Langkah Arbitrase dalam Permasalahan Blok Masela Dinilai Bukan Solusi
- Pertimbangan langkah arbitrase dalam persoalan alikelola Blok Masela yang menyeret Shell dinilai bukan solusi tepat karena akan memperpanjang proses pemindahan pengelolaan blok raksasa yang berada di wilayah Maluku tersebut.

Debrinata Rizky
Author
JAKARTA - Pertimbangan langkah arbitrase dalam persoalan alikelola Blok Masela yang menyeret Shell dinilai bukan solusi tepat karena akan memperpanjang proses pemindahan pengelolaan blok raksasa yang berada di wilayah Maluku tersebut.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan, arbitrase bukan solusi. Proses arbitrase yang panjang justru akan memperumit alihkelola, sehingga dapat menyebabkan mundurnya seluruh rangkaian yang harus dilalui Blok Masela tersebut.
Seharusnya pemerintah justru menjadi penengah, bagi Shell dengan mendorong proses divestasi ke PT Pertamina (Persero). Jika opsi arbitrase tetap dipaksakan kurang tepat, pasalnya kesempatan Indonesia untuk menang melawan Shell dinilai Fahmy kecil.
"Kalau kemudian proses ini sebenarnya masih bisa dibicarakan pertamina memediasi jika dibawa ke arbitrase. Menurut saya kurang tepat mengapa tidak tepat pertama proses nya panjang, kemungkinan Indonesia menang itu kecil," katanya kepada TrenAsia.com, Senin, 29 Mei 2023.
- Urgensi PMK 49 Tahun 2023 Dipertanyakan, Ekonom Singgung Muatan Politis
- Ini Sejumlah Sentimen yang Bikin Saham ICBP Layak Dikoleksi
- Newcastle Lolos Liga Champions, Cristiano Ronaldo Jadi Gabung?
Lebih lanjut menurut Fahmy, pemerintah harus memikirkan kembali cara win-win solution agar kesepakatan Pertamina dan Shell menemukan titik temu terkait kesepakatan harga alihkelola yang sama-sama menguntungkan.
Sehingga opsi arbitrase bukan keharusan untuk menyelesaikan alotnya negosiasi. Opsi kedua menurut Fahmy yang bisa diambil pemerintah ialah dengan menyewa konsultan internasional aprisior yang bisa menilai berapa harga yang tepat dan bisa menjadi acuan dasar.
Pertamina Setengah Hati Masuk Blok Masela
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai Pertamina setengah hati untuk mengambil alihkelola Blok Masela ini karena 'dipaksa' oleh pemerintah. Ditambah setelah Shell umumkan mundur dari blok gas raksasa tersebut.
"Beberapa investor asing ternyata mundur. Pertamina santai saja tetap pada harga yang ditawarkan. Menurut saya tidak harus mengotot tawar menawar harga sampai menemukan yang pas," tambahnya.
- Jadwal KRL Jogja-Solo Berubah Mulai 1 Juni 2023, Cek Jadwal Lengkapnya
- The Little Mermaid Panen Pemasukan Rp1,77 Triliun di Memorial Day
- Ubah Taktik, Rusia Gempur Kyiv di Siang Bolong
Sementara itu dari segi pendanaan dengan kondisi Pertamina, masih bisa menggunakan dana eksternalnya, surat utang dan dana produksi.
Divestasi Hak Partisipasi
Sebelumnya, perusahaan migas raksasa asal Belanda, Shell tak juga melepas atau divestasi hak partisipasinya (participation interest/PI) di Lapangan Abadi Blok Masela. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif bahkan membuka opsi jika tak ada perkembangan di tahun 2024, PI Blok Masela berpotensi kembali dimiliki negara.
Arifin mengakui proses negosiasi Pertamina dan Shell belum membuahkan hasil karena terganjal masalah harga. Selain itu peluang untuk melelang kembali Blok Masela, mengaku siap jika harus bersengketa dengan Shell di arbitrase internasional.
"Belum ketemu, ya kalau satu ngasih harganya keterlaluan yang satu nawarnya keterlaluan nggak ketemu," ungkap dia di kantor Kementerian ESDM beberapa waktu lalu.

Drean Muhyil Ihsan
Editor
