Nasional

Bank Dunia Beberkan Ancaman Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Apa Saja?

  • Bank Dunia memutuskan tidak merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 4,4% year on year (yoy) pada 2021. Padahal, Indonesia sedang mengalami lonjakan kasus COVID-19 memasuki Juni 2021.

Presiden Bank Dunia
Ilustrasi Bank Dunia. (Reuters)

JAKARTA – Bank Dunia memutuskan tidak merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 4,4% year on year (yoy) pada 2021. Padahal, Indonesia sedang mengalami lonjakan kasus COVID-19 memasuki Juni 2021.

Kendati Bank Dunia kokoh dengan proyeksinya, bukan berarti proyeksi tersebut bisa dengan mudah dicapai Indonesia. Kepala Ekonom Bank Dunia Habib Rab menyebut Indonesia perlu mewaspadai kondisi penyebaran COVID-19.

Hal itu menjadi syarat mutlak untuk mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini. Pengendalikan itu, kata Habib, perlu diimbangi dengan kecepatan vaksinasi COVID-19 sehingga perekonomian Indonesia bisa lebih tahan banting.

“Indonesia memiliki masalah penting dalam prioritas vaksinasi COVID-19. Setiap daerah, terutama dengan kasus yang tinggi, harus diprioritaskan dalam menghadapi pandemi di tahun ini,” kata Habib dalam dalam Peluncuran Buku Indonesia Economic Prospects – June 2021 Edition, Kamis, 17 Juni 2021.

Selain itu, tantangan besar yang mesti dihadapi Indonesia berasal dari dinamika perekonomian dunia yang bergerak cepat. Bank Dunia menyebut Indonesia perlu responsif dalam memantau pergerakan kebijakan ekonomi negara-negara maju sekaligus mitra seperti China dan Amerika Serikat.

Di tengah ekspansi ekonomi di negara tersebut, Bank Dunia mengatakan Indonesia harus memastikan kilau Surat Berharga Negara (SBN) yang jadi tumpuan pinjaman tetap dilirik investor. Hal ini bisa ditempuh dengan menjaga tingkat suku bunga serta menjaga inflasi di dalam negeri agar tetap terkendali.

Meski Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih harus defisit, kondisi itu tetap disarankan Bank Dunia untuk menopang perekonomian masyarakat menengah ke bawah.

Stimulus fiskal dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 itu diakui Bank Dunia cukup sukses meredam angka kemiskinan di tengah pandemi COVID-19.

Dorong Realisasi PEN Lebih Cepat

Kendati demikian, motor pemulihan ekonomi tersebut masih lambat realisasinya.  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan realisasi dana PEN per 8 Juni 2021 mencapai Rp209 triliun atau 29,9% dari pagu sebesar Rp699,43 triliun.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Randy menilai pemerintah perlu lebih tancap gas merealisasikan dana PEN 2021. Pasalnya, stimulasi dari PEN bisa mempercepat pulihnya daya beli dan konsumsi masyarakat berpendapatan rendah yang berimplikasi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Dana PEN itu sangat diperlukan bagi masyarakat ekonomi lemah untuk menopang kebutuhan harian dan konsumsinya. Karena banyak dari masyarakat ekonomi lemah yang masih terdampak secara pendapatan, ini perlu didorong terus realisasinya,” kata Yusuf kepada Trenasia.com belum lama ini.

Konsumsi rumah tangga memang jadi aspek terpenting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk diketahui, porsi konsumsi rumah tangga dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 56,9%.