Nasional

Kementerian ESDM: Tren Perusahaan Berbasis Energi Fosil Bergeser ke EBT

  • Tren masyarakat dunia saat ini telah beralih ke energi terbarukkan yang ramah lingkungan seperti Energi Baru Terbarukan (EBT).
PLT EBT
Ilustrasi pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT) (pixabay.com)

JAKARTA - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukkan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana mengungkapkan, tren masyarakat dunia saat ini telah beralih ke energi terbarukkan yang ramah lingkungan seperti Energi Baru Terbarukan (EBT).

Dadan mengatakan, adanya tren pemanfaatan energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan ke depan diperkirakan terus meningkat seperti yang dilakukan beberapa perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi besar dunia seperti, Total, Equinor, Shell, dan Eni.

"Ini semua sudah bergerak ke arah penyediaan energi bersih yang selama ini mereka bisnisnya adalah berbasis energi fosil (kemigasan) dan anggaran 5-6 tahun terakhir mereka melakukan transaksi yang besar untuk bergeser menjadi pemain-pemain energi baru terbarukkan," ujar Dadan Kusdiana di acara Energy Transition Mechanism dilansir Kamis, 30 Maret 2023.

Sejak 2015, kata Dadan, penyediaan listrik berbasis EBT selalu lebih tinggi jika dibandingkan dengan penyediaan listrik dari sumber energi berbasis fosil. Hal ini menurut Dadan menunjukkan bahwa transisi energi sudah terjadi di dunia atau di negara-negara maju semakin besar dari tahun ke tahun.

Berdasarkan paparan Dadan, di tahun 2020 persentase pembangkit yang berbasis energi fosil hanya 17% atau di bawah 20%. Sisanya itu pembangkit yang berbasis energi terbarukkan. Berdasarkan simulasi yang sudah dilakukan, Indonesia akan menjadi yang Net Zerro Emission (NZE) yang artinya emisi yang dihasilkan setara dengan yang menyerap emisi, itu yang dinamakan NTZ.

Berdasarkan simulasi yang sudah dilakukan, sektor energi ini masih akan mengeluarkan emisi sebesar 129 juta ton di 2060. Ini nanti akan di offset dengan sektor kehutanan dan pertanian dimana secara total d itahun 2060 itu tetap karbon netral.

Dadan menjelaskan, untuk mencapai NZE syarat utama adalah memastikan adanya pergeseran dari sumber energi berbasis fosil ke yang berbasis listrik seperti pengadaan kendaraan listrik baru atau hasil konversi listrik.

Langkah lain adalah mempelajari dan mengembangan Carbon Capture Storage/Carbon Capture Utilization Storage untuk menangkap dari CO2 tersebut. Terakhir, mengembangkan energi baru terbarukkan baru seperti hydrogen dan amoniak, ke enam efisiensi energi.