Dengan Semangat Oyakudachi, Mandom Indonesia (TCID) Konsisten Terapkan ESG
- JAKARTA - PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) menerapkan "Oyakudachi" atau semangat dalam memberikan manfaat kepada masyarakat, lingkungan dan tata kelola perusahaan

Feby Dwi Andrian
Author


JAKARTA - PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) menerapkan oyakudachi atau berdedikasi untuk melayani lingkungan, sosial dan tata kelola yang baik atau ESG. Lewat dedikasi ini perusahaan juga berkomitmen perusahaan terhadap bisnis yang berkelanjutan.
Direktur Utama PT Mandom Indonesia Tbk, Hideki Nakamura mengatakan, ESG menjadi salah satu fokus TCID dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan.
"Selain itu, perusahaan juga membagi empat pilar sebagai kunci mencapai pembangunan berkelanjutan di masyarakat, seperti ekonomi, manusia, lingkungan dan tata kelola perusahaan yang baik," ungkap Hideki dalam laporan berkelanjutan, Jumat 23 September 2022.
- Pangeran Charles Jadi Raja Kaya Raya, Dari Mana Asal Hartanya?
- Agar Gaji Tak Numpang Lewat, 6 Aplikasi Pengatur Keuangan Ini Patut Dicoba
- Mantap! 19 Ruas Tol Baru Sepanjang 283 Km Beroperasi Akhir 2022, Ini Daftarnya
Dari aspek lingkungan, perseroan menilai walau manusia di satu sisi bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan, manusia di sisi lainjuga memegang peran penting dalam usaha pembangunan dan pelestarian lingkungan.
"Bisnis harus mempertimbangkan usaha untuk meminimalisir jejak yang ditimbulkan dari proses produksi dan kegiatan operasional sehari-hari," tambah Hideki.
Ia melanjutkan bagaimana sebuah produk bisa dikonsumsi secara berkelanjutan, dan mempromosikan masyarakat yang berorientasi pada kegiatan 3R (reduse-reuse-recycle).
Kemudian, ia menambahkan bagaimana bisnis harus mendorong manusia-manusia di dalam bisnis tersebut untuk mempraktekkan gaya hidup berkelanjutan secara inklusif dan menularkan aksi mereka kepada masyarakat.
Sebagai perusahaan manufaktur, perusahaan tentu berkomitmen melakukan kegiatan produksi yang tidak memberikan dampak negatif pada lingkungan.
Maka dari itu mulai tahun 2020, TCID bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengelola sampah di area kantor perusahaan. Kerja sama ini dilakukan melalui program Zero Waste to Landfill.
Dengan adanya kerja sama itu perusahaan bisa memastikan bahwa seluruh sampah di area kantor perusahaan telah dikelola dengan bertanggung jawab dan tidak ada sampah yang dibuang ke TPA (tempat pemrosesan akhir).
Sementara itu, perseroan juga melakukan pengelolaan dampak lingkungan di beberapa lini yaitu energi, air dan limbah. Sumber energi perusahaan diperoleh dari listrik dan bahan bakar yang digunakan untuk kegiatan produksi dan operasional.
- Sambut Era Kendaraan Listrik (Serial 1): Indonesia Mulai Bangun Ekosistem EV di dalam Negeri
- HM Sampoerna Cetuskan Empat Pilar ESG untuk Komitmen dalam Pembangunan Indonesia
- Luhut Bangga Buka Perdagangan Bursa AS, Ada Bendera Merah Putih Terpampang di NYSE
Pada sektor konsumsi energi di tahun 2019 pemakaian listrik mencapai 27.113 kWh, angka tersebut jauh lebih besar daripada tahun 2020 yang menggunakan energi sebanyak 21.281 kWh dan naik tipis di tahun 2021 yaitu sebesar 22.840. Perhitungan energi diatas dilakukan dengan menghitung jumlah konsumsi listrik dan bahan bakar dalam satuan masing-masing.

Kemudian dalam hal mengelola limbah, perusahaan sadar sepenuhnya bahwa ada keterkaitan yang kuat dengan kegiatan industri yang dijalankan.
Oleh karena itu, perusahaan senantiasa menjalankan komitmen dalam pengelolaan limbah yang terdiri dari limbah cair dan padat dari kegiatan produksi serta limbah domestik dari kegiatan operasional di kantor dan pabrik TCID.
Untuk jumlah limbah produksi tercatat pada tahun 2019 dan 2020 tidak mengalami kenaikan ataupun penurunan di angka 1.629 ton. Kemudian, angka itu menurun pada tahun 2021 menjadi 1.389 ton.

"Dalam hal pengolahan limbah domestik, TCID saat ini sudah memulai langkah pemilahan sampah di lingkungan kantor pusat," ujar Hideki.
Ia menambahkan dengan menggandeng Waste4Change dalam program Zero Waste to Landfill, kerja sama yang diinisiasi pada 2019 ini merupakan langkah awal perusahaan dalam pengelolaan sampah yang benar-benar tidak memberikan dampak negatif pada lingkungan.
Melalui program tersebut, seluruh sampah di area kantor pusat TCID diproses agar tidak ada yang berakhir di TPA.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merilis Peraturan Menteri LHKNo.P.75/MenLHK/Setjen/Kum..1/10/2019 yang secara garis besar mendorong produsen untuk mengurangi sampah dengan capaian target 30% dibandingkan prediksi timbulan sampah tahun 2029.
Untuk mendukung rencana tersebut, TCID telah menyampaikan Laporan Perencanaan Pengurangan Sampah kepada KLHK dengan target pengurangan konsumsi resin plastik mencapai 30% di tahun 2029. Proses eksplorasi dan identifikasi dilakukan mulai tahun 2020 sampai 2022 dan kemudian implementasi inisiatif akan mulai dijalankan di tahun 2023.
Aspek Sosial dan Tata Kelola Perusahaan
Lalu dari aspek sosial atau manusia, TCID selalu berorientasi pada manusia. Bagi perusahaan, pengembangan manusia selalu menjadi perhatian utama. Manusia bisa memegang peranan penting dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan di masyarakat, menjadi penyeimbang antara ekonomi dan lingkungan.
Dalam bidang tata kelola perusahaan, bisnis harus memegang komitmen pada usaha berkelanjutan. Transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian dan kewajaran, semuanya bertujuan untuk mengelola perusahaan secara profesional dan tidak menyediakan ruang untuk proses pengambilan keputusan yang bias.

Yosi Winosa
Editor
