Prediksi Tembus 300 Ribu Kasus COVID-19, IDEAS Dorong Bodetabek Juga PSBB Susul Jakarta
- Jika mudik Lebaran tidak dicegah secara optimal, lonjakan jumlah pasien positif virus corona diprediksi akan mencapai 300.000 kasus.

Aprilia Ciptaning
Author


Lembaga Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) mendorong pemerintah agar menetapkan karantina wilayah, utamanya di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek), serta menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Jawa lainnya.
Direktur IDEAS Yusuf Wibisono mengungkapkan, kebijakan tersebut sangat mendesak mengingat momentum Ramadan dan Idulfitri datang tak lama lagi.
“Banyak tradisi, seperti budaya silaturahmi, ziarah kubur jelang Ramadan, buka puasa bersama, salat tarawih, dan mudik yang menjadi ritual tahunan. Hal ini menjadi tantangan besar dalam upaya menahan ledakan COVID-19,” ungkapnya dalam siaran tertulis di Jakarta, Kamis, 9 April 2020.
Dalam situasi normal, lanjutnya, ia mengestimasi jumlah pemudik dari Jabodetabek kurang lebih sebanyak 10 juta orang. Rincian dari jumlah tersebut di antaranya 4,7 juta orang menuju Jawa Tengah, 2,8 orang menuju Jawa Barat, dan tujuan Jawa Timur sebanyak 1,3 juta.
Menurutnya, jika situasi tersebut tidak dicegah secara optimal, lonjakan jumlah pasien positif virus corona diprediksi akan mencapai 300.000 kasus.
Ia juga mengkritik bahwa kebijakan PSBB yang dilakukan di Jakarta saja tidak akan memadai.
IDEAS menilai, meski status darurat kesehatan berdasarkan Keppres No. 11/2020 telah diterapkan, namun pemerintah hanya memberlakukan PSBB melalui PP No. 21/2020.
Dengan perubahan kebijakan yang diimplementasikan secara terbatas dan lambat, pihaknya memproyeksikan jumlah kasus infeksi COVID-19 di Indonesia masih akan terus meningkat. Bahkan, dapat menembus 10.000 kasus pada hari ke-51 menjelang bulan Ramadan, yakni tanggal 24 April 2020, sedangkan pada hari ke-73 dapat menembus hingga 100.000 kasus.
Hal itu dikarenakan oleh pergerakan aktivitas perekonomian dan sosial warga Jabodetabek yang telah menyatu.
Pada tahun 2019, ungkapnya, terdapat 15,4 juta orang pekerja di Jabodetabek. Pergerakan intra daerah terbesar, yakni 4,4 juta pekerja yang bertempat tinggal dan sekaligus bekerja di Jakarta, diikuti Tangerang (2,8 juta), Bogor (2,5 juta), Bekasi (2,3 juta) dan Depok (613.000).
Sementara itu, pergerakan pekerja lintas daerah terbesar, yakni dari Bekasi ke Jakarta (520.000), diikuti Tangerang ke Jakarta (517.000), Depok ke Jakarta (371.000), dan Bogor ke Jakarta (234.000).
Dengan kepadatan penduduk Jabodetabek yang sangat tinggi, yakni pada kisaran 11.100 jiwa per km2, penyebaran COVID-19 dapat terjadi secara eksponensial.
“Dibutuhkan akselerasi dan penguatan kebijakan karantina di Jakarta dan wilayah sekitarnya demi melindungi lebih dari 34 juta warga Jabodetabek,” kata Yusuf.
Selain Jabodetabek, metropolitan lain yang diprediksi besar menjadi episentrum wabah berikutnya adalah koridor Bandung-Cimahi dengan kepadatan penduduk di kisaran 15.000 jiwa per km2, Yogyakarta (13.000), Surakarta (11.000), dan Surabaya-Mojokerto (8.000).
“Kebijakan pembatasan yang lebih keras, yaitu karantina wilayah, perlu diberlakukan pada metropolitan di luar Jawa yang berpotensi menjadi episentrum wabah,” jelas Yusuf. (SKO)
