Nasional

Mengapa Kurdi Jadi Sasaran Serangan Turki dan Iran?

  • Peningkatan kekerasan baru-baru ini oleh Turki dan Korps Garda Revolusi Iran telah menargetkan Kurdistan Suriah dan Irak. Seperti yang sering terjadi, alasan penyerangan bersifat strategis.
kurdi.jpg

ANKARA-Peningkatan kekerasan baru-baru ini oleh Turki dan Korps Garda Revolusi Iran telah menargetkan Kurdistan Suriah dan Irak. Seperti yang sering terjadi, alasan penyerangan bersifat strategis.

Suku Kurdi yang berjumlah sekitar 35 juta orang merupakan kelompok etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki negara sendiri. Sebagian besar dari mereka terkonsentrasi di wilayah yang luas yang tersebar di Turki, Suriah, Irak, Iran, dan Armenia.

Meskipun mereka memiliki identitas etnis yang sama dan mayoritas Muslim Sunni, Kurdi di daerah ini tidak memiliki perwakilan lintas batas, kebijakan bersama, atau unit militer gabungan.

Ini menempatkan mereka pada risiko serangan lebih lanjut dari negara-negara di kawasan itu. Terutama yang memiliki alasan strategis untuk menargetkan minoritas. 

Mengapa Turki menargetkan Kurdi di Suriah?

Dalam beberapa tahun terakhir, orang Kurdi di timur laut Suriah mendapat serangan reguler dari Turki. Ankara menggunakan alasan memerangi terorisme untuk kampanye militernya ini.

Pekan lalu Turki meningkatkan serangan ofensif dan meluncurkan operasi "Claw Sword" atau Pedang Cakar terhadap Kurdi di Suriah dan terhadap Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Irak utara. Mereka dianggap bertanggung jawab atas serangan di Istanbul pada 13 November yang menewaskan enam orang dan melukai lebih dari 80.

Baik PKK dan afiliasi mereka di Suriah, Unit Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah (YPG) telah membantah terlibat dalam pemboman itu. 

Setelah serangan udara Turki menewaskan sedikitnya 184 orang Kurdi di Suriah dan Irak, kantor berita Turki Anadolu menuduh YPG menembakkan roket ke kota perbatasan Turki Karkamis pada Senin 21 November 2022. Media itu mengatakan setidaknya tiga orang tewas.

Meski Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa menganggap PKK sebagai kelompok teroris, mereka berbeda pendapat tentang isu YPG. Ambivalensi terhadap faksi Kurdi ini terutama berlaku untuk Amerika. Ini karena YPG bergabung dengan pasukan Amerika melawan ISIS di Suriah pada tahun 2016.

Pada hari yang sama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meningkatkan retorikanya. Dia mengatakan Operasi Pedang Cakar tidak terbatas hanya pada operasi udara. Dia mengatakan Turki mungkin meluncurkan serangan darat keempat ke Suriah. 

Mereka telah meluncurkan tiga serangan semacam itu sejak 2016. Dan sekarang secara efektif mengendalikan petak besar wilayah perbatasan yang merupakan rumah bagi sekitar 4 juta, terutama orang Kurdi.

Perang saudara telah berkecamuk di Suriah sejak 2011. Setelah kekalahan awal pasukan pemerintah Suriah, Rusia bergabung pada tahun 2015 untuk mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad . Dan sejak itu pasukan pemerintah memenangkan kembali kendali atas sebagian besar negara itu.

Namun timur laut, bersama dengan kota Idlib di barat laut Suriah, tetap menjadi salah satu benteng terakhir yang tersisa untuk melawan al-Assad dan sekutu Rusia serta Iran.

Sejumlah pengamat mengatakan Erdogan mungkin merencanakan serangan untuk memaksa penduduk Kurdi di wilayah itu lebih jauh dari perbatasan. Selanjutnya wilayah itu akan digunakan untuk memukimkan kembali pengungsi Suriah yang melarikan diri dari perang.

Langkah ini dapat mengatasi meningkatnya kebencian terhadap pengungsi Suriah di Turki. Situasi yang telah berkontribusi pada penurunan popularitas Erdogan di dalam negeri di tengah krisis ekonomi dan menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Kenapa Kurdi Irak Diserang Turki dan Iran

Operasi Pedang Cakar  Turki juga menyasar Irak akhir pekan lalu. Serangan difokuskan di wilayah pegunungan Qandil di perbatasan Irak-Iran. Wilayah yang dikatakan sebagai markas PKK. Menurut pejabat Kurdi Irak, lebih dari 30 anggota PKK tewas dalam 25 serangan udara.

Amerika mengkritik serangan itu. Ned Price, juru bicara Departemen Luar Negeri  Amerika mengatakan pihaknya menentang tindakan militer yang tidak terkoordinasi di Irak serta melanggar kedaulatan Irak.

Selanjutnya Mengapa Iran juga menargetkan Kurdi di Irak?

Pada 21 November 2022 Korps Garda Revolusi Islam juga meningkatkan serangannya terhadap apa yang digambarkan sebagai "markas dan pusat konspirasi, pembentukan, pelatihan dan organisasi kelompok separatis anti-Iran. Menurut Kantor Berita Tasnim Iran, 26 orang meninggal dalam serangan tersebut. 

Teheran menyalahkan Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG) terkait protes yang terus berlangsung di negara tersebut. KRG sendiri adalah oposisi Kurdi Iran yang diasingkan di wilayah perbatasan semi-otonom Kurdi Irak.

Beberapa orang Kurdi telah melarikan diri ke Irak dari Iran. Tetapi sangat sedikit ahli yang percaya bahwa protes diorganisir dari Irak seperti yang dituduhkan Iran.