Nasional

Geopolitik Dunia Kerek Harga Minyak Mentah Indonesia Januari 2022 Jadi US$85 Per Barel

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) ditetapkan sebesar US$85,89 per barel pada Januari 2022.
Minyak mentah
Ilustrasi produksi minyak mentah (Pixabay)

JAKARTA – Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) ditetapkan menjadi US$85,89 per barel pada Januari 2022 atau naik US$12,53 per barel dibandingkan dengan Desember 2021 sebesar US73,36.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan bahwa kenaikan tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor11.K/MG.03/DJM/2022 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Januari 2022.

Menurut Agung, kenaikan ICP pada bulan Januari dipengaruhi oleh adanya dinamika geopolitik yang terjadi di sejumlah negara, hal itu turut  memicu terkereknya harga minyak mentah di pasar internasional. 

“Saat ini sejumlah negara tengah mengalami gesekan politik, seperti yang terjadi antara Ukraina-Rusia,” jelas Agung.

Selain itu, beberapa negara anggota opec+ juga tengah mengalami sejumlah permasalahan yang berujung pada menurunnya jumlah produksi rata-rata harian hingga kendala di proses distribusi pada komoditas fosil itu. 

Di antaranya seperti yang terjadi pada Kazakhstan, negara dengan jumlah produksi 1,6 juta barel per hari  itu tengah mengalami kendala logistik yang berakibat menurunnya produksi. Selain itu, di negara tersebut terjadi demonstrasi terhadap kenaikan harga bahan bakar.

Bersama itu, Uni Emirat Arab (UEA) selaku negara dengan produksi minyak OPEC tertinggi ketiga juga tengah mengalami serangan drone dan misil yang mematikan dari pemberontak Yemeni Houthi di depot bahan bakar Mussafah, ADNOC. Hal itu berakibat pada terhambatnya proses produksi minyak.

Adapun Libya tercatat hanya berhasil mencapai angka produksi minyak mentah pada kisaran 700.000 barel per hari saja, dari potensi produksi kurang lebih 1,2 juta barel per hari.

“Libya mengalami penurunan produksi minyak terendah dalam 14 bulan terakhir akibat blokade di lapangan minyak utama area barat dan disertai perbaikan pipa yang menghubungkan Lapangan Samrah dan Dahra ke terminal Es Sider (Kapasistas 350 ribu barel per hari),” jelas Agung.

Berbagai hambatan yang terjadi oleh para negara produsen minyak mentah dunia itu juga disertai dengan meningkatnya permintaaan dunia terhadap minyak mentah akibat adanya relaksasi pembatasan COVID-19.

Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA) pada Januari 2022, terdapat peningkatan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia sebesar 200.000 barel per hari menjadi 5,5 juta barel per hari pada 2021 dan 3,3 juta barel per hari pada 2022.

"Komite penasehat OPEC+ melaporkan implikasi Omicron akan pertumbuhan permintaan dunia akan terbatas. Bahkan pihak Sekretaris Jendral OPEC menyampaikan permintaan minyak dunia akan kembali ke tingkat sebelum pandemik pada akhir tahun 2022," jelas Agung.

Sementara itu, harga minyak mentah di pasar berjangka ICE Brent yang tengah mengalami backwardation juga disebut mejadi penyebab semakin terkereknya harga minyak mentah dunia saat ini.

Sedangkan untuk Kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga tidak hanya dipengaruhi oleh faktor itu saja, namun juga dipengaruhi berdasarkan hasil survei RIM, Crude Troughput Singapura pada akhir Januari 2022 mengalami peningkatan 1,4% dibandingkan akhir Desember 2021 menjadi 1,17 juta barel per hari.

Selengkapnya perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama pada Januari 2022 sebagai berikut:

  • Dated Brent naik sebesar USD13,12 per barel dari USD74,10 per barel menjadi USD87,22 per barel.
  • WTI (Nymex) naik sebesar USD11,29 per barel dari USD71,69 per barel menjadi USD82,98 per barel.
  • Brent (ICE) naik sebesar USD10,77 per barel dari USD74,80 per barel menjadi USD85,57 per barel.
  • Basket OPEC naik sebesar USD11,63 per barel dari USD73,49 per barel menjadi USD85,13 per barel. (TW/NA)