listrik sangat efektif dalam membantu meringankan pengeluaran kelompok kelas menengah. Mereka ini adalah segmen masyarakat yang seringkali terlewat dari bantuan sosial pemerintah meskipun juga menghadapi berbagai kesulitan ekonomi dalam kesehariannya.

Program serupa Januari-Februari lalu, menurutnya, membuktikan hal tersebut dan menyasar mereka yang tidak miskin namun juga tidak tergolong kaya. Ia menjelaskan, "sebenarnya cukup meringankan beban dari middle class ya... kaya enggak juga, tapi kalau dibilang miskin mereka enggak miskin gitu ya," kata Fitra dalam diskusi di Youtube Kompas TV dikutip pada 28 Mei 2025. 

Namun, Fitra menekankan bahwa kepercayaan konsumen menjadi faktor penentu agar berbagai stimulus dapat benar-benar mendorong peningkatan aktivitas belanja. Tanpa adanya keyakinan kuat pada stabilitas ekonomi masa depan, insentif yang diberikan mungkin tidak akan termanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Kondisi tersebut tercermin pada data Maret lalu; Indeks Keyakinan Ekonomi (IKE) dan Indeks Ekonomi Saat Ini (IEK) masing-masing tercatat 110,6 dan 131,7. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang masing-masing sebesar IKE 114,2 serta IEK 138,7.

Namun, dari pengalaman sebelumnya, terlihat bahwa besaran stimulus saja tidak cukup. Keberhasilan kebijakan juga sangat bergantung pada sentimen publik dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Apalagi, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 masih di bawah target 5%, menjadi peringatan bahwa kebijakan stimulus perlu dirancang lebih hati-hati dan tepat sasaran.

Karena itu, stimulus jangka pendek seperti diskon listrik harus disertai dengan langkah-langkah jangka panjang yang menyentuh akar persoalan struktural, seperti stabilitas harga dan penciptaan iklim investasi yang kondusif. Tujuannya adalah memastikan konsumsi masyarakat meningkat dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga secara berkelanjutan.