Pendapatan Sektor Ritel Terancam Tergerus Hingga Rp200 Triliun Sepanjang 2020
- JAKARTA – Kondisi sulit akibat pandemi COVID-19 membuat penjualan sektor ritel sepanjang 2020 terancam merosot hingga 50% (year on year/yoy). Hal ini...

wahyudatun nisa
Author
JAKARTA – Kondisi sulit akibat pandemi COVID-19 membuat penjualan sektor ritel sepanjang 2020 terancam merosot hingga 50% (year on year/yoy). Hal ini berpotensi akan menghilangkan pendapatan sektor ritel hingga ratusan triliun.
Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan pendapatan ritel pada 2019 mencapai Rp450 triliun hingga Rp500 triliun. Dengan kondisi saat ini, pendapatan sektor ritel tahun 2020 bisa tergerus hingga Rp200 triliun.
- Jangan Liburan Ke Puncak, Selain Warga Lokal Wajib Putar Balik
- Perahu Berisi 20 Wisatawan Tenggelam di Waduk Kedung Ombo, 6 Orang Meninggal
- Anies Baswedan Tutup Ancol, Taman Mini, hingga Ragunan
- Airlangga Pede Ekonomi Kuartal II-2021 Tumbuh 7 Persen, Ini Alasannya
- Kebijakan Privasi Baru WhatsApp Mulai Berlaku, Ini yang Akan Terjadi Jika Anda Tidak Segera Menyetujuinya
“Di tahun ini kami belum punya gambaran. Tapi, dengan kondisi 50% drop, kami bisa kehilangan Rp200 triliun. Kehilangan uang berputar sebesar itu,” kata Budihardjo di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2020.
Budihardjo mengaku kinerja sektor ritel sempat bergerak positif setelah kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilonggarkan pada Juli hingga Agustus 2020. Namun, mulai September 2020 sampai awal Oktober 2020 kinerja peritel kembali melemah.
Oleh karena itu, untuk mendongkrak kinerja sektor ini pemerintah diharapkan dapat mempercepat pemberian stimulus. Misalnya, peningkatan daya beli masyarakat, subsidi gaji untuk pedagang eceran, subsidi pajak, atau bantuan alat protokol kesehatan bagi peritel kecil.
“Pemerintah bisa memberikan bantuan kepada yang belum melakukan protokol kesehatan, seperti pedagang kecil, UMKM, dan warung. Mungkin mereka tidak bisa lagi mengeluarkan biaya untuk membeli antiseptik, masker, dan termometer,” ujarnya.
Menurut dia, pemulihan kesehatan merupakan kunci dan fokus utama saat ini. Sebab, perekonomian dapat bergerak maju jika masalah kesehatan saat ini bisa teratasi dengan baik.
