Buruh Protes THR Dicicil, Pan Brothers Ungkap Alasannya
Ribuan buruh pabrik tekstil PT Pan Brothers Tbk (PBRX) di Boyolali, Jawa Tengah melakukan unjuk rasa menolak pembayaran THR yang dicicil.

Drean Muhyil Ihsan
Author


Emiten tekstil dan garmen PT Pan Brothers Tbk (PBRX) / Dok. Perseroan
(Doc. Perseroan)JAKARTA – Ribuan buruh pabrik tekstil PT Pan Brothers Tbk (PBRX) di Boyolali, Jawa Tengah melakukan unjuk rasa pada Rabu, 5 Mei 2021. Mereka menolak kebijakan perseroan yang berencana menyicil Tunjangan Hari Raya (THR) pada Lebaran tahun ini.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Perusahaan Pan Brothers Iswar Deni menyatakan perseroan telah mengumumkan secara lisan kepada seluruh karyawan terkait kondisi arus kas. Perseroan mengaku melakukan pengetatan arus kas sehubungan dengan pemotongan modal kerja dari pihak perbankan.
Menurut manajemen, pemotongan ini membuat modal kerja tersisa hanya 10% dari kondisi sebelumnya. Bagi perseroan, ini sangat mengganggu arus kas di tengah kondisi sulit pandemi COVID-19.
- Mulai 25 Mei, Penumpang Grab Bisa Merasakan Perjalanan dengan Mobil Mewah
- Ini Penyebab Harga Minyak April 2021 Turun ke US$61,96 per Barel
- Terlibat Proyek Properti Mangkrak, Grup Bakrie Nunggak Utang Rp75 Miliar ke KFC
Demi menjaga kelangsungan pabrik supaya tetap bekerja penuh tanpa terjadi pengurangan pekerja, perusahaan perlu membagi berbagai arus dana pembayaran ke supplier dan pihak terkait lainnya. Salah satunya dengan melakukan pembayaran THR secara bertahap maksimal sebanyak lima kali.
“Jika likuiditas tersedia di mana pihak perbankan mengaktifkan sebagian fasilitas kami, pembayaran THR otomatis akan dipercepat dan terselesaikan paling lambat di bulan September 2021,” ujar Iswar melalui pengumuman Bursa, Kamis 6 Mei 2021.
Kondisi Operasional dan Keuangan
Manajemen mengungkapkan terkendala pada modal kerja, sedangkan dari sisi permintaan tetap terjaga. Fasilitas bilateral yang diterima PBRX dari perbankan saat ini tersisa 10% dibandingkan dengan awal 2020 sehingga membuat keterbatasan.
“Kami harus mengatur arus kas sebaik-baiknya agar semua berjalan dengan baik dan penjualan tidak berkurang, dan oleh karena itu tidak ada pengurangan tenaga kerja,” tambahnya.
Selain itu, perseroan akan tetap mengatur pembelian bahan baku, pembayaran ke supplier, gaji, biaya produksi, biaya operasional dan juga kewajiban bunga ke perbankan dan obligasi dengan arus kas yang ada.
- Mulai 25 Mei, Penumpang Grab Bisa Merasakan Perjalanan dengan Mobil Mewah
- Ini Penyebab Harga Minyak April 2021 Turun ke US$61,96 per Barel
- Terlibat Proyek Properti Mangkrak, Grup Bakrie Nunggak Utang Rp75 Miliar ke KFC
Pada kondisi sulit sepanjang 2020, perseroan masih mencatat pertumbuhan penjualan serta di bottom profit juga tetap bertumbuh dan lebih tinggi dari tahun 2019.
Manajemen meyakini, pada tahun ini akan mengalami pertumbuhan sekitar 10%-15% jika modal modal kerja tersedia seperti sebelumnya.
“Ini sejalan dengan adanya pengalihan order dari negara negara produsen lain. Namun ini tidak mungkin kami realisir jika modal kerja tidak tersedia,” imbuh manajemen.
Oleh karena itu, perseroan berharap adanya pemulihan fasilitas bilateral modal kerja bisa kembali didukung perbankan nasional. Sehingga PBRX dapat menyumbang pertumbuhan devisa melalui kenaikan ekspor dan dapat mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. (LRD)
