Mengapa Ketegangan Amerika-Arab Bisa Meruntuhkan Ekonomi Dunia?
- Hubungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi adalah salah satu yang paling penting di planet ini. Dan akhir-akhir ini, itu juga menjadi salah satu yang paling canggung.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA-Hubungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi adalah salah satu yang paling penting di planet ini. Dan akhir-akhir ini, itu juga menjadi salah satu yang paling canggung.
Para pejabat di Washington yang marah menjanjikan konsekuensi setelah OPEC yang dipimpin Saudi secara tajam memangkas produksi minyak awal bulan ini. Langkah yang menaikkan harga bahan bakar hanya beberapa minggu sebelum pemilihan paruh waktu.
Anggota parlemen Amerika mengancam langkah-langkah yang tidak terpikirkan belum lama ini. Termasuk melarang penjualan senjata ke Arab Saudi dan mengizinkan Departemen Kehakiman untuk mengajukan gugatan terhadap negara dan anggota OPEC lainnya dengan kasus kolusi.
Riyadh telah terperangkap dalam rasa haus politisi Amerika untuk balas dendam. Dan pejabat Saudi mengisyaratkan akan melepas atau mengembalikan utang Amerika yang dapat memiliki efek riak besar di pasar keuangan dan ekonomi riil.
- Uang Rupiah Rp20.000 Bergambar Dewa Ganesha Bikin Geger India, Ternyata Ini Sebabnya
- Susul Mc Donalds, Restoran Cepat Saji KFC di Rusia Bakal 'Dilokalkan'
- Punya Harta Ribuan Triliun, Ini Daftar Orang Terkaya 2022 Versi Forbes
Tidak ada pihak yang berusaha menyembunyikan ketegangan. Setelah seorang pejabat tinggi Saudi mengatakan kerajaan tersebut memutuskan untuk menjadi pihak yang lebih dewasa, seorang pejabat tinggi Gedung Putih menanggapi dengan mengatakan, "Ini tidak seperti kisah cinta masa SMA”
Apa yang terjadi selanjutnya sangat penting. Jika hubungan yang telah berlangsung selama beberapa dekade ini berubah menjadi kehancuran total, akan ada konsekuensi besar bagi ekonomi dunia. Belum lagi keamanan internasional.
Clayton Allen, direktur di Eurasia Group mengatakan ini adalah titik terendah baru. Pihaknya telah melihat degradasi dalam hubungan Amerika-Saudi selama bertahun-tahun. “Tetapi sekarang ini adalah yang terburuk,” katanya dikutip CNN 29 Oktober 2022.
Pertengkaran itu terkait dengan salah satu titik sakit terbesar warga Amerika selama era Biden yakni inflasi dan harga gas yang tinggi.
Setelah mencoba dan gagal membujuk OPEC untuk meningkatkan produksi minyak, Presiden Joe Biden harus membalikkan janji kampanye 2020 untuk menjadikan Arab Saudi sebagai paria karena catatan hak asasi manusianya. Biden mengunjungi Arab Saudi selama musim panas dan bahkan bertemu Putra Mahkota Mohammad bin Salman.
Para pejabat Amerika mengira mereka mencapai kesepakatan rahasia dengan Arab Saudi untuk akhirnya meningkatkan pasokan minyak hingga akhir tahun. Tetapi mereka salah.
OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, merespons dengan meningkatkan produksi minyak hanya 100.000 barel per hari. Peningkatan terkecil dalam sejarahnya. Langkah itu secara luas dipandang sebagai tamparan ke wajah pemerintahan Biden.
Apa yang terjadi selanjutnya lebih buruk. Pada awal Oktober, OPEC+ mengumumkan rencana untuk memangkas produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari. Sebuah langkah yang secara singkat menaikkan harga minyak dan bensin pada saat inflasi tinggi dan membuat marah politisi Amerika.
Sejauh ini tampaknya tidak ada pihak yang saling memahami. Riyadh meremehkan beratnya serangan balik Amerika. Dan Washington berasumsi bahwa mereka memiliki perjanjian yang tidak diungkapkan ke publik.
Fatih Birol, direktur eksekutif Badan Energi Internasional menggambarkan langkah itu sebagai belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika dunia berada di ambang resesi global, dua pihak ini mereka memutuskan untuk mendorong harga naik.
Mempertajam kritik
Ketegangan belum mereda. Dan para pejabat dari kedua belah pihak telah mempertajam kritik mereka satu sama lain dalam beberapa hari terakhir. Seorang menteri penting Saudi yang awalnya dari membela strategi energi Biden kini balik membantingnya.
Selama konferensi pers OPEC+ pada awal Oktober, Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman memuji keputusan Biden melepaskan jumlah cadangan minyak darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dia tidak akan menyebut langkah Biden itu sebagai distorsi dan dilakukan pada waktu yang tepat. Jika Biden tidak mengambil langkah itu, dia yakin segalanya mungkin akan berbeda.
Tetapi tiga minggu kemudian menteri yang sama itu mendendangkan nada yang sangat berbeda. Dia mengatakan pihak-pihak yang menipiskan stok darurat mereka, menghabiskannya, menggunakannya sebagai mekanisme untuk memanipulasi pasar. Sementara tujuan utamanya adalah untuk mengurangi kekurangan pasokan.
- Anti Resesi, 5 Bisnis Ini Bisa Jadi Ladang Cuan Saat Ekonomi Tak Menentu
- Investor Buat Surat Terbuka, Minta Mark Zuckerberg Menyerah Pada Meta
- Mengandung Zat Berbahaya, Unilever Tarik Dry Shampoo Dove hingga TRESemme di AS
Dia mengatakan hilangnya persediaan darurat dapat menjadi menyakitkan di bulan-bulan mendatang.
Tetapi kritik perlu dicatat mengingat OPEC sendiri secara terbuka sebenarnya memanipulasi pasar dalam banyak cara dengan menahan pasokan untuk mendukung harga.
Risikonya sekarang adalah ketegangan berubah menjadi siklus pembalasan yang merusak stabilitas ekonomi global, atau stabilitas ekonomi apa pun yang ada saat ini.
Anggota parlemen Amerika dari Demokrat dan Republik telah meningkatkan seruan mereka untuk memberlakukan undang-undang NOPEC atau No Oil Producing and Exporting Cartels. Ini berarti akan memberdayakan Departemen Kehakiman untuk mengejar negara-negara OPEC dengan alasan antimonopoli.
Meskipun NOPEC bukanlah hal baru, tampaknya lebih mungkin sekarang daripada pada titik mana pun dalam memori baru-baru ini. Sulit memang untuk tidak membayangkan bagaimana kesalnya sejumlah besar anggota parlemen Amerika.
Anggota parlemen tidak hanya kesal. Mereka menyadari OPEC tidak benar-benar membuat para politisi ini disayangi oleh para pemilihnya.
Karen Young peneliti senior di Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia mengatakan sekarang menjadi popular bahwa sentimen Amerika adalah anti-Saudi. Hal ini sekarang memiliki utilitas politik domestik untuk politisi Amerika. Dengan situasi ini NOPEC akan lebih sulit untuk diveto daripada di masa lalu.
Arab Saudi dapat menanggapi hukuman dari Washington dengan langkah drastis untuk meningkatkan konflik lebih jauh.
Thel Wall Street Journal mengutip sejumlah sumber melaporkan pejabat Saudi secara pribadi telah memperingatkan bahwa kerajaan tersebut dapat menjual obligasi Treasury Amerika jika Kongres meloloskan NOPEC.
Paling tidak, membuang utang Amerika akan menciptakan ketidakpastian di pasar pada saat yang sudah berbahaya. Penjualan besar-besaran akan menaikkan suku bunga Treasury, mengacaukan pasar dan meningkatkan biaya pinjaman untuk keluarga dan bisnis. Dan tentu saja kepemilikan Arab Saudi sendiri akan rusak dlam penjualan semacam itu.
Menurut data Departemen Keuangan Amerika, Arab Saudi memegang sekitar US$ 119 miliar utang Amerika. Ini menjadikannya pemegang Treasuries terbesar ke-16 di dunia.
Risiko lain adalah bahwa Arab Saudi, pemimpin de facto OPEC+, dapat menghapus pasokan lebih lanjut dari pasar minyak dunia. Atau setidaknya menolak untuk menanggapi lonjakan harga di masa depan.
Pembatasan lebih lanjut pada pasokan OPEC akan mengangkat harga bahan bakar dan memperburuk inflasi yang berarti meningkatkan risiko resesi yang sudah tinggi.
Semua ini menjelaskan mengapa kehancuran total dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi mungkin menjadi hal terakhir yang dibutuhkan ekonomi rapuh saat ini untuk benar-benar runtuh.
